Anugerah Gapura Pancawaluya 2025 menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam memperkuat pendidikan karakter berbasis nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer sebagai fondasi pembangunan generasi unggul.

SUPERSEMAR NEWS – JAWA BARAT — Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwa Anugerah Gapura Pancawaluya 2025 bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan instrumen kebijakan strategis yang dirancang secara sistematis untuk mempercepat transformasi pendidikan karakter di seluruh wilayah Jawa Barat.

Melalui Dinas Pendidikan Jawa Barat, program ini diposisikan sebagai motor perubahan budaya sekolah, sekaligus pengungkit kualitas sumber daya manusia yang berakar pada nilai-nilai lokal, nasional, dan konstitusional.

Penegasan ini sekaligus menjawab kritik publik yang mempertanyakan substansi dan keberlanjutan program penghargaan di sektor pendidikan.

Dari Seremoni ke Kebijakan Transformasional

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Purwanto, menegaskan bahwa Anugerah Gapura Pancawaluya merupakan bagian integral dari desain besar pembangunan karakter peserta didik Jawa Barat.

Menurutnya, penghargaan ini bukan panggung simbolik, melainkan alat kendali mutu yang mendorong satuan pendidikan untuk membangun ekosistem belajar yang sehat, berkarakter, dan berkelanjutan.

Anugerah Gapura Pancawaluya kami rancang sebagai instrumen perubahan. Ini bukan penghargaan instan, melainkan pengakuan atas praktik baik yang sudah berjalan konsisten di sekolah,” ujar Purwanto di Kota Bandung, Kamis (1/1/2026).

Ia menegaskan, penghargaan berfungsi sebagai insentif kebijakan, bukan hadiah kosong. Sekolah yang menerima anugerah dinilai telah mampu menginternalisasi nilai karakter ke dalam tata kelola sekolah, pembelajaran, serta perilaku keseharian peserta didik.

Fondasi Filosofis: Pancawaluya sebagai Arah Pendidikan Jabar

Transformasi karakter yang diusung Anugerah Gapura Pancawaluya berakar pada nilai luhur Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer, yang telah menjadi identitas pendidikan Jawa Barat.

Nilai tersebut tidak lahir dari kebijakan sementara, melainkan memiliki landasan hukum kuat, yakni Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pendidikan.

Selain itu, penguatan Pancawaluya juga dipertegas melalui Surat Edaran Nomor: 45/PK.03.03/KESRA tentang 9 Langkah Pembangunan Pendidikan Jawa Barat Menuju Terwujudnya Gapura Panca Waluya.

Sinkronisasi Lintas Jenjang: SD hingga SMA Tidak Boleh Terputus

Purwanto menekankan bahwa keterlibatan jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP) menjadi faktor kunci keberhasilan transformasi karakter.

Meskipun secara kewenangan manajerial SD dan SMP berada di bawah Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemprov Jawa Barat tetap menjalankan fungsi pembinaan, orkestrasi nilai, dan sinkronisasi kebijakan.

Kami memastikan penguatan karakter tidak terputus secara struktural. Provinsi bertugas menyelaraskan nilai dari jenjang dasar hingga menengah, termasuk sekolah di bawah Kementerian Agama,” jelasnya.

Langkah ini dinilai krusial agar pendidikan karakter tidak berhenti sebagai jargon, melainkan membentuk jalur nilai berkelanjutan dari usia dini hingga remaja.

Proses Penilaian Panjang, Terukur, dan Transparan

Menjawab anggapan bahwa Anugerah Gapura Pancawaluya bersifat instan, Disdik Jabar memaparkan alur penilaian panjang dan berlapis yang telah berlangsung sejak pertengahan 2025.

Tahapan Resmi Anugerah Gapura Pancawaluya 2025:

  • Agustus – September 2025
    Sosialisasi masif secara langsung dan daring ke seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat.
  • Agustus – Oktober 2025
    Pendaftaran satuan pendidikan dan verifikasi administrasi secara ketat.
  • November 2025
    Penilaian Tahap I: evaluasi dokumen kebijakan sekolah dan praktik awal pendidikan karakter.
  • Desember 2025
    Penilaian Tahap II dan III: pendalaman praktik baik, validasi lapangan, hingga penganugerahan pada 30 Desember 2025.

“Yang kami nilai bukan penampilan saat acara, tetapi konsistensi praktik pendidikan karakter yang telah dijalankan sekolah,” tegas Purwanto.

Penghargaan sebagai Instrumen Perubahan Budaya Sekolah

Disdik Jabar memandang penghargaan bukan tujuan akhir, melainkan alat intervensi kebijakan untuk membentuk budaya sekolah yang sehat.

Sekolah penerima anugerah diharapkan menjadi role model, pusat pembelajaran praktik baik, serta rujukan bagi sekolah lain di wilayahnya.

Pengawasan DPRD Diapresiasi sebagai Kontrol Demokratis

Pemprov Jawa Barat secara terbuka mengapresiasi kritik dan pengawasan DPRD Jawa Barat terhadap pelaksanaan Anugerah Gapura Pancawaluya.

Disdik Jabar menilai pengawasan legislatif sebagai bagian dari mekanisme evaluasi demokratis yang sehat dan konstruktif.

Kami memiliki visi filosofis yang sama dengan DPRD. Dialog dan kritik justru memperkuat kualitas kebijakan publik,” ujar Purwanto.

Pemprov Jabar memastikan ruang dialog tetap terbuka untuk penyempurnaan kebijakan agar program semakin tepat sasaran dan berdampak luas.

Investigasi Kebijakan: Mengapa Karakter Jadi Prioritas?

Berdasarkan evaluasi internal Disdik Jabar, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya terletak pada aspek kognitif, tetapi juga krisis nilai, etika, dan budaya belajar.

Fenomena perundungan, intoleransi, rendahnya literasi sosial, hingga degradasi disiplin menjadi alarm serius.

Anugerah Gapura Pancawaluya diposisikan sebagai jawaban kebijakan preventif, bukan reaktif.

Menuju Generasi Unggul Jawa Barat

Melalui pendekatan kebijakan yang terukur, berlandaskan regulasi, serta dikawal secara demokratis, Pemprov Jawa Barat optimistis Anugerah Gapura Pancawaluya mampu menjadi motor revolusi karakter.

Bukan hanya mencetak siswa pintar, tetapi melahirkan generasi yang:

  • sehat jasmani dan rohani,
  • berakhlak baik,
  • berpikir benar,
  • cerdas intelektual,
  • serta adaptif menghadapi perubahan zaman.

Inilah arah pendidikan Jawa Barat: unggul, berkarakter, dan berkelanjutan.***(SB)

SupersemarNewsTeam