Longsor TPST Bantargebang: 7 Tewas, Operasi SAR Resmi Ditutup

- Jurnalis

Rabu, 11 Maret 2026 - 17:13 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Tim SAR gabungan mengevakuasi korban meninggal dunia akibat longsor sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, setelah tertimbun gunungan sampah di Zona 4. Operasi pencarian melibatkan ratusan personel hingga akhirnya seluruh korban berhasil ditemukan.

13 Orang Jadi Korban, Enam Selamat dari Bencana Longsor Sampah

SUPERSEMAR NEWS – BEKASI – Operasi pencarian korban longsor sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang akhirnya resmi ditutup oleh tim SAR gabungan setelah seluruh korban berhasil ditemukan. Peristiwa tragis yang terjadi di Zona 4 TPST Bantargebang, Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, itu menelan korban jiwa dan memicu perhatian publik terhadap aspek keselamatan kerja di area pengelolaan sampah terbesar di Indonesia tersebut.

Berdasarkan data resmi tim penyelamat, total 13 orang menjadi korban dalam peristiwa longsor ini. Dari jumlah tersebut, tujuh orang ditemukan meninggal dunia, sementara enam orang lainnya berhasil selamat dari timbunan sampah yang longsor.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menyatakan operasi SAR dihentikan setelah seluruh korban berhasil ditemukan dan tidak ada lagi laporan orang hilang.

“Pukul 00.00 WIB, dengan ditemukannya seluruh korban dan tidak adanya laporan korban hilang maka operasi SAR dinyatakan ditutup,” ujar Desiana dalam keterangan resmi, Selasa (10/3).

Namun demikian, tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban sekaligus menimbulkan pertanyaan serius mengenai standar keselamatan di lokasi pengelolaan sampah berskala besar tersebut.

Kronologi Longsor Sampah di TPST Bantargebang

Peristiwa longsor terjadi di kawasan Zona 4 TPST Bantargebang, salah satu area penimbunan sampah terbesar yang setiap hari menerima ribuan ton limbah dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Menurut informasi yang dihimpun Supersemar News, longsoran sampah terjadi ketika sejumlah pekerja dan pemulung berada di sekitar lokasi. Tumpukan sampah yang menggunung tiba-tiba bergerak dan runtuh, sehingga menimbun sejumlah orang yang berada di bawahnya.

Situasi di lokasi langsung berubah menjadi kepanikan. Para saksi menyebutkan suara gemuruh terdengar sebelum gunungan sampah longsor dan menutup area di sekitarnya.

Beberapa korban berhasil menyelamatkan diri. Namun sayangnya, sebagian lainnya terjebak di bawah timbunan sampah yang sangat tebal.

Tak lama kemudian, tim SAR gabungan langsung dikerahkan untuk melakukan proses pencarian dan penyelamatan.

Baca Juga :  Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Masih Butuh Retrofit, Disesuaikan dengan Kebutuhan TNI AL

Operasi SAR Besar-Besaran Libatkan 336 Personel

Proses pencarian korban berlangsung dramatis dan penuh tantangan. Tim SAR harus menghadapi medan yang sulit karena struktur timbunan sampah tidak stabil dan berpotensi longsor kembali.

Untuk mempercepat proses pencarian, tim gabungan mengerahkan berbagai peralatan modern.

Di antaranya:

  • Alat berat untuk membuka akses timbunan sampah
  • Anjing pelacak K9 untuk membantu mendeteksi keberadaan korban
  • Drone thermal untuk mencari sumber panas tubuh manusia di bawah timbunan

Menurut Desiana, penggunaan teknologi tersebut sangat membantu mempercepat pencarian.

“Penyisiran juga dilakukan melalui udara menggunakan drone thermal untuk mendeteksi panas tubuh korban,” jelasnya.

Selain itu, operasi SAR juga melibatkan koordinasi intensif antara berbagai lembaga.

Sebanyak 336 personel gabungan diterjunkan dalam operasi tersebut, terdiri dari:

  • Basarnas
  • BPBD
  • TNI
  • Polri
  • Dinas Pemadam Kebakaran
  • Relawan kemanusiaan

Kerja sama lintas instansi ini menjadi kunci utama keberhasilan operasi pencarian korban.

Korban Ditemukan Bertahap

Selama proses pencarian yang berlangsung hingga larut malam, tim SAR menemukan korban secara bertahap di berbagai titik timbunan sampah.

Korban pertama yang ditemukan pada hari pencarian adalah Jussova Situmorang (38).

Korban ditemukan pada pukul 12.05 WIB dalam kondisi meninggal dunia dan langsung dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Beberapa jam kemudian, tim kembali menemukan korban lain.

Pada pukul 17.50 WIB, korban bernama Hardianto ditemukan di pinggir kali dalam kondisi tertimbun sampah.

Tim kemudian melanjutkan pencarian hingga malam hari.

Akhirnya pada pukul 23.30 WIB, korban terakhir bernama Riki Supriadi (40) berhasil ditemukan. Sayangnya korban juga ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Seluruh korban meninggal dunia kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut.

Dampak Sosial bagi Keluarga Korban

Tragedi longsor sampah ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban.

Sebagian korban diketahui bekerja sebagai pemulung yang setiap hari mencari nafkah di kawasan TPST Bantargebang.

Bagi mereka, lokasi tersebut bukan sekadar tempat pembuangan sampah, melainkan juga sumber penghidupan.

Namun demikian, kondisi kerja yang penuh risiko sering kali membuat para pekerja informal di area tersebut rentan terhadap kecelakaan.

Baca Juga :  Kapolri Suyudi Rotasi 88 Pati dan Pamen, 19 Kapolda Berganti

Peristiwa ini kembali membuka diskusi publik mengenai perlindungan keselamatan bagi para pemulung dan pekerja di kawasan pengolahan sampah.

TPST Bantargebang: Gunung Sampah Terbesar di Indonesia

Sebagai informasi, TPST Bantargebang merupakan tempat pembuangan sampah terbesar di Indonesia.

Setiap hari, kawasan ini menerima lebih dari 7.000 ton sampah yang berasal dari wilayah DKI Jakarta.

Timbunan sampah di lokasi ini bahkan membentuk “gunung” yang tingginya mencapai puluhan meter.

Karena volume sampah yang sangat besar, potensi longsor sebenarnya selalu menjadi ancaman serius.

Para ahli lingkungan menyebutkan bahwa stabilitas timbunan sampah sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya:

  • curah hujan tinggi
  • pergerakan alat berat
  • kepadatan sampah
  • aktivitas manusia di sekitar lokasi

Apabila tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat memicu longsor yang berbahaya.

Evaluasi Sistem Keamanan TPST

Tragedi ini mendorong berbagai pihak untuk melakukan evaluasi terhadap sistem keselamatan di TPST Bantargebang.

Beberapa pengamat lingkungan menilai perlu adanya penataan ulang sistem pengelolaan sampah agar lebih aman.

Langkah-langkah yang dinilai penting antara lain:

  1. Penataan zona kerja yang lebih ketat
  2. Pengawasan aktivitas pemulung di area berbahaya
  3. Pemasangan sistem pemantauan pergerakan timbunan sampah
  4. Peningkatan sistem peringatan dini longsor

Selain itu, pemerintah daerah juga didorong untuk memperkuat program pengelolaan sampah berbasis daur ulang dan pengurangan sampah dari sumbernya.

Dengan demikian, volume sampah yang masuk ke TPST dapat ditekan sehingga risiko longsor bisa diminimalkan.

Perhatian Serius Pemerintah

Pemerintah daerah dan instansi terkait kini memberikan perhatian serius terhadap tragedi ini.

Selain membantu proses pemulihan bagi keluarga korban, pemerintah juga berkomitmen melakukan investigasi terhadap penyebab longsor.

Investigasi tersebut diharapkan dapat mengungkap faktor utama yang memicu runtuhnya timbunan sampah di Zona 4.

Hasil investigasi nantinya akan menjadi dasar perbaikan sistem pengelolaan di TPST Bantargebang.

Kesimpulan

Tragedi longsor di TPST Bantargebang menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah berskala besar memiliki risiko yang tidak kecil.

Meski operasi SAR telah berhasil menemukan seluruh korban, peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban sekaligus menjadi alarm bagi pemerintah dan pengelola fasilitas.

Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan, tata kelola sampah, serta perlindungan bagi pekerja di lapangan menjadi langkah mendesak untuk mencegah tragedi serupa terjadi di masa depan.

Dengan sistem pengelolaan yang lebih aman dan modern, diharapkan kawasan TPST Bantargebang tidak lagi menjadi lokasi rawan bencana bagi masyarakat yang menggantungkan hidup di sana.***(SB)

SupersemarNewsTeam

Follow WhatsApp Channel supersemarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolda Metro Jaya Pimpin Rapat Konsolidasi, Perkuat Antisipasi Gangguan Kamtibmas di Jakarta
Kapolda Metro Jaya Pimpin Apel Green Policing, Perkuat Sinergi Polri dan Masyarakat
Kodam XXIX/Mambruk Resmi Berdiri di Nabire, Perkuat Pertanahan dan Pengabdian TNI AD di Papua Tengah
Kecelakaan di Simpang Pelita-Suprapto Sampit, Yamaha Lexi Rusak Parah Usai Terseret Truk CPO
Prajurit Korps Marinir Gempur Pantai Banongan dalam Operasi Amfibi Keris Woomera 2026
Marinir Indonesia Bekali Prajurit Australia Teknik Bertahan Hidup di Hutan
Dampak Ekonomi MotoGP Mandalika 2026 Capai Rp 5,2 Triliun, Naik 4,8 Persen
Perkuat Struktur Komando, KSAD Pimpin Sertijab 5 Pangdam dan Alih Kodal 6 Korem
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Kapolda Metro Jaya Pimpin Rapat Konsolidasi, Perkuat Antisipasi Gangguan Kamtibmas di Jakarta

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:10 WIB

Kapolda Metro Jaya Pimpin Apel Green Policing, Perkuat Sinergi Polri dan Masyarakat

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:46 WIB

Kodam XXIX/Mambruk Resmi Berdiri di Nabire, Perkuat Pertanahan dan Pengabdian TNI AD di Papua Tengah

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:45 WIB

Kecelakaan di Simpang Pelita-Suprapto Sampit, Yamaha Lexi Rusak Parah Usai Terseret Truk CPO

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:43 WIB

Prajurit Korps Marinir Gempur Pantai Banongan dalam Operasi Amfibi Keris Woomera 2026

Berita Terbaru