Kebersamaan peserta Pelatihan 3T: Tanam, Tumbuh, Tuai di Kampung Sukagalih terlihat kuat dalam foto ini, ketika para anggota KWT Melati berdiri serempak sambil membawa buku herbal dan membentangkan banner pelatihan sebagai simbol komitmen mereka mengembangkan potensi tanaman herbal desa.

SUPERSEMAR NEWS – Kampung Sukagalih kembali menunjukkan langkah strategis dalam memperkuat potensi lokal melalui pengembangan tanaman herbal yang telah lama tumbuh alami dan menjadi bagian dari budaya masyarakat. Melalui program Pelatihan 3T: Tanam, Tumbuh, Tuai, kampung ini mulai menetapkan arah baru menuju ekowisata edukatif yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan perempuan.

Kegiatan ini digagas oleh Cindy Aurellia Liwang, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) (https://umn.ac.id), sebagai proyek pengabdian masyarakat yang berfokus pada pelestarian kearifan lokal. Ia menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, kelompok perempuan yang selama ini aktif dalam pengelolaan pekarangan dan tanaman obat keluarga.

Pemberdayaan Perempuan Lewat Pelatihan Herbal 3T

Pelatihan yang diikuti 26 anggota KWT Melati ini menghadirkan Yanto Iwan, tour guide Ekowisata Sukagalih dan praktisi herbal dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Ia memberi penjelasan mengenai pengenalan tanaman herbal, teknik penanaman, kebutuhan cahaya, media tanam, hingga cara merawat tanaman agar tumbuh optimal.

Dalam sesi ini, peserta dilatih memahami karakter setiap tanaman melalui pendekatan praktis. Penjelasan disajikan dengan metode interaktif untuk memastikan seluruh peserta benar-benar memahami prinsip dasar pengelolaan herbal.

Selain itu, peserta juga melakukan sesi cicip herbal, sebuah kegiatan yang membuat mereka semakin mengenal aroma, rasa, dan manfaat herbal. Beberapa ramuan yang disajikan merupakan tanaman lokal khas desa, menunjukkan besarnya kekayaan hayati Kampung Sukagalih.

Membedah Buku “Lestari Herbal Urang Desa”

Salah satu sesi paling penting adalah pembedahan buku “Lestari Herbal Urang Desa”, karya dokumentasi mahasiswa UMN yang berisi sejarah, manfaat, dan cara pengolahan tanaman herbal di desa tersebut. Buku ini menjadi bukti kuat bahwa pengetahuan masyarakat tidak boleh hilang seiring perkembangan zaman, melainkan perlu diarsipkan sebagai warisan budaya lokal.

Peserta diajak memahami kembali identitas kampung mereka yang kaya pengetahuan tradisional tentang jamu dan herbal, serta bagaimana pengetahuan itu dapat dikembangkan menjadi potensi ekonomi berkelanjutan.

Suara Perempuan: “Kami Jadi Lebih Berdaya”

Ketua KWT Melati, Piah, menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi momentum penting bagi kelompok perempuan.

“Pelatihan ini membuat kami para perempuan merasa lebih berdaya. Kami jadi tahu cara mengolah herbal sendiri dan memanfaatkan apa yang sudah ada di sekitar kami,” ujarnya.

Piah juga menambahkan bahwa pengetahuan baru ini membuka peluang usaha berbasis herbal yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

One Day Tour: Halimun Eco Track Jadi Ajang Implementasi

Setelah pelatihan, program dilanjutkan dengan kegiatan One Day Tour: Halimun Eco Track pada 15 November 2025, yang menjadi ajang praktik langsung penanaman herbal bersama pengunjung.

Dalam kegiatan ini, 13 anggota KWT Sukagalih menjadi pemandu utama. Mereka menjelaskan jenis-jenis tanaman herbal, kandungan, fungsi, serta cara penanaman kepada peserta tour. Hal ini menunjukkan peningkatan kapasitas KWT dalam hal literasi lingkungan dan edukasi publik.

Kegiatan ini juga memperkuat konsep ekowisata partisipatif, di mana pengunjung tidak hanya melihat, tetapi ikut menanam dan memahami nilai ekologis tanaman herbal.

Peningkatan Kapasitas, Identitas Lokal, dan Potensi Ekonomi

Melalui seluruh rangkaian kegiatan ini, Kampung Sukagalih menegaskan arah pembangunan berbasis:

  • kemandirian masyarakat,
  • pelestarian budaya lokal,
  • pemberdayaan perempuan,
  • pendidikan ekowisata, dan
  • pengembangan produk herbal desa.

Ke depan, potensi ini berpeluang dikembangkan menjadi produk turunan seperti teh herbal, minyak atsiri, hingga paket wisata edukasi yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.

Dengan demikian, program ini bukan hanya kegiatan sesaat, tetapi langkah strategis memperkuat identitas lokal sekaligus menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.***(SB)

SupersemarNewsTeam