UCLA Department of History
Keterangan gambar,Geoffrey Robinson pernah menulis tentang kekerasan politik di Bali.

SUPERSEMAR NEWS – Jakarta
Buku terbaru karya dua akademisi, Geoffrey Robinson dan Douglas Kammen, berjudul “Exposed: A Visual History of the Destruction of the Indonesian Left”, membuka kembali lembar sejarah kelam Peristiwa 1965 melalui ratusan foto yang selama ini disembunyikan.
Proyek ini menjadi salah satu upaya paling serius untuk merekonstruksi kekerasan politik Orde Baru lewat bukti visual yang jarang terlihat publik.

Upaya Menguak Sejarah Melalui Arsip Visual

Geoffrey Robinson, profesor sejarah di University of California, Los Angeles (UCLA), dan Douglas Kammen dari National University of Singapore (NUS), menelusuri ribuan arsip foto sejak 2017.
Mereka mengumpulkan dokumentasi dari arsip militer, lembaga negara, jurnalis, seniman, hingga media lokal.

“Kami ingin mengungkap apa yang selama ini disembunyikan, sekaligus membuka kemungkinan pemahaman sejarah yang lebih adil,”
kata Geoffrey kepada BBC News Indonesia.

Perpustakaan Nasional Indonesia
Keterangan gambar,Pejabat keamanan lokal memberi arahan ke kelompok milisi di Purwodadi, Jawa Tengah.

Foto-foto dalam Exposed menampilkan momen dari masa sebelum 1965, saat peristiwa terjadi, dan pasca-1965, yang secara kolektif menunjukkan bagaimana kekerasan terorganisir diarahkan kepada mereka yang dianggap “Kiri” atau terhubung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Dari Pawai Meriah PKI hingga Penangkapan Massal

Salah satu foto yang menarik perhatian Geoffrey memperlihatkan pawai besar PKI di Yogyakarta sebelum pecahnya tragedi 1965.
Anak-anak muda tersenyum, mengenakan atribut merah, menikmati suasana pesta politik yang semarak di alun-alun Kraton.

MOELYONO : Pawai PKI di Yogyakarta, 1965.

Namun, hanya beberapa bulan kemudian, suasana berubah drastis.
Foto lain menampilkan ratusan tahanan politik dikumpulkan di Klaten dan Surakarta, sebagian besar dengan wajah tertunduk, dijaga ketat oleh militer dan kelompok sipil bersenjata bambu runcing.

Perpustakaan Nasional Indonesia
Keterangan gambar,Warga desa di Jawa Tengah ditahan dan dikumpulkan di lapangan pada 1965.
Perpustakaan Nasional Indonesia :
Keterangan gambar,Tahanan dituding komunis ditahan dan dikumpulkan di balai desa di Klaten, Jawa Tengah
.

Menurut Geoffrey, perbedaan suasana itu menunjukkan betapa cepat politik Indonesia bergeser dari antusiasme demokrasi menuju kekerasan massal.

Narasi yang Dikendalikan Militer

Douglas Kammen menjelaskan bahwa hampir semua dokumentasi visual 1965 dikendalikan secara ketat oleh militer Indonesia, terutama melalui Pusat Penerangan Angkatan Darat (Puspenad).

Dalam banyak foto resmi, para tahanan digambarkan tanpa wajah, sedangkan tentara dan ormas justru diposisikan sebagai pahlawan pembela bangsa.
Bahkan, beberapa foto lama dari Peristiwa Madiun 1948 digunakan kembali untuk membentuk narasi bahwa PKI adalah musuh rakyat.

“Sejak awal, militer menciptakan narasi palsu yang menggambarkan PKI kejam, lalu menanamkan propaganda baru ke dalam ingatan kolektif,”
ujar Geoffrey, seperti dikutip Tempo.co.

Getty Images :
Keterangan gambar,Simpatisan PKI ditangkap tentara dan diinterogasi di bawah todongan senjata.

Fotografer Moelyono dan “Batasan” yang Ditentukan Tentara

Banyak foto di Exposed berasal dari Moelyono, fotografer Kedaulatan Rakyat yang pada masa itu direkrut oleh militer.
Ia mengabadikan operasi “penumpasan PKI” di Jawa Tengah bersama pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Dalam wawancaranya dengan antropolog Karen Strassler, Moelyono mengaku bahwa tentara melarang pengambilan gambar kekerasan langsung atau wajah korban PKI yang tewas.
Hal ini menjelaskan mengapa sebagian besar foto hanya menunjukkan tubuh atau kerumunan tanpa identitas jelas.

Foto yang menampilkan dua jenazah anak laki-laki di lumpur, misalnya, menggambarkan kengerian tanpa harus memperlihatkan aksi kekerasan itu sendiri.

Kekerasan 1965 dan Luka yang Masih Menganga

Menurut penelitian Geoffrey Robinson dalam bukunya “The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali” (1995), sekitar 5% penduduk Bali—dari dua juta jiwa kala itu—menjadi korban pembunuhan politik.
Angka nasionalnya diperkirakan mencapai 500.000 hingga 1 juta orang yang dibunuh, dipenjara, atau dihilangkan secara paksa.

Setelah kejatuhan Soeharto, banyak penelitian, film dokumenter, dan laporan HAM mencoba mengungkap kembali tragedi ini.
Namun, seperti ditegaskan Geoffrey, minimnya bukti visual membuat tragedi tersebut masih sulit dipahami secara utuh.

“Bukti visual tentang 1965 sangat minim dan tidak lengkap. Ini berkontribusi pada rendahnya pemahaman publik soal tragedi itu sendiri,” jelasnya.

NUS Arts and Social Sciences :
Keterangan gambar,Douglas Kammen mengatakan foto-foto yang dikumpulkan telah melewati proses verifikasi silang.

Foto-foto yang Menantang Narasi Resmi

Dalam Exposed, Douglas Kammen menekankan bahwa semua foto telah melalui verifikasi silang antara sumber lokal dan internasional.
Hasilnya menunjukkan pola konsisten: tahanan yang diintimidasi, masyarakat bersenjata bambu runcing, dan ekspresi ketakutan massal.

“Kami ingin foto-foto ini menantang narasi resmi yang telah membentuk ingatan sosial selama lebih dari setengah abad,” kata Douglas, dikutip dari The Conversation Indonesia.

Douglas dan Geoffrey berharap publik Indonesia bisa melihat 1965 bukan hanya sebagai catatan politik, tetapi juga sebagai tragedi kemanusiaan yang harus dihadapi secara jujur.

Upaya Rekonsiliasi dan Pentingnya Ingatan Visual

Proyek Exposed bukan sekadar arsip, tetapi juga tindakan politik untuk mengembalikan memori yang dihapus.
Melalui dokumentasi ini, masyarakat diajak memahami bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh pemenang, tetapi juga oleh mereka yang berani menyimpan dan menampilkan kebenaran.

Langkah Geoffrey dan Douglas sejalan dengan berbagai upaya rekonsiliasi nasional dan pengakuan korban 1965, seperti yang pernah didorong oleh Komnas HAM dan berbagai lembaga masyarakat sipil.

“Gambar-gambar ini dapat mengingatkan kita pada hal-hal yang diabaikan dalam narasi konvensional,” ujar Geoffrey.

Penutup: Menggugah Ingatan Kolektif

Enam dekade telah berlalu sejak peristiwa 1965 mengguncang Indonesia.
Namun, luka sosial dan politiknya masih terasa hingga kini.
Buku Exposed hadir bukan hanya untuk menambah arsip sejarah, tetapi untuk mendorong masyarakat menghadapi masa lalu dengan kesadaran dan empati.

Seperti yang dikatakan Geoffrey Robinson, “Keadilan mungkin lahir dari ingatan yang tak lagi disembunyikan.”

SupersemarNewsTeam
SanggaBuana