
SUPERSEMAR NEWS — Jakarta — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis moneter 1998 meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam pada perdagangan awal pekan. Pemerintah menilai fundamental ekonomi nasional masih berada dalam kondisi solid dan terkendali di tengah gejolak pasar global.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar setelah rupiah sempat menyentuh level Rp17.630 per dolar AS dan IHSG anjlok lebih dari 3 persen dalam sesi perdagangan Senin (18/5/2026). Namun demikian, pemerintah memastikan situasi saat ini jauh berbeda dibandingkan kondisi menjelang krisis ekonomi 1998.
Selain itu, Purbaya meminta investor tidak panik menghadapi koreksi pasar karena tekanan yang terjadi dinilai lebih dipicu sentimen global jangka pendek dibandingkan persoalan fundamental domestik.
Purbaya Tegaskan Kondisi Ekonomi Indonesia Masih Kuat
Purbaya menjelaskan bahwa krisis 1998 terjadi akibat kombinasi kebijakan ekonomi yang salah, lemahnya sistem keuangan, serta ketidakstabilan sosial-politik yang berlangsung berkepanjangan. Sementara saat ini, menurut dia, kondisi ekonomi Indonesia memiliki daya tahan lebih kuat karena ditopang konsumsi domestik, cadangan devisa yang relatif stabil, serta reformasi sektor keuangan yang lebih matang.
“Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda. Tahun 1998 itu kebijakannya salah dan instability social-politic terjadi setelah setahun kita resesi,” ujar Purbaya kepada wartawan usai menghadiri acara penyerahan pesawat di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia saat ini masih mencatat pertumbuhan positif di tengah tekanan ekonomi global. Pemerintah juga mengklaim sektor perbankan nasional masih berada dalam kondisi sehat dengan rasio kecukupan modal yang kuat.
Menurut Purbaya, volatilitas nilai tukar rupiah dan pelemahan pasar saham bukan hanya dialami Indonesia, melainkan juga terjadi di berbagai negara emerging market akibat ketidakpastian ekonomi global, tingginya suku bunga AS, serta penguatan dolar Amerika Serikat.
Rupiah Menyentuh Level Rp17.630 per Dolar AS
Tekanan terhadap rupiah kembali terlihat pada perdagangan Senin pagi. Nilai tukar rupiah dibuka melemah 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.630 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Ia menilai tingginya ketidakpastian global membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS.
Menurut Ibrahim, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.660 per dolar AS selama perdagangan awal pekan.
“Tekanan eksternal masih cukup besar terhadap mata uang emerging market, termasuk Indonesia. Karena itu, rupiah masih cenderung melemah,” kata Ibrahim.
Sebelumnya, pada perdagangan Jumat (15/5/2026), rupiah juga sempat menyentuh posisi Rp17.612 per dolar AS berdasarkan data Google Finance sebelum akhirnya bergerak di kisaran Rp17.579 per dolar AS.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar karena level pelemahan rupiah dinilai mendekati fase tekanan berat yang pernah terjadi pada masa krisis ekonomi Asia.
Namun demikian, sejumlah ekonom menilai situasi saat ini belum menunjukkan indikasi krisis sistemik karena struktur ekonomi Indonesia jauh lebih kuat dibandingkan dua dekade lalu.
IHSG Terkoreksi, Seluruh Sektor Saham Tertekan
Di sisi lain, pasar saham domestik juga mengalami tekanan hebat. IHSG pada sesi pertama perdagangan Senin ditutup turun 3,76 persen ke level 6.470,34. Penurunan tersebut menyeret hampir seluruh sektor saham ke zona merah.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 682 saham melemah, sementara hanya 84 saham menguat dan 52 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 21,6 miliar saham dengan nilai transaksi harian sekitar Rp12 triliun.
Sektor basic menjadi sektor dengan koreksi terdalam setelah turun 8,14 persen. Selain itu, sektor industri melemah 4,79 persen, sektor kesehatan turun 3,84 persen, dan sektor energi terkoreksi 3,36 persen.
Analis pasar menilai aksi jual besar-besaran terjadi akibat kekhawatiran investor terhadap pelemahan rupiah dan meningkatnya ketidakpastian global. Selain itu, arus keluar dana asing atau capital outflow juga disebut menjadi salah satu faktor utama tekanan di pasar saham domestik.
Meski demikian, pemerintah berupaya menenangkan pasar dengan memastikan kondisi fiskal Indonesia tetap terkendali.
Purbaya menegaskan pemerintah terus menjaga stabilitas ekonomi melalui koordinasi dengan Bank Indonesia dan otoritas sektor keuangan.
Pemerintah Tingkatkan Intervensi Pasar Obligasi
Sebagai langkah stabilisasi, pemerintah mulai meningkatkan aktivitas di pasar obligasi negara dengan volume yang lebih besar. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar surat utang negara sekaligus menahan aksi jual investor asing.
Pemerintah menilai stabilitas pasar obligasi sangat penting karena gejolak di sektor tersebut dapat memicu tekanan lebih besar terhadap rupiah dan pasar keuangan nasional.
Selain itu, intervensi di pasar obligasi juga bertujuan menjaga kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan Indonesia.
Menurut sejumlah ekonom, langkah pemerintah meningkatkan pembelian obligasi dapat membantu menjaga likuiditas pasar dan mengurangi tekanan jangka pendek. Namun, kebijakan tersebut tetap harus dilakukan secara hati-hati agar tidak memicu persepsi negatif di pasar.
Benarkah Indonesia Menuju Krisis 1998?
Perbandingan situasi saat ini dengan krisis 1998 muncul karena pelemahan tajam rupiah dan tekanan di pasar saham terjadi hampir bersamaan. Namun, banyak ekonom menilai kondisi sekarang memiliki perbedaan mendasar.
Pada krisis 1998, Indonesia mengalami keruntuhan sektor perbankan, lonjakan utang luar negeri swasta, inflasi tinggi, hingga gejolak sosial-politik yang menyebabkan aktivitas ekonomi lumpuh.
Saat itu, nilai tukar rupiah bahkan sempat anjlok hingga di atas Rp16.000 per dolar AS ketika struktur ekonomi nasional masih sangat rentan.
Sementara sekarang, Indonesia dinilai memiliki sistem keuangan yang lebih kuat, cadangan devisa lebih besar, serta pengawasan perbankan yang lebih ketat.
Selain itu, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) masih relatif terkendali dibandingkan banyak negara lain.
Ekonom senior menilai tekanan yang terjadi saat ini lebih berkaitan dengan dinamika global seperti kenaikan suku bunga bank sentral AS, perlambatan ekonomi dunia, serta ketegangan geopolitik internasional.
Meskipun demikian, pemerintah tetap diminta waspada karena pelemahan rupiah berkepanjangan dapat meningkatkan biaya impor, menekan daya beli masyarakat, dan memicu inflasi.
Investor Diminta Tidak Panik
Purbaya secara terbuka meminta investor domestik tidak panik menghadapi tekanan di pasar saham. Bahkan, ia menyebut koreksi pasar saat ini bisa menjadi peluang akumulasi saham.
“Investor pasar saham jangan takut serok bawah sekarang. Kalau saya lihat tekniknya, sehari dua hari sudah balik. Jadi jangan lupa beli saham,” ujar Purbaya.
Pernyataan tersebut memicu beragam respons dari pelaku pasar. Sebagian investor menilai optimisme pemerintah penting untuk menjaga sentimen positif. Namun, sebagian lainnya meminta pemerintah lebih fokus memberikan langkah konkret menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Pengamat pasar modal menilai komunikasi pemerintah kepada publik menjadi faktor penting di tengah volatilitas pasar. Pernyataan yang terlalu optimistis tanpa disertai kebijakan konkret justru dapat memicu ketidakpercayaan investor.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pelaku industri keuangan.
Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Masyarakat
Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak terhadap pasar keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Nilai tukar rupiah yang melemah dapat meningkatkan harga barang impor seperti bahan baku industri, produk elektronik, hingga pangan tertentu. Jika kondisi berlangsung lama, harga barang di dalam negeri berpotensi ikut naik.
Selain itu, sektor usaha yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS juga akan menghadapi tekanan lebih besar akibat meningkatnya biaya pembayaran.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Namun demikian, manfaat tersebut baru akan terasa apabila sektor industri nasional mampu meningkatkan kapasitas produksi dan menjaga stabilitas distribusi barang.
Tantangan Pemerintah Menjaga Kepercayaan Pasar
Di tengah gejolak pasar global, pemerintah menghadapi tantangan besar menjaga kepercayaan investor. Stabilitas kebijakan ekonomi menjadi faktor utama yang diperhatikan pelaku pasar internasional.
Selain itu, investor juga mencermati langkah pemerintah dalam mengendalikan defisit fiskal, menjaga inflasi, serta memastikan iklim investasi tetap kondusif.
Beberapa ekonom mengingatkan bahwa pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan optimisme verbal dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Sebaliknya, pemerintah perlu menunjukkan langkah nyata melalui kebijakan fiskal dan moneter yang konsisten serta terukur.
Langkah percepatan investasi, penguatan sektor manufaktur, dan peningkatan ekspor dinilai menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Bank Indonesia Diperkirakan Terus Jaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali.
Langkah tersebut dapat dilakukan melalui intervensi di pasar valuta asing, penguatan instrumen moneter, serta menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan.
Selain itu, Bank Indonesia juga diprediksi akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk mengantisipasi gejolak ekonomi global yang berpotensi memicu capital outflow lebih besar.
Pengamat pasar menilai stabilitas rupiah menjadi salah satu indikator utama kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Karena itu, tekanan berkepanjangan terhadap nilai tukar dapat berdampak luas terhadap pasar saham, pasar obligasi, hingga sektor riil.
Prospek Ekonomi Indonesia ke Depan
Meski menghadapi tekanan besar, sejumlah lembaga internasional masih memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh positif pada 2026.
Konsumsi domestik yang kuat, pembangunan infrastruktur, dan investasi sektor hilirisasi disebut menjadi faktor penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, risiko eksternal tetap menjadi ancaman serius, terutama jika ketegangan geopolitik global meningkat dan suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.
Selain itu, perlambatan ekonomi China dan melemahnya permintaan global juga dapat memengaruhi kinerja ekspor Indonesia.
Karena itu, pemerintah diminta memperkuat daya tahan ekonomi domestik melalui reformasi struktural dan peningkatan produktivitas industri nasional.
Pemerintah Berupaya Redam Kepanikan Pasar
Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis moneter 1998.
Meskipun rupiah melemah hingga menyentuh Rp17.630 per dolar AS dan IHSG anjlok lebih dari 3 persen, pemerintah menilai fundamental ekonomi nasional masih kuat.
Namun demikian, tekanan terhadap rupiah dan pasar saham tetap menjadi sinyal penting bahwa Indonesia tidak sepenuhnya kebal terhadap gejolak ekonomi global.
Karena itu, langkah konkret menjaga stabilitas nilai tukar, memperkuat pasar keuangan, serta meningkatkan kepercayaan investor menjadi faktor kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah kini menghadapi ujian besar untuk membuktikan bahwa ekonomi Indonesia benar-benar lebih siap menghadapi tekanan global dibandingkan masa krisis 1998.***(SB)
SupersemarNewsTeam
