
Richa Novisha Tak Kuasa Menahan Air Mata, Oka “Lupus” Sugawa Beri Apresiasi, Vera Maureen Ajak Masyarakat Ramaikan Perfilman Nasional
SUPERSEMAR NEWS | JAKARTA — Suasana haru bercampur bangga menyelimuti gala premiere film horor terbaru produksi Abelle Pictures, Lastri: Arwah Kembang Desa, yang berlangsung di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, Kamis (9/7/2026). Pemutaran perdana film yang diangkat dari kisah urban legend Kabupaten Pati, Jawa Tengah, tersebut bukan sekadar menjadi ajang peluncuran karya terbaru sineas nasional, tetapi juga menjadi momen penuh emosi karena merupakan penampilan terakhir almarhum Gary Iskak di layar lebar.
Ratusan tamu undangan yang terdiri atas insan perfilman, pemain, kru produksi, media, serta para pecinta film nasional memenuhi lokasi gala premiere sejak sore hari. Antusiasme para tamu terlihat begitu tinggi. Tidak sedikit yang ingin menyaksikan secara langsung film yang sejak awal disebut-sebut memiliki perpaduan kuat antara horor, drama keluarga, serta kisah cinta yang tragis.
Berbeda dengan kebanyakan film horor yang hanya mengandalkan kejutan visual, Lastri: Arwah Kembang Desa menghadirkan cerita yang lebih kompleks. Film ini mengangkat isu fitnah, kecemburuan sosial, pengorbanan, hingga balas dendam yang dibungkus dalam nuansa budaya lokal. Pendekatan tersebut membuat film ini tidak hanya menyajikan ketegangan, tetapi juga menghadirkan refleksi mengenai dampak buruk prasangka dan kebencian yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang.
Film Terakhir Gary Iskak Menjadi Momen Penuh Kenangan

Momen paling emosional dalam gala premiere terjadi ketika istri almarhum Gary Iskak, Richa Novisha, hadir untuk memberikan dukungan kepada seluruh pemain dan kru produksi.
Kehadiran Richa menjadi perhatian para tamu undangan. Wajahnya tampak berusaha tegar, namun rasa haru sulit disembunyikan ketika harus kembali menyaksikan sosok suaminya tampil di layar lebar melalui karya terakhir yang berhasil diselesaikan sebelum kepergiannya.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Richa mengaku bahwa film tersebut menjadi kenangan yang sangat berharga bagi dirinya dan keluarga.
“Senang sekali karena masih ada kenangan dan memori yang bisa kami lihat kembali. Dengan menonton film ini, rasa rindu kepada Gary sedikit terobati. Jujur saya penasaran dengan hasil akhirnya, tetapi sebenarnya saya juga tidak kuat untuk menontonnya,” ujar Richa Novisha.
Ungkapan tersebut sontak membuat suasana gala premiere berubah menjadi sangat emosional. Sejumlah tamu undangan tampak memberikan tepuk tangan sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum Gary Iskak yang selama puluhan tahun telah memberikan kontribusi besar bagi dunia perfilman Indonesia.
Bagi para pelaku industri film nasional, Gary Iskak dikenal sebagai aktor yang memiliki dedikasi tinggi terhadap profesinya. Berbagai karakter yang pernah diperankannya selalu meninggalkan kesan kuat di hati penonton. Oleh karena itu, Lastri: Arwah Kembang Desa menjadi warisan artistik yang memiliki nilai historis tersendiri.
Tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi industri perfilman nasional yang kehilangan salah satu aktor terbaiknya.
Horor yang Mengangkat Nilai Kemanusiaan
Disutradarai oleh Hendry Tivo, film ini menghadirkan pendekatan berbeda dibandingkan film horor kebanyakan.
Cerita dibangun secara perlahan melalui konflik sosial yang terjadi di sebuah desa. Penonton diajak memahami bagaimana fitnah dan kecemburuan mampu menghancurkan kehidupan seseorang hingga melahirkan dendam yang tidak pernah padam.
Dengan demikian, unsur horor dalam film ini bukan hanya muncul melalui penampakan makhluk gaib, melainkan juga berasal dari perilaku manusia yang dipenuhi kebencian dan iri hati.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu kekuatan utama Lastri: Arwah Kembang Desa, sehingga film ini memiliki pesan moral yang kuat di balik berbagai adegan menegangkan.
Hana Saraswati: Lastri Adalah Simbol Kesetiaan
Sementara itu, pemeran utama Hana Saraswati menjelaskan bahwa karakter Lastri bukan hanya sosok perempuan yang menjadi korban fitnah.
Lebih dari itu, Lastri merupakan gambaran tentang perempuan yang memiliki kesetiaan luar biasa kepada suaminya.
Menurut Hana, cinta sejati bukan sekadar tentang kebersamaan, tetapi juga tentang perjuangan yang tetap bertahan meski harus menghadapi berbagai penderitaan.
“Menurut Lastri, cinta adalah perjuangan. Sampai akhir hayatnya dia masih mencintai suaminya. Banyak perempuan yang memiliki cinta sedalam itu kepada suaminya,” ujar Hana Saraswati.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa film ini tidak hanya mengangkat kisah horor, tetapi juga menyampaikan pesan mengenai kesetiaan, pengorbanan, dan kekuatan cinta yang mampu bertahan bahkan setelah kematian.
Hal inilah yang membuat Lastri: Arwah Kembang Desa memiliki karakter berbeda dibandingkan film horor pada umumnya.
Sinopsis: Dendam yang Tertunda Selama 30 Tahun
Film ini mengisahkan kehidupan Lastri, seorang perempuan cantik yang dikenal sebagai kembang desa pada tahun 1995.
Lastri menikah dengan Turenggo, seorang juragan tambang pasir yang sukses.
Namun, kebahagiaan rumah tangga mereka justru memicu kecemburuan dari dua orang yang memiliki kepentingan berbeda, yakni Darman, pesaing bisnis Turenggo, serta Atmi, perempuan yang diam-diam menyimpan rasa cinta kepada Turenggo.
Didorong oleh rasa iri dan ambisi, Darman bersama Atmi menyebarkan berbagai fitnah yang menghancurkan nama baik Lastri.
Tekanan sosial yang terus menerus diterima membuat Lastri kehilangan harapan hingga akhirnya memilih mengakhiri hidupnya.
Tiga puluh tahun kemudian, arwah Lastri kembali untuk menuntut balas kepada mereka yang telah menghancurkan kehidupannya.
Cerita tersebut dikemas dengan sinematografi yang kuat serta nuansa budaya Jawa yang masih sangat kental, sehingga memberikan pengalaman menonton yang tidak hanya menegangkan tetapi juga emosional.
Oka “Lupus” Sugawa: Film Berkualitas Adalah Investasi Masa Depan Perfilman Indonesia

Tidak hanya keluarga pemain yang merasakan kebanggaan pada malam gala premiere tersebut. Aktor senior Oka “Lupus” Sugawa juga hadir memberikan dukungan penuh terhadap film Lastri: Arwah Kembang Desa sekaligus menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pemain, kru produksi, serta sineas yang terlibat.
Menurut Oka Sugawa, film ini membuktikan bahwa industri perfilman Indonesia terus berkembang dengan menghadirkan karya yang tidak sekadar mengejar sensasi, tetapi juga mengedepankan kualitas cerita, kekuatan karakter, serta nilai-nilai budaya lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ia menilai Lastri: Arwah Kembang Desa memiliki keseimbangan antara unsur hiburan dan pesan moral. Di balik kisah horor yang mencekam, film tersebut menyampaikan pelajaran penting mengenai fitnah, iri hati, pengkhianatan, hingga konsekuensi dari setiap perbuatan manusia.
“Film seperti ini patut diapresiasi karena mengangkat cerita lokal dengan kualitas yang semakin baik. Perfilman Indonesia memiliki banyak potensi yang harus terus didukung. Saya berharap masyarakat semakin mencintai film karya anak bangsa dengan menontonnya langsung di bioskop,” ujar Oka.
Lebih lanjut, Oka juga memberikan penghormatan kepada almarhum Gary Iskak yang menurutnya telah memberikan dedikasi luar biasa selama berkarier di dunia seni peran.
Menurutnya, Gary merupakan sosok pekerja keras yang selalu total dalam memerankan setiap karakter. Oleh sebab itu, karya terakhirnya melalui Lastri: Arwah Kembang Desa menjadi warisan yang layak dikenang oleh masyarakat Indonesia.
Apresiasi tersebut disambut hangat oleh para tamu undangan yang hadir. Kehadiran sejumlah aktor senior dalam gala premiere menjadi bukti bahwa solidaritas antarinsan perfilman Indonesia tetap terjaga dan semakin kuat.

Kolaborasi Pemain Menjadi Kekuatan Cerita
Selain Hana Saraswati dan Gary Iskak, film ini juga diperkuat oleh sejumlah pemain yang mampu menghidupkan konflik dalam cerita.
Karakter Darman yang diperankan Yama Carlos tampil sebagai sosok antagonis dengan emosi yang kuat. Tokoh tersebut menjadi salah satu pemicu tragedi yang dialami Lastri akibat fitnah dan ambisi pribadi.
Sementara itu, karakter Atmi digambarkan sebagai perempuan yang dikuasai rasa cemburu sehingga mengambil jalan yang akhirnya menghancurkan kehidupan orang lain.
Konflik yang dibangun melalui hubungan antartokoh tersebut membuat alur cerita terasa lebih realistis dan emosional. Penonton tidak hanya dibuat terkejut oleh berbagai adegan horor, tetapi juga diajak memahami akar persoalan yang menjadi penyebab munculnya teror arwah Lastri.
Wawancara Eksklusif Supersemar News Bersama Vera Maureen

Di sela-sela gala premiere, CEO Faytastic Pro sekaligus Dewan Pembina Supersemar News, Rifay Marzuki, berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan salah satu pemeran film, Vera Maureen.
Dalam kesempatan tersebut, Vera mengaku sangat bersyukur dipercaya menjadi bagian dari produksi Lastri: Arwah Kembang Desa.
Meski hanya memerankan tokoh pendukung bernama Ibu Sri, ia menganggap setiap karakter memiliki peranan penting dalam membangun keseluruhan cerita.
“Di film ini saya memerankan Ibu Sri. Pengalamannya cukup menantang, terutama karena karakter saya banyak bergosip bersama warga lainnya. Walaupun bukan tokoh utama, saya tetap berusaha memberikan kemampuan terbaik agar penonton bisa menikmati setiap adegan, bahkan tertawa pada bagian-bagian tertentu,” ujar Vera kepada Supersemar News.
Menurut Vera, membangun karakter sederhana justru membutuhkan pendalaman yang tidak mudah. Ia harus mampu menghadirkan sosok warga desa yang terasa alami sehingga mampu mendukung jalannya cerita.
“Saya ingin karakter yang saya perankan benar-benar terasa hidup. Walaupun porsinya tidak besar, saya berharap bisa memberikan warna tersendiri dalam film ini,” katanya.
Ucapan Terima Kasih kepada Seluruh Kru Produksi
Vera juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh kru yang selama proses produksi memberikan dukungan penuh kepada seluruh pemain.
Ia mengaku mendapatkan pengalaman baru selama menjalani proses syuting bersama para pemain senior maupun pemain muda.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh kru, sutradara, casting director, dan tim produksi yang sudah memberikan kesempatan kepada saya bermain di film ini. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga besar Lastri,” ungkapnya.
Menurut Vera, suasana kekeluargaan selama proses produksi menjadi salah satu faktor yang membuat seluruh pemain mampu menampilkan kemampuan terbaik mereka di depan kamera.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat terus berlanjut dalam berbagai proyek perfilman Indonesia di masa mendatang.
Harapan untuk Perfilman Nasional
Lebih lanjut, Vera berharap Lastri: Arwah Kembang Desa mampu memberikan warna baru bagi perfilman Indonesia, khususnya dalam genre horor.
Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini semakin cerdas dalam memilih tontonan. Oleh karena itu, para sineas harus terus menghadirkan film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki kualitas cerita yang kuat.
“Saya berharap film ini bisa diterima masyarakat Indonesia. Mudah-mudahan menjadi warna baru bagi perfilman nasional dan saya juga berharap dapat kembali bekerja sama dengan seluruh tim produksi di kesempatan berikutnya,” ujarnya.
Vera menambahkan bahwa perkembangan industri perfilman Indonesia saat ini sangat menggembirakan karena semakin banyak karya yang mengangkat budaya lokal dengan kualitas produksi yang mampu bersaing.
Menutup wawancara bersama Supersemar News, Vera mengajak masyarakat Indonesia untuk menyaksikan film tersebut secara langsung di bioskop.
“Jangan lupa nonton film Lastri: Arwah Kembang Desa yang akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 16 Juli 2026. Bagaimana lengkap ceritanya? Makanya jangan sampai ketinggalan. Saksikan langsung di bioskop bersama keluarga dan orang-orang terdekat,” tutup Vera Maureen.
Melalui wawancara tersebut, terlihat jelas bahwa seluruh pemain memiliki optimisme besar terhadap sambutan masyarakat terhadap film ini. Dukungan dari para aktor senior, dedikasi para pemain, serta kerja keras seluruh kru produksi menjadi modal penting dalam menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkaya khazanah perfilman nasional.
Mengangkat Urban Legend Lokal Menjadi Kekuatan Perfilman Nasional
Di tengah persaingan industri hiburan yang semakin kompetitif, Lastri: Arwah Kembang Desa hadir sebagai salah satu film yang menawarkan pendekatan berbeda. Tidak sekadar menyuguhkan adegan-adegan horor yang mengandalkan efek kejut, film ini justru mengangkat kisah yang berakar dari urban legend Kabupaten Pati, Jawa Tengah, lalu mengemasnya menjadi tontonan yang sarat nilai budaya, emosional, sekaligus relevan dengan kehidupan masyarakat.
Langkah tersebut menjadi bukti bahwa cerita rakyat Indonesia masih menyimpan potensi besar untuk diangkat ke layar lebar. Dengan pengemasan yang tepat, legenda lokal mampu menjadi karya sinematik yang tidak hanya menarik perhatian penonton domestik, tetapi juga memiliki peluang untuk dikenal di tingkat internasional.
Melalui sentuhan sutradara Hendry Tivo, kisah Lastri berkembang menjadi sebuah drama psikologis yang memperlihatkan bagaimana fitnah, iri hati, keserakahan, dan ambisi dapat menghancurkan kehidupan seseorang. Pesan moral inilah yang menjadi kekuatan utama film tersebut.
Lebih dari Sekadar Horor
Berbeda dengan film horor yang hanya berfokus pada kemunculan makhluk gaib, Lastri: Arwah Kembang Desa justru mengajak penonton memahami penyebab lahirnya dendam yang membelenggu arwah Lastri selama puluhan tahun.
Melalui alur cerita yang dibangun secara bertahap, penonton diajak menyaksikan bagaimana sebuah kebohongan yang terus dipelihara akhirnya berubah menjadi tragedi besar. Fitnah yang dilakukan Darman dan Atmi bukan hanya merusak nama baik Lastri, tetapi juga menghancurkan masa depan seorang perempuan yang sebenarnya hanya ingin hidup bahagia bersama suaminya.
Konflik tersebut menjadi cerminan bahwa teror paling menakutkan sering kali bukan berasal dari dunia gaib, melainkan dari perilaku manusia sendiri. Kebencian, hasad, dan kepentingan pribadi dapat melahirkan luka yang sulit disembuhkan, bahkan melampaui batas kehidupan.
Pesan tersebut membuat film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan ruang refleksi bagi masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi informasi, menjaga kehormatan sesama, serta menghindari perilaku menyebarkan fitnah yang dapat menghancurkan kehidupan orang lain.
Apresiasi untuk Seluruh Tim Produksi
Kesuksesan sebuah film tentu tidak hanya ditentukan oleh para pemain yang tampil di depan kamera. Di balik layar, terdapat kerja keras ratusan kru yang memastikan setiap proses produksi berjalan sesuai rencana.
Mulai dari penulis naskah, sutradara, sinematografer, penata artistik, penata suara, hingga tim pascaproduksi, seluruhnya memiliki kontribusi penting dalam menghadirkan kualitas visual dan cerita yang mampu dinikmati penonton.
Semangat kolaborasi tersebut juga diakui oleh para pemain, termasuk Vera Maureen, yang menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh kru atas profesionalisme dan suasana kekeluargaan yang terjalin selama proses syuting.
Kolaborasi inilah yang menjadi fondasi penting dalam menghasilkan film yang tidak hanya layak ditonton, tetapi juga mampu meningkatkan standar perfilman nasional.
Momentum Kebangkitan Perfilman Indonesia
Gala premiere Lastri: Arwah Kembang Desa juga menjadi gambaran bahwa industri perfilman Indonesia terus bergerak ke arah yang lebih baik. Antusiasme para pelaku industri, media, serta masyarakat menunjukkan bahwa karya anak bangsa semakin mendapatkan tempat di hati publik.
Dalam beberapa tahun terakhir, film-film Indonesia berhasil mencatatkan peningkatan kualitas dari sisi cerita, akting, teknologi produksi, hingga pemasaran. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi perfilman nasional untuk terus berkembang dan bersaing di pasar internasional.
Dukungan masyarakat dengan menonton film Indonesia secara legal di bioskop menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberlangsungan industri kreatif nasional. Semakin tinggi apresiasi penonton, semakin besar pula peluang lahirnya karya-karya berkualitas di masa depan.
Warisan Terakhir Gary Iskak
Bagi keluarga, sahabat, dan para penggemarnya, Lastri: Arwah Kembang Desa memiliki arti yang jauh lebih dalam dibandingkan sebuah film biasa.
Film ini menjadi karya terakhir almarhum Gary Iskak, seorang aktor yang selama puluhan tahun telah mewarnai dunia perfilman dan televisi Indonesia dengan berbagai karakter yang ikonik.
Dedikasi, profesionalisme, serta kecintaannya terhadap dunia seni menjadi inspirasi bagi banyak aktor muda. Melalui film ini, publik kembali diingatkan akan kontribusi besar Gary Iskak terhadap perkembangan industri perfilman nasional.
Tepuk tangan yang menggema pada akhir pemutaran perdana menjadi simbol penghormatan atas perjalanan panjang seorang seniman yang telah meninggalkan jejak berarti dalam sejarah perfilman Indonesia.
Supersemar News Menilai
Supersemar News menilai Lastri: Arwah Kembang Desa memiliki potensi menjadi salah satu film horor Indonesia yang paling diperhitungkan pada tahun 2026. Film ini menawarkan perpaduan yang seimbang antara unsur horor, drama keluarga, kisah cinta, budaya lokal, dan pesan moral yang kuat.
Kehadiran para aktor senior, pemain muda berbakat, serta dukungan penuh dari seluruh tim produksi menunjukkan bahwa perfilman nasional terus berkembang dengan menghadirkan karya yang berkualitas.
Selain menjadi momen emosional karena merupakan penampilan terakhir Gary Iskak di layar lebar, film ini juga menjadi bukti bahwa cerita-cerita lokal Indonesia masih memiliki daya tarik yang besar apabila dikemas secara profesional.
Apresiasi yang disampaikan oleh Oka “Lupus” Sugawa, antusiasme para pemain, serta optimisme Vera Maureen semakin memperlihatkan bahwa Lastri: Arwah Kembang Desa lahir dari semangat kolaborasi yang kuat untuk memajukan industri perfilman Indonesia.
Ajakan Menonton
Melalui wawancara eksklusif bersama Supersemar News, seluruh pemain berharap masyarakat Indonesia memberikan dukungan nyata terhadap perfilman nasional dengan menyaksikan film ini di bioskop.
Lastri: Arwah Kembang Desa dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 16 Juli 2026.
Film ini tidak hanya menghadirkan ketegangan yang memacu adrenalin, tetapi juga mengajak penonton merenungkan arti cinta, kesetiaan, pengorbanan, serta bahaya fitnah yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang.
Seperti yang disampaikan Vera Maureen dalam penutup wawancaranya:
“Jangan lupa nonton film Lastri: Arwah Kembang Desa yang akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 16 Juli 2026. Bagaimana lengkap ceritanya? Makanya, jangan sampai ketinggalan. Saksikan langsung di bioskop dan dukung terus perfilman Indonesia.”
Dengan perpaduan cerita yang kuat, kualitas produksi yang matang, jajaran pemain yang solid, serta nilai-nilai budaya yang diangkat, Lastri: Arwah Kembang Desa berpeluang menjadi salah satu film yang meninggalkan kesan mendalam bagi penonton sekaligus memperkuat optimisme terhadap masa depan perfilman nasional Indonesia.***(SB)
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
Editor : Sangga Buana
Sumber : Liputan Gala Premiere Lastri: Arwah Kembang Desa | Keterangan para pemain dan tamu undangan | Abelle Pictures | Supersemar News.
