
Sampit, Supersemar News – Cerita kerusakan jalan kota yang dikaitkan dengan seringnya lintasan angkutan berat, nyaris selalu mengemuka setiap tahun di Kotawaringin Timur (Kotim). Wakil rakyat di DPRD Kotim silih berganti menyoroti kondisi tersebut dan mendesak pemerintah untuk bertanggung jawab.
Bima Santoso, anggota Komisi IV DPRD Kotim periode 2019-2024, pada Agustus 2022 lalu pernah mengatakan, belum jelasnya penanganan jalan lingkar selatan berpotensi membuat amarah warga memuncak.
Pasalnya, selama ruas itu rusak parah, angkutan berat bakal terus melenggang dalam Kota Sampit. Bima menuturkan, kegelisahan masyarakat semakin tidak terbendung. Apalagi angkutan yang melintas berbobot besar. Di atas 10 ton.
Bahkan, ada yang sampai sekitar 18 ton. Monster jalanan tersebut akan semakin menambah kerusakan jalan kota serta sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan lainnya.
”Jangan sampai masyarakat yang turun tangan mengambil tindakan, karena masyarakat yang merasa kesulitan kalau jalan dalam kota rusak,” tegasnya.
Pemkab Kotim bukannya berpangku tangan. Berkali-kali pemerintah mengajak perusahaan untuk bersama-sama memelihara agar ruas itu tetap fungsional.
Meski kesepakatan terealisasi, namun ketahanan jalan dari upaya penimbunan tak sampai setengah tahun. Lubang kerusakan selalu menghiasi jalan tersebut di beberapa titik. Alhasil, ”raksasa jalanan” kembali ramai-ramai melenggang dalam perkotaan. Trafiknya kian tinggi. Upaya Dinas Perhubungan Kotim mengimbau, melarang, hingga menjaga agar truk tak masuk kota selalu sia-sia. Truk masih bebas melenggang ketika tak ada petugas jaga di titik masuk kota.
Tingginya lalu lintas truk berdampak buruk. Selain merusak jalan, tak jarang truk mengalami kecelakaan tunggal, terperosok akibat ukurannya yang besar dan berat. Kondisi itu membuat fasilitas pemerintahan dan publik rusak. Perumdam Tirta Mentaya Kotim dibuat kerepotan, karena beberapa kali kejadian itu membuat pipa rusak.
Pelanggan air minum menjadi korban. Selain aliran yang macet, kualitas air memburuk karena bercampur lumpur. Perlu lebih sehari sampai kondisi itu normal kembali. Lalu lintas truk yang menyebabkan fasilitas rusak paling disorot pernah terjadi 12 Juli 2024 lalu.
Sebuah truk mengangkut alat berat menabrak tiang traffic light di persimpangan Jalan Pelita – Jalan HM Arsyad. Kerugian akibat kejadian itu mencapai sekitar Rp300 juta lebih. Meski perusahaan akhirnya bertanggung jawab, kejadian itu tak lepas dari tingginya lalu lintas truk di jalanan Kota Sampit akibat belum beresnya jalur lingkar selatan.(Redaksi)
