PANGANDARAN, Supersemar News — Jauh sebelum Pangandaran ramai dipenuhi hotel, kendaraan wisata, dan deretan kafe di tepi pantai, seorang perempuan asal Paris datang ke desa pesisir itu hanya dengan rasa ingin tahu. Namanya Catherine Hirigoyen. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Pangandaran pada 1983, ia tidak menemukan kota wisata yang mewah. Yang ia lihat justru jalanan sederhana, rumah-rumah warga yang masih jarang, dan suasana pantai yang berjalan pelan tanpa banyak hiruk-pikuk. Bahkan kala itu, sebagian wilayah Pangandaran belum dialiri listrik.

‎Namun justru di situlah Catherine merasa seperti menemukan sesuatu yang selama ini ia cari. Sebuah kehidupan yang lebih tenang. Semuanya bermula ketika Catherine datang ke Indonesia untuk berlibur bersama teman-temannya. Setelah menghabiskan waktu di Bali, ia merasa satu bulan tidak cukup untuk mengenal Indonesia.

‎Jatuh Cinta dengan Pangandaran Nama Pangandaran sendiri ditemukan Catherine dari sebuah buku panduan perjalanan tentang desa nelayan kecil di selatan Jawa. “Waktu itu Pangandaran masih sangat sederhana. Bahkan masih ada jalur kereta Banjar–Cijulang,” kata Laura, anak Catherine, saat diwawancara, Minggu (17/5/2026). Laura mengatakan, ibunya jatuh cinta bukan karena kemewahan Pangandaran, melainkan karena suasananya yang terasa hidup dengan cara yang sederhana. Di sana orang-orang mudah menyapa, waktu berjalan lebih lambat, dan kehidupan terasa tidak terlalu diburu banyak tuntutan. Bagi Catherine, Pangandaran menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan di kota besar Eropa yakni ruang untuk benar-benar menikmati hidup.

‎Slow living, tanpa ia sadari, sudah ia temukan jauh sebelum istilah itu ramai dibicarakan. Menurut Laura, ibunya merasa kehidupan di Indonesia jauh lebih hangat dan fleksibel. “Mama merasa kehidupan di Indonesia sangat welcoming, hidup, dan fleksibel,” ujarnya. Di Pangandaran pula Catherine bertemu seorang pria lokal yang kemudian menjadi ayah dari anak-anaknya. Meski begitu, keputusan menetap tidak diambil begitu saja. Ia sempat kembali ke Paris untuk bekerja. Namun setelah pulang pergi antara Prancis dan Indonesia, Catherine akhirnya memilih menetap di Pangandaran.

‎Pilihan itu perlahan membentuk hidup yang kini ia jalani selama puluhan tahun. Di sebuah penginapan sederhana bernama Mini Tiga Homestay, Catherine membangun kehidupannya dengan cara yang jauh dari gemerlap industri wisata modern. Bangunan homestay itu tidak dibuat mewah. Tidak ada konsep eksklusif ataupun fasilitas berlebihan. Namun bagi Catherine, tempat itu bukan sekadar usaha penginapan. Ia menjadikannya ruang untuk bertemu.

‎Mengurus Homestay secara Mandiri Laura mengatakan, sang ibu sampai sekarang masih mengurus homestay itu sendiri karena ingin dekat dengan tamu-tamunya. Ia senang menyapa mereka secara langsung, berbincang santai, hingga mendengar cerita perjalanan orang-orang yang datang dari berbagai tempat. “Bagi mama, tamu itu seperti guest-friend,” kata Laura. Cara Catherine memandang tamu pun terlihat dari bagaimana ia menentukan harga penginapan. Di tengah kawasan wisata yang terus berkembang, ia memilih tetap mempertahankan tarif sederhana. Untuk hari biasa, harga kamar di Mini Tiga Homestay dimulai dari Rp 180 ribu termasuk sarapan.

‎“Gak bisa dimahal-mahalin katanya, paling dinaikkan kalau libur hari besar. Mama suka kasihan dengan tamu dan menganggapnya keluarga,” ujar Laura. Dulu, sebagian besar tamu Mini Tiga datang dari luar negeri, terutama Prancis. Kini, setelah kisah Catherine ramai di media sosial, semakin banyak wisatawan domestik datang karena penasaran dengan perempuan Paris yang memilih hidup sederhana di Pangandaran. Bagi banyak orang, kisah itu terasa tidak biasa. Di saat banyak orang bermimpi pindah ke kota besar atau hidup di negara maju, Catherine justru menemukan rasa pulang di sebuah desa pesisir selatan Jawa.

‎Ia menyaksikan sendiri Pangandaran berubah dari daerah tanpa listrik menjadi destinasi wisata yang ramai. Jalur kereta Banjar–Cijulang yang dulu membawanya menuju pantai kini tinggal cerita. Rumah-rumah sederhana nelayan perlahan berganti dengan bangunan usaha wisata. Namun di tengah semua perubahan itu, satu hal yang membuat Catherine bertahan tampaknya tidak pernah berubah, kehangatan hidup yang sederhana. Laura mengatakan, ibunya tidak pernah mencari kehidupan yang sempurna. “Mama selalu menemukan kebahagiaan di apa yang ada,” ujarnya.

‎Seiring berjalannya waktu, banyak yang berubah di Mini Tiga. Suami Ibu Catherine, yaitu Bapak Sukmaja, adalah seorang seniman. Melalui sentuhannya pula homestay Mini Tiga juga lebih berwarna.  Beberapa tamu yang pernah berkunjung pasti hafal dengan keunikannya, karena ada sentuhan seni yang begitu terasa di setiap sudutnya. Hingga sekarang, Mini Tiga tetap terasa sangat personal dan penuh nuansa kekeluargaan.