JAKARTA, Supersemar News – Dampak ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran mulai merembet ke sektor ekonomi masyarakat di Negeri Paman Sam.

‎Bakar Minyak (BBM) menjadi sektor yang paling terdampak,  harganya dilaporkan mengalami lonjakan drastis hingga puluhan persen.

‎Hal itu diungkapkan oleh Soeko Prasestyo orang Indonesia asal Solo yang kini sudah menetap di Amerika selama 55 tahun saat berbincang dalam program On Focus Tribunnews.com, Kamis (2/4/2026).

‎Soeko menceritakan di kota tempat tinggalnya, New York, kenaikan harga BBM sudah menembus angka 40 persen.

‎”Kelangkaan (BBM) memang tidak ada tetapi memang harga BBM itu naik kira-kira 40 persen. Yang tadinya sudah 2 dolar 99 sen di New York, sekarang menjadi 3 dolar 67 sen,” kata Soeko.

‎Kenaikan ini, menurut Soeko, juga mulai diikuti oleh naiknya harga bahan-bahan makanan di supermarket, meski tidak se-ekstrem kenaikan harga minyak.

‎Namun yang menarik perhatian Soeko adalah sikap pemerintah Amerika Serikat yang sangat kontras dengan kebijakan di Indonesia saat menghadapi gejolak harga energi.

‎Menurutnya, meski harga BBM melambung tinggi, tidak ada instruksi atau kampanye khusus dari pemerintah AS untuk mengajak warganya berhemat.

‎”Tidak ada imbauan untuk hemat bahan bakar seperti yang dilakukan Indonesia. Di sini tenang-tenang saja rakyatnya,” ungkap Soeko.

‎Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa masyarakat Amerika justru cenderung menyikapi kenaikan ini melalui kacamata politik masing-masing kubu.

‎Sementara kubu Partai Republik tetap percaya diri dengan status Amerika sebagai negara terkaya.

“Tergantung dari warga atau golongan Republik atau Demokrat. Kalau Demokrat tentu saja dibesarkan, wah ini kita akan bangkrut. Tapi kalau dari Republik, ‘ah kita masih mampu, kita kan negara terkaya di dunia’,” pungkasnya.

(Dasen CM)