JAKARTA, Supersemar News — PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mencatatkan produksi nikel matte sebesar 18.341 ton pada kuartal III/2026. Realisasi tersebut menjadi produksi kuartalan tertinggi sepanjang tahun ini setelah perseroan menyelesaikan agenda pemeliharaan besar pada awal 2026.
Direktur sekaligus Chief Financial Officer PT Vale Indonesia, Rizky Putra mengatakan bahwa peningkatan produksi didukung oleh ketersediaan peralatan dan operasional pabrik yang lebih stabil.
“Perseroan terus berfokus pada keandalan operasional dan konsistensi produksi untuk menjaga kinerja pada triwulan terakhir tahun ini,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, dikutip Jumat (30/10/2026).
Adapun, pada kuartal II/2026, produksi nikel matte sebesar 16.153 ton. Sementara itu, sepanjang Januari—September 2026, nikel matte mencapai 48.114 ton, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar 54.975 ton.
Sejalan dengan peningkatan produksi, volume pengiriman nikel matte INCO mencapai 20.158 ton pada kuartal III/2026, meningkat dibandingkan dengan 13.932 ton pada kuartal II/2026. Namun, harga realisasi nikel matte turun menjadi US$14.053 per ton dari US$14.765 per ton pada triwulan sebelumnya.
Selain nikel matte, perseroan juga mencatatkan penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi dan Pomalaa. Penjualan dari Bahodopi mencapai 415.000 wet metric tons (wmt), sedangkan Pomalaa mencapai 1,31 juta wmt pada kuartal III/2026.
Peningkatan volume penjualan tersebut mendorong pendapatan INCO mencapai US$353 juta pada kuartal III/2026, naik dari US$290 juta pada kuartal sebelumnya. Secara kumulatif, pendapatan perseroan mencapai US$896 juta hingga September 2026 atau tumbuh 27% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Dari sisi produksi, peningkatan aktivitas penambangan dan pengolahan turut mendorong konsumsi energi. Penggunaan marine fuel oil (MFO) meningkat 6%, sedangkan konsumsi batu bara naik 12% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Kenaikan konsumsi dan harga energi tersebut turut meningkatkan biaya tunai penjualan nikel matte menjadi US$10.404 per ton dari US$10.005 per ton pada kuartal II/2026.
Kendati demikian, INCO membukukan EBITDA sebesar US$101 juta pada kuartal III/2026. Dengan demikian, EBITDA secara kumulatif mencapai US$297 juta hingga September 2026, meningkat dibandingkan dengan US$166 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Adapun, laba bersih perseroan mencapai US$147 juta hingga kuartal III/2026, hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan US$52 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Rencana Produksi INCO 2027
Memasuki 2027, INCO akan berfokus mengoptimalkan produksi nikel matte dan meningkatkan kontribusi penjualan bijih nikel dari wilayah operasional yang menjadi sumber pertumbuhan baru.
Rizky mengatakan perseroan akan memanfaatkan platform produksi yang semakin kuat dan terdiversifikasi untuk mendukung pertumbuhan bisnis ke depan. Selain optimalisasi produksi, INCO juga melanjutkan pengembangan proyek-proyek hilirisasi strategis.
Salah satu perkembangan terbaru adalah tercapainya mechanical completion pertama untuk Line 1 dan Line 2 proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) Pomalaa. Pencapaian tersebut menjadi bagian dari tahapan pengembangan bisnis hilir perseroan.
Untuk mendukung kegiatan operasional dan pengembangan proyek, INCO merealisasikan belanja modal sebesar US$95 juta pada kuartal III/2026. Perseroan juga menarik fasilitas pinjaman sebesar US$175 juta untuk mendukung kebutuhan belanja modal pemeliharaan dan inisiatif pertumbuhan jangka panjang.
Per 30 September 2026, posisi kas dan setara kas INCO tercatat sebesar US$247 juta, meningkat dari US$111 juta pada akhir Juni 2026. “Perseroan tetap berkomitmen menjalankan strategi pertumbuhan jangka panjang secara disiplin, dengan tetap menjaga neraca keuangan yang kuat serta menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” tulis Rizki dalam laporan perseroan.
Sumber : Bisnis.com













Komentar