Ilustrasi Mohammad Hoesni Thamrin, pahlawan Betawi visioner, menegaskan kesinambungan perjuangan dari Volksraad 1927 hingga era smart city—loyal pada akar budaya, tajam dalam data dan teknologi, serta kuat dalam kolaborasi untuk masa depan Jakarta dan Generasi Z.

SUPERSEMAR NEWS – Jakarta

Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi budaya digital, Indonesia sesungguhnya memiliki figur teladan yang pemikirannya melampaui zamannya. Salah satunya adalah Mohammad Hoesni Thamrin, pahlawan nasional asal Betawi yang bukan hanya berjuang melawan kolonialisme Belanda, tetapi juga merumuskan model perjuangan rasional, berbasis data, dan kolaboratif—sesuatu yang justru sangat relevan dengan tantangan Generasi Z saat ini.

Artikel ini mengulas secara mendalam jejak sejarah, strategi perjuangan, serta relevansi pemikiran MH Thamrin dalam konteks Jakarta modern dan Indonesia masa depan.

Lahir dari Akar Rakyat, Tumbuh Menjadi Simbol Perlawanan Intelektual

Potret Mohammad Hoesni Thamrin, pahlawan Betawi visioner, merekam wajah perlawanan intelektual yang memilih jalur parlemen, data, dan diplomasi untuk membela rakyat dari penindasan kolonial.

Mohammad Hoesni Thamrin lahir di Batavia, 16 Februari 1894. Meski berasal dari keluarga terpandang, Thamrin tidak pernah mencabut dirinya dari realitas rakyat kecil. Ia hidup berdampingan dengan masyarakat Betawi, menyerap langsung problem sosial seperti banjir Sungai Ciliwung, kemiskinan, dan diskriminasi rasial.

👉 Terkait sejarah Batavia, lihat arsip di
🔗 https://www.perpusnas.go.id
🔗 https://www.arsipnasional.go.id

Masuk Sistem untuk Mengubah Sistem

Berbeda dengan banyak tokoh pergerakan yang memilih jalur konfrontatif, MH Thamrin mengambil jalan strategis dan cerdas. Pada 1919, di usia 25 tahun, ia masuk Gemeenteraad (Dewan Kota Batavia).

Alih-alih menjadi simbol kosong, Thamrin aktif mengajukan:

  • Usulan penanggulangan banjir berbasis data
  • Kritik tata kota kolonial yang diskriminatif
  • Kebijakan perumahan rakyat pribumi

Langkah ini menjadikan Thamrin sebagai arsitek kebijakan kota jauh sebelum istilah urban planning populer di Indonesia.

Visual kerja delegasi di ruang teknologi modern ini merepresentasikan transformasi perjuangan dari era MH Thamrin—dari parlemen kolonial menuju pengabdian berbasis sistem, data, dan akuntabilitas.

Volksraad dan Bahasa Indonesia sebagai Senjata Politik

Pada 1927, Thamrin melangkah lebih jauh dengan menjadi anggota Volksraad, parlemen Hindia Belanda. Puncak keberaniannya terjadi pada 1938, ketika ia secara terbuka menggunakan Bahasa Indonesia dalam forum resmi kolonial.

Langkah ini bukan sekadar simbol linguistik, tetapi:

  • Pernyataan identitas nasional
  • Penolakan terhadap dominasi kolonial
  • Fondasi politik kebangsaan modern

Ia juga membongkar praktik eksploitasi kuli kontrak dengan paparan faktual yang mengguncang nurani internasional.

🔗 Referensi Volksraad:
https://www.nationaalarchief.nl

Investasi Sosial: Politik yang Membumi dan Berdampak Nyata

MH Thamrin bukan politisi retoris. Ia menginvestasikan hartanya sendiri untuk kepentingan publik:

  • Membeli Gedung Permufakatan sebagai pusat konsolidasi gerakan
  • Menyumbang 2.000 gulden untuk pembangunan Lapangan VIJ
  • Melawan kebijakan “Verboden voor Inlanders” secara nyata

Tindakan ini mencerminkan politik berbasis solusi, bukan sekadar wacana.

Visual delegasi dengan atribut kerja ini mencerminkan transformasi perjuangan: dari ruang parlemen MH Thamrin hingga kerja profesional lintas sektor yang mengutamakan kepentingan rakyat.

GAPI: Politik Persatuan, Bukan Fragmentasi

Pada 1939, Thamrin berperan besar dalam pembentukan Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Ia menyadari bahwa perjuangan yang terpecah tidak akan menghasilkan perubahan struktural.

Visinya jelas:

Persatuan nasional adalah prasyarat kemerdekaan.

Relevansi MH Thamrin bagi Generasi Z

Di era digital, semangat MH Thamrin justru menemukan momentumnya.

1. Budaya sebagai Identitas Digital

Generasi Z dapat menghidupkan budaya Betawi melalui:

  • Podcast sejarah lokal
  • Konten AR/VR budaya Betawi
  • Platform edukasi bahasa Betawi

Budaya bukan nostalgia, tetapi ekosistem hidup.

2. Perjuangan Berbasis Data dan Teknologi

Thamrin memperjuangkan kota dengan data. Generasi Z dapat melanjutkan dengan:

  • AI prediksi banjir
  • IoT pemantauan lingkungan
  • Urban analytics untuk kebijakan publik

Inilah Thamrin 4.0.

3. Startup Sosial sebagai Gedung Permufakatan Baru

Semangat investasi sosial Thamrin relevan dengan:

  • Startup berbasis dampak
  • Co-working space komunitas
  • Platform kolaborasi lintas sektor

Politik hari ini adalah inovasi sosial yang berkelanjutan.

Visual delegasi berseragam dengan identitas kerja ini mencerminkan kesinambungan semangat pengabdian ala MH Thamrin: perjuangan yang tidak retoris, tetapi hadir melalui aksi, struktur, dan dedikasi profesional.

Wafat dalam Tahanan, Hidup dalam Sejarah

MH Thamrin wafat pada 11 Januari 1941 dalam status tahanan rumah oleh pemerintah kolonial. Namun, ribuan rakyat mengiringi kepergiannya—menjadi bukti bahwa gagasan tidak bisa dipenjara.

Kini, nama Thamrin diabadikan sebagai:

  • Jalan utama Jakarta
  • Simbol nasionalisme rasional
  • Inspirasi perjuangan beradab

Penegasan Redaksi

MH Thamrin bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah model pemimpin masa depan: berpikir global, bertindak lokal, dan berpihak pada rakyat.

Jakarta modern membutuhkan lebih banyak “Matseni-Matseni baru”—Generasi Z yang:

  • Menguasai teknologi
  • Memahami akar budaya
  • Berani masuk sistem untuk mengubah sistem

SUPERSEMAR NEWS menegaskan:
Perjuangan MH Thamrin belum selesai. Ia hanya berpindah tangan.

Dan kini, estafet itu berada di tangan generasi hari ini.***(SB)

SupersemarNewsTeam