
SUPERSEMAR NEWS – JAKARTA — Jakarta kembali menjadi episentrum industri perhiasan nasional melalui penyelenggaraan Jakarta International Jewellery Fair (JIJF) 2026, pameran perhiasan terbesar di Indonesia bagian barat yang memasuki penyelenggaraan ke-17.
Ajang bergengsi ini menghadirkan lebih dari 110 peserta, terdiri atas 80 perusahaan swasta, 25 penyedia mesin dan perangkat industri perhiasan, serta 20 pengrajin IKM dari berbagai daerah. Kehadiran mereka menegaskan bahwa sektor perhiasan masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kreatif Indonesia, sekaligus ruang strategis bagi pengembangan UMKM berbasis karya.
Lebih dari sekadar pameran, JIJF 2026 tampil sebagai platform investasi, edukasi publik, sekaligus penggerak lapangan kerja di sektor industri padat karya.
Industri Perhiasan Jadi Motor Ekonomi Kreatif

Pameran ini melibatkan pelaku usaha lintas rantai nilai — mulai dari pabrik perhiasan, distributor, toko emas, penyedia mesin, hingga desainer dan pengrajin.
Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, penyelenggara berupaya:
- membuka pasar domestik dan internasional bagi pengrajin
- memperluas kesempatan kerja
- mengedukasi masyarakat bahwa perhiasan bukan sekadar gaya hi
Di tengah fluktuasi harga logam mulia, industri ini justru menunjukkan ketahanan.
Hal tersebut ditegaskan Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian RI, Ir. Reni Yanita M., Si, yang menyebut ekspor perhiasan Indonesia tumbuh 65 persen dibanding periode sama tahun 2024, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai eksportir perhiasan nomor enam dunia.
Kontribusi sektor ini memang baru sekitar 0,12 persen terhadap PDB, namun daya serap tenaga kerjanya tergolong besar.
Iskandar Husin: Pameran Ini Menjaga Napas Industri Perhiasan

Sorotan utama Supersemar News tertuju pada pernyataan tegas Iskandar Husin, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APB) sekaligus Ketua Penyelenggara JIJF 2026.
Dalam wawancara eksklusif, Iskandar menekankan bahwa pameran ini bukan sekadar ajang jual beli.
“Target kami sederhana tapi penting: menjaga supaya industri perhiasan tetap berjalan walaupun harga bahan baku sangat volatil. Kalau industri berhenti, efeknya ke tenaga kerja besar sekali,” ujar Iskandar Husin kepada Supersemar News.
Menurutnya, JIJF menjadi ruang adaptasi produsen terhadap perubahan pasar.
Kini, desain perhiasan bergeser: lebih ringan, tampil besar, namun tetap terjangkau.
Strategi ini lahir dari kreativitas pengrajin yang memadukan tradisi lokal dengan tren global.
“Kita dari dulu terkenal karena desain kita unik. Kita mix antara budaya Indonesia dan luar negeri. Hasilnya tidak ketinggalan zaman,” tambahnya.
Lebih lanjut, Iskandar menyebut pameran ini mendorong pengrajin terus berinovasi karena setiap event melahirkan tren baru.
Investasi Emas Masih Paling Aman

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia, Jeffrey Tumewu, menegaskan bahwa emas tetap menjadi investasi paling stabil di tengah ketidakpastian geopolitik global.
“Kalau bicara investasi yang terjamin, emas masih paling bagus. Barang lain bisa turun, tapi emas cenderung naik,” katanya.
Ia menilai daya beli masyarakat justru masih kuat, terlihat dari antusiasme pengunjung di hari pertama pameran.
Tren perhiasan saat ini pun menyesuaikan kondisi ekonomi: tampilan besar, bobot ringan, harga lebih ramah.
Edukasi Publik Jadi Fokus Utama
JIJF 2026 juga membawa misi edukatif: memperkenalkan perhiasan sebagai aset bernilai sekaligus karya kreatif.
Pengunjung dapat menyaksikan langsung teknologi terbaru industri perhiasan, mulai dari mesin produksi hingga desain digital.
Selain itu, masyarakat memperoleh wawasan tentang:
- kualitas logam mulia
- teknik pembuatan modern
- nilai budaya dalam desain perhiasan
Langkah ini sejalan dengan visi Indonesia Jewellery Fair untuk menjadikan pengrajin lokal sebagai “tuan rumah di negeri sendiri”.
Rangkaian Pameran Nasional 2026
Setelah Jakarta, Indonesia Jewellery Fair melanjutkan rangkaian acara:
- Bandung Jewellery Fair 2026
11–14 Juni 2026 | Balai Sudirman Bandung - Surabaya International Jewellery Fair 2026
15–18 Oktober 2026 | Shangri-La Hotel Surabaya
Rangkaian ini dirancang untuk memperluas jangkauan pasar UMKM perhiasan sekaligus memperkuat ekosistem industri dari hulu ke hilir.
Dorong UKM Jadi Penggerak Ekonomi Kerakyatan
Melalui pameran ini, penyelenggara berharap lahir wirausaha-wirausaha baru yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing global.
JIJF 2026 menjadi bukti bahwa kolaborasi pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha mampu menciptakan ruang tumbuh bagi ekonomi kerakyatan di era pasar bebas.
Sebagaimana ditegaskan Iskandar Husin:
“Kalau produsen buat barang tapi tidak dibeli, percuma. Maka kami hadirkan pameran ini supaya pasar bertemu langsung dengan pengrajin.”
PENUTUP
Jakarta International Jewellery Fair 2026 bukan sekadar pameran perhiasan.
Ia adalah barometer daya tahan industri kreatif nasional, ruang inovasi pengrajin, sekaligus pengingat bahwa emas masih menjadi jangkar investasi di tengah turbulensi global.
Dengan strategi adaptif, desain inovatif, dan dukungan lintas sektor, industri perhiasan Indonesia terus membuktikan diri sebagai pemain penting di pasar dunia.***(SB)
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
