Lima Malam Warga Sungai Paring Tidur di Atas Tanah Bergantian Demi Menyelamatkan Satu-Satunya Sumber Penghidupan dari Karhutla

- Jurnalis

Jumat, 28 Agustus 2026 - 09:41 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Supersemar News – Suara langkah kaki dan sayup-sayup obrolan terdengar dari balik gelapnya hutan di malam hari. Warga bermalam selama lima hari beralaskan tanah dan akar pohon untuk menjaga satu-satunya sumber pencaharian mereka. Rona merah dari kejauhan menandakan api karhutla masih mengintai. Sumber air mengering, mereka terpaksa berjalan ratusan meter untuk mendapatkan air menghalau api yang terus melumat kebun mereka.
‎
‎​Ahmad Winardi
‎
‎​MALAM kembali turun di kawasan Sungai Paring dan Luwuk Bunter. Di tengah gelap yang hanya diterangi cahaya bara dan kepulan asap kebakaran hutan dan lahan, sejumlah warga masih bertahan di kebun mereka. Tidak ada kasur, tidak ada tenda, bahkan sebagian tidak memiliki tikar. Akar-akar pohon dan tanah kering menjadi tempat mereka merebahkan badan setelah seharian berjibaku melawan api.
‎
‎​Sudah lima hari lima malam mereka hidup di tengah kepungan asap. Baju yang dipakai sejak pagi melekat di badan karena keringat dan debu. Waktu tidur pun tidak pernah benar-benar cukup, nafsu makanpun tak ada. Dalam semalam, mereka hanya sempat memejamkan mata bergantian sekitar satu hingga dua jam sebelum kembali bangun untuk berpatroli.
‎
‎​Setiap malam mereka berjalan kaki mengelilingi lahan yang tersisa, memastikan tidak ada bara yang kembali menyala. Jarak yang ditempuh tidak sedikit. Ada yang harus berputar hingga 20 sampai 30 kilometer menyusuri kebun sawit dan karet yang sebagian telah hangus terbakar.
‎
‎​”Bila lengah sedikit saja, api bisa muncul lagi. Jadi kami tidak berani tidur lama,” ujar Dayat, salah satu warga yang bertahan menjaga lahannya, Jumat 28 Agustus 2026.
‎
‎​Di sela kelelahan itu, kondisi Dayat sedang kurang sehat. Namun ia tetap datang ke lokasi setiap hari. Baginya, kebun yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga tidak boleh dibiarkan tanpa penjagaan.
‎
‎​”Lelah juga, tapi kalau tidak dijaga siapa lagi? Kebun ini yang menghidupi keluarga,” kata Dayat.
‎
‎​Bagi warga, kebun sawit dan karet bukan sekadar hamparan tanaman. Di sanalah biaya sekolah anak, kebutuhan dapur, hingga masa depan keluarga digantungkan.
‎
‎​Bahkan salah satu warga mengaku itu sebagai sumber penghasilan satu-satunya mereka. Karena itu mereka memilih bertahan meski tubuh mulai kehabisan tenaga.
‎
‎​Taufik, warga lainnya, bahkan sudah beberapa hari tidak bekerja. Seluruh waktunya dihabiskan untuk menjaga kebun dari ancaman api.
‎
‎​”Kalau begini tak bisa ditinggal, pasti habis semua, terpaksa kami bermalam,” ujarnya.
‎
‎​Penderitaan warga tidak berhenti saat api mulai padam di permukaan. Setiap pagi mereka harus kembali menyiram titik-titik yang masih mengeluarkan asap. Bara yang tersimpan di bawah permukaan tanah gambut bisa kembali menyala sewaktu-waktu.
‎
‎​Persoalan terbesar adalah air. Sumber air berada jauh dari lokasi kebakaran. Warga harus mengambil air dari parit atau sumber terdekat yang jaraknya ratusan meter hingga beberapa kilometer dari titik api. Dengan peralatan seadanya, mereka bolak-balik mengangkut air untuk menyelamatkan lahan yang tersisa.
‎
‎​Di tengah perjuangan itu, sebagian warga mengaku kecewa karena merasa berjuang sendirian.
‎
‎​”Kami berharap ada bantuan. Sampai sekarang kami berjaga sendiri,” kata Indra warga lainnya yang juga menjaga lahan.
‎
‎​Tidak ada yang tahu kapan perjuangan itu berakhir. Namun selama bara masih tersisa, mereka memilih tetap berada di sana.
‎
‎​Tidur di atas tanah, beralaskan akar pohon, menahan asap dan gigitan nyamuk, demi menyelamatkan satu-satunya sumber penghidupan keluarga mereka dari amukan api.

Baca Juga :  RELAWAN PRO PURBAYA 2029 KABUPATEN BOGOR RESMI DIBENTUK, SIAP BERGERAK UNTUK MASYARAKAT
Follow WhatsApp Channel supersemarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

MGMP GEOGRAFI SMA–MA MEANDER KAB.KOTAWARINGIN TIMUR PERKUAT KOMPETENSI GURU MELALUI DIGITALISASI PEMBELAJARAN DAN PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE
Kabut Asap Menguning, Orang Tua Sayangkan Sekolah Masih Gelar Tatap Muka
Menhut RI Raja Juli Direncanakan Tinjau Karhutla di Kotim
Kapolda Jatim Dekananto Eko Purwono Prioritaskan Pelayanan Humanis dan Pemberantasan Narkoba
Komisi VIII DPR RI dan Menteri Haji Sepakati BPIH 2027 Rata-Rata Rp98,47 Juta per Jemaah
Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla, Lanud Sjamsudin Noor Bersama Satgas Gabungan Lakukan Pemadaman di Gambut
6 Irjen Pol Dapat Penugasan Baru ke Lemdiklat Dalam Mutasi Polri Terbaru, Ini Daftar Namanya
Prabowo Belum Konfirmasi Hadiri MotoGP Mandalika 2026
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:27 WIB

MGMP GEOGRAFI SMA–MA MEANDER KAB.KOTAWARINGIN TIMUR PERKUAT KOMPETENSI GURU MELALUI DIGITALISASI PEMBELAJARAN DAN PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Kabut Asap Menguning, Orang Tua Sayangkan Sekolah Masih Gelar Tatap Muka

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:37 WIB

Menhut RI Raja Juli Direncanakan Tinjau Karhutla di Kotim

Senin, 12 Oktober 2026 - 05:01 WIB

Kapolda Jatim Dekananto Eko Purwono Prioritaskan Pelayanan Humanis dan Pemberantasan Narkoba

Senin, 12 Oktober 2026 - 04:52 WIB

Komisi VIII DPR RI dan Menteri Haji Sepakati BPIH 2027 Rata-Rata Rp98,47 Juta per Jemaah

Berita Terbaru

Berita utama

Menhut RI Raja Juli Direncanakan Tinjau Karhutla di Kotim

Senin, 12 Okt 2026 - 08:37 WIB