
Aceh Tamiang kembali diguncang bencana alam dahsyat pada Rabu dini hari, 26 November 2025. Badai angin, hujan ekstrem, hingga meluapnya sungai dari arah pegunungan mengubah pemukiman padat penduduk menjadi lautan air berlumpur. Dalam hitungan jam, banjir menghanyutkan rumah, harta benda, hingga harapan. Namun, di balik tragedi itu, tersimpan kisah perjuangan hidup yang dramatis, doa yang mengguncang langit, dan solidaritas manusiawi yang mengalahkan status sosial.
Berikut adalah kesaksian nyata Sahal Muhammad AR, seorang Penyuluh Agama Islam di Aceh Tamiang, yang menjadi saksi sekaligus korban bencana ini. Kesaksian ini menjadi pengingat tentang rapuhnya harta dunia dan kuatnya pertolongan Allah di tengah kegelapan malam yang mengancam nyawa.
Badai Pukul 03.00 WIB: Awal Musibah yang Tak Terduga
Pada Rabu dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, badai besar menghantam wilayah Aceh Tamiang. Angin kencang merobohkan pepohonan di berbagai titik seperti Tualang Cut, jalan lintas Sumatera, dan kawasan padat pemukiman lainnya.
Meskipun pemadaman listrik terjadi hanya sesaat, badai ini menjadi pertanda awal kondisi ekstrem yang akan segera menyusul. Berdasarkan laporan cuaca, hujan deras telah turun sejak Selasa dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Beberapa kecamatan seperti Seruway, Sekerak, dan Bukit Rata mulai tergenang, memaksa warga mengungsi ke rumah kerabat. Namun, tak ada yang menyangka bahwa Kampung Dalam, kawasan yang tidak pernah terendam saat banjir besar sekalipun, akan menjadi lokasi terdampak paling parah.
Air Naik Cepat dan Sangat Deras: Pertanda Luapan Sungai Pegunungan
Menjelang pukul 21.00 WIB, air mulai masuk ke Kampung Dalam. Meski tingginya hanya sebatas betis, arusnya sangat deras. Ini menandakan bahwa air berasal dari luapan sungai pegunungan, bukan genangan biasa.
Sekitar pukul 21.47 WIB, air menerobos masuk ke rumah keluarga Sahal. Mereka segera naik ke lantai dua, meninggalkan makanan, pakaian, dan obat-obatan yang tak sempat diselamatkan.
Situasi semakin genting ketika listrik padam total, membuat warga kehilangan sumber informasi, komunikasi, dan penerangan.
Kamis Pagi: Air Capai 1,5 Meter dan Sinyal Hilang Total
Keesokan paginya, Kamis 27 November 2025, air terus naik hingga mencapai 1,5 meter. Dengan sinyal ponsel yang hilang timbul, warga hanya bisa berharap bantuan datang dari pihak pemerintah atau tim SAR.
Namun menjelang siang, sinyal hilang sepenuhnya. Arus semakin kencang, dan gelombang air besar menerjang rumah-rumah warga. Bahkan Alfamart di depan rumah Sahal jebol bagian belakangnya, menumpahkan seluruh isi toko yang bertebaran di antara arus.
Sebagian remaja yang berani berenang mengumpulkan makanan dan menyalurkannya ke warga yang terjebak di lantai dua.
Narapidana Mengungsi dan Menjadi Penolong
Salah satu bagian paling menggetarkan hati dari kisah ini adalah munculnya para narapidana yang sebelumnya dilepas dari Lapas akibat banjir.
Mereka berjalan perlahan di air setinggi leher, mencari rumah yang bisa menampung mereka. Banyak warga menolak karena takut, sementara ruang lantai dua rumah-rumah juga sudah penuh sesak.
Namun beberapa toko yang memiliki lantai dua membuka pintunya, dan para narapidana akhirnya berlindung di sana.
Dalam perkembangan selanjutnya, terungkap bahwa narapidana inilah yang justru membantu menyalurkan makanan dan minuman kepada warga, dengan melemparkan bantuan ke rumah-rumah yang terisolasi arus.
Mereka bahkan dinilai lebih manusiawi dan lebih sigap daripada aparat dan tim SAR yang tidak kunjung datang.
Menjelang Malam: Doa, Adzan, dan Keputusasaan
Saat malam tiba, air sudah hampir mencapai lantai dua. Hanya beberapa anak tangga tersisa. Suara arus terdengar seperti ombak badai di tengah lautan, mengguncang rumah warga satu per satu.
Sahal berdiri dan mengumandangkan adzan sekeras mungkin. Suara itu mencoba menembus gelapnya malam dan derasnya arus. Ia berharap, jika bukan manusia yang mendengar, maka langitlah yang akan mendengarnya.
Di malam Jumat itu—malam yang diyakini penuh keberkahan—ia berdoa:
“Ya Allah, kami pendosa, tapi di antara kami ada anak-anak yang belum pernah melakukan dosa. Selamatkanlah kami karena mereka.”
Di antara tangis ketakutan dan jeritan meminta tolong, sebagian warga shalat dua rakaat sebagai bekal akhir jika air benar-benar menghabisi semuanya.
Bertahan dengan Air Hujan dan Banjir yang Dimasak
Fajar menyingsing tanpa tanda-tanda bantuan datang. Air tetap setinggi lima meter, dan arus tak mungkin diterjang siapa pun. Makanan menipis, bayi-bayi kelaparan, dan air bersih hampir habis.
Sebagian warga terpaksa menimba air banjir dan memasaknya agar bisa diminum. Keluarga Sahal meminum air hujan yang tertampung di terpal.
Dari atap dan jendela lantai dua, warga saling melempar makanan, tali, dan bantuan apa pun yang dapat diselamatkan.
Air Mulai Surut dan Warga Keluar dari Rumah
Air mulai surut secara perlahan mulai Jumat hingga Ahad, 30 November 2025. Saat permukaan air cukup rendah, warga keluar dari rumah dengan kaki gemetar, mencari sisa makanan, gas, dan pakaian yang bisa diselamatkan.
Rumah-rumah dipenuhi lumpur setinggi lutut. Meskipun kehilangan harta, warga saling merangkul, menangis, dan bersyukur karena Allah menyelamatkan nyawa mereka.
Upaya Bertahan Hidup hingga Rabu, 3 Desember 2025
Hingga Rabu, warga masih membersihkan rumah, mencuci pakaian yang berlumur lumpur, dan mencari kebutuhan pokok dari puing-puing.
Penduduk yang selamat dari arah Medan dan Banda Aceh melintasi genangan banjir, berenang, dan berjalan kaki untuk menemukan keluarga mereka.
Pada 3 Desember 2025, Sahal akhirnya memutuskan meninggalkan Tamiang dan menumpang truk ke Langsa, di mana ia akhirnya mendapatkan sinyal dan menghubungi keluarga.
Pesan Penting: Harta Tidak Berarti Apa-Apa Saat Bencana
Dalam refleksi mendalamnya, Sahal menyampaikan pesan:
“Jika bukan kita yang meninggalkan harta, maka harta itulah yang akan meninggalkan kita.”
Saat banjir melanda, mobil, motor, rumah, dan perhiasan tidak lagi memiliki arti. Yang penting hanyalah nyawa dan keselamatan keluarga.
Kritik Keras: Pemerintah Tidak Hadir Saat Rakyat Membutuhkan
Kekecewaan mendalam disampaikan kepada pemerintah, BPBD, dan lembaga terkait yang tidak hadir pada saat-saat krusial.
Pertanyaan pedas pun disuarakan:
- Di mana pejabat saat rakyat menjerit minta tolong?
- Mengapa saat Pilkada mereka mendatangi rakyat, namun saat rakyat sekarat mereka menghilang?
- Apakah harus ada korban meninggal lebih dulu baru bantuan dikirim?
Sahal berharap tidak ada korupsi dalam penyaluran bantuan. Dana sudah terkumpul, dan warga membutuhkan:
- air bersih
- makanan
- pakaian
- obat-obatan
- tempat tinggal
Bantuan harus segera masuk tanpa hambatan.
Ajakan Penutup: Jadikan Allah Satu-Satunya Penolong
Pada akhirnya, bencana ini mengajarkan bahwa ketika manusia tidak mampu, Allah-lah satu-satunya penolong.
“Jadikan Allah penjagamu dalam setiap urusan. Saat manusia tak datang, Allah tetap ada.”
Tragedi ini bukan hanya musibah, tetapi juga peringatan untuk tidak tamak dan selalu bersedekah. Karena saat bencana datang, harta tidak menyelamatkan apa pun—justru iman, akhlak, dan solidaritaslah yang menyelamatkan manusia.***(SB)
SupersemarNewsTeam
Rifay Marzuki
