
SUPERSEMAR NEWS | KUNINGAN – Gelombang perlawanan warga Desa Cihideung Hilir, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, akhirnya mencapai titik puncak. Pada Senin, 5 Januari 2026, ribuan warga turun ke jalan, mengepung Balai Desa Cihideung Hilir, dan memaksa Kepala Desa Dede Agus Sugara mundur bersama 12 perangkat desa.
Aksi demonstrasi tersebut tidak hanya menjadi luapan emosi sesaat, melainkan akumulasi panjang dari kekecewaan, kemarahan, dan tuntutan transparansi atas pengelolaan Dana Desa yang selama ini dipertanyakan warga.
Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu aksi warga terbesar dalam sejarah Kecamatan Cidahu, sekaligus menjadi alarm keras bagi tata kelola pemerintahan desa di Kabupaten Kuningan.
Aksi Massa Dimulai Sejak Pagi, Balai Desa Dikepung Total
Sejak pukul 08.00 WIB, arus warga dari berbagai dusun di Desa Cihideung Hilir mulai berdatangan secara bergelombang. Mereka memadati halaman balai desa, membawa spanduk, poster tuntutan, pengeras suara, hingga mobil komando.
Akibat membludaknya massa, akses jalan utama desa lumpuh total. Arus lalu lintas di sekitar lokasi tersendat karena warga meluber hingga ke badan jalan. Situasi ini langsung menarik perhatian masyarakat luas dan pengguna jalan lintas kecamatan.
Menurut pantauan SUPERSEMAR NEWS, warga datang tidak hanya dari kalangan muda, tetapi juga tokoh masyarakat, ibu rumah tangga, hingga lansia yang mengaku sudah terlalu lama menahan kekecewaan.
Spanduk Satir dan Simbol Kemewahan Jadi Sorotan
Memasuki pukul 09.00 WIB, suasana aksi semakin memanas. Sejumlah orator bergantian menyampaikan orasi dari atas mobil komando. Nada bicara meninggi, penuh tekanan, namun tetap terarah pada satu tuntutan utama: pertanggungjawaban Dana Desa.
Salah satu spanduk raksasa yang dibentangkan massa menjadi pusat perhatian publik. Spanduk tersebut menampilkan ilustrasi seorang pria bermahkota bak raja, dikelilingi simbol kemewahan seperti:
- Mobil mewah
- Sepeda motor besar
- Tumpukan uang
- Bangunan megah
Di bagian bawah spanduk tertulis kalimat bernada sindiran keras yang menyiratkan dugaan penyalahgunaan Dana Desa.
Pesan visual tersebut menjadi simbol kemarahan warga terhadap ketimpangan antara laporan administrasi dan realitas di lapangan.
Referensi nasional soal Dana Desa:
🔗 https://kemendesa.go.id
Ban Dibakar, Aparat Gabungan Turun Tangan
Tak lama berselang, massa membakar ban bekas di tengah kerumunan. Kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi dan terlihat hingga radius beberapa kilometer.
Untuk mencegah eskalasi konflik, aparat gabungan TNI, Polri, dan Satpol PP langsung membentuk barikade pengamanan. Petugas memadamkan api dan mengatur jarak antara massa dengan gedung balai desa.
Meski sempat diwarnai teriakan dan tekanan psikologis, aparat berhasil menjaga situasi tetap terkendali hingga pukul 10.30 WIB.
Warga: Dialog Sudah Buntu, Demo Jalan Terakhir
Koordinator lapangan aksi, Iqbal, menegaskan bahwa demonstrasi ini merupakan langkah terakhir warga setelah berbagai jalur dialog tidak membuahkan hasil.
Menurutnya, warga sudah berulang kali meminta klarifikasi sejak Oktober 2025, namun tidak pernah mendapat jawaban memuaskan dari pemerintah desa.
“Program ada di dokumen, tapi hilang di lapangan. Jalan rusak, saluran air tak selesai, bantuan tak jelas. Ini bukan soal administrasi, ini soal keadilan,” tegas Iqbal di hadapan massa.
Iqbal juga menekankan bahwa warga tidak menolak pembangunan, tetapi menuntut transparansi, akuntabilitas, dan kejujuran.
Negosiasi Alot, Tekanan Massa Tak Terbendung
Sekitar pukul 11.00 WIB, perwakilan warga akhirnya diterima untuk berdialog dengan pihak pemerintah desa dan Kecamatan Cidahu. Proses negosiasi berlangsung tegang, alot, dan penuh tekanan moral.
Di tengah desakan ribuan warga di luar balai desa, pembicaraan akhirnya menghasilkan keputusan krusial yang sejak awal menjadi tuntutan utama aksi.
Resmi Mundur: Kepala Desa dan 12 Perangkat Lengser
Dalam forum tersebut, Kepala Desa Cihideung Hilir, Dede Agus Sugara, secara resmi menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya. Tidak hanya itu, 12 perangkat desa juga ikut menyatakan mundur secara kolektif.
Pengunduran diri tersebut dibuktikan melalui penandatanganan surat resmi di hadapan perwakilan warga, aparat keamanan, dan pihak kecamatan.
Begitu kabar pengunduran diri diumumkan, sorak sorai dan tepuk tangan pecah dari ribuan warga yang sejak pagi bertahan di lokasi.
Warga Tetap Bertahan, Kawal Proses Hukum
Meski tuntutan utama telah tercapai, hingga pukul 11.30 WIB, massa belum membubarkan diri. Warga memilih tetap bertahan untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai mekanisme hukum pemerintahan desa.
Sebagian perwakilan warga melanjutkan dialog dengan pihak Kecamatan Cidahu guna membahas:
- Penunjukan pejabat sementara (Pj) kepala desa
- Audit Dana Desa
- Pengawasan lanjutan oleh instansi berwenang
Regulasi pemerintahan desa:
🔗 https://peraturan.bpk.go.id
Alarm Keras bagi Tata Kelola Desa di Kuningan
Peristiwa Cihideung Hilir menjadi peringatan serius bagi seluruh pemerintahan desa di Kabupaten Kuningan. Transparansi, partisipasi publik, dan akuntabilitas bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mutlak.
Aksi ini menunjukkan bahwa warga desa kini semakin melek hukum, berani bersuara, dan siap mengawal hak-haknya.
SUPERSEMAR NEWS mencatat, demonstrasi ini bukan sekadar peristiwa lokal, melainkan cermin perubahan kesadaran politik warga desa di era keterbukaan informasi.****(SB)
SupersemarNewsTeam
