Warga Sukabumi Rogoh Rp500 Juta Bangun Tanggul, Negara Absen

- Jurnalis

Senin, 9 Februari 2026 - 04:43 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Pembangunan tanggul sungai berbahan beton di Desa Sangrawayang, Sukabumi, dilakukan warga dengan dana pribadi hingga Rp500 juta untuk menahan abrasi Sungai Ciseureuh yang mengancam rumah-rumah penduduk.

SUPERSEMAR NEWS – Jakarta — Ketika negara masih sibuk melakukan peninjauan, warga di Kabupaten Sukabumi justru sudah bergerak lebih jauh: bertindak nyata.

Di Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, Jawa Barat, seorang warga merogoh kocek pribadi hingga Rp500 juta untuk membangun Tembok Penahan Tanah (TPT) beton di sepanjang aliran Sungai Ciseureuh. Langkah ini dilakukan demi mencegah banjir susulan dan longsor yang mengancam delapan rumah warga.

Ironisnya, pembangunan tanggul sungai tersebut bukan berasal dari APBD, bukan pula APBN. Melainkan dari dana pribadi masyarakat.

Sementara itu, pemerintah hanya datang, melihat, lalu pergi.

Abrasi 20 Meter, Rumah Warga Menggantung di Tebing Sungai

Bencana banjir bandang yang melanda Sukabumi pada 2024 meninggalkan luka panjang. Abrasi sungai telah menggerus daratan hingga 20 meter, menyisakan deretan rumah yang kini berdiri di bibir jurang.

Secara visual, kondisi ini menyerupai bom waktu.

Setiap hujan deras turun, warga hidup dalam kecemasan.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Sangrawayang, Heris Sponga, menyampaikan bahwa masyarakat sudah terlalu lama menunggu respons konkret pemerintah.

“Pemerintah cuma datang lihat-lihat. Tidak ada solusi. Pak Atok berani keluar hampir Rp500 juta supaya rumah warga tidak hanyut,” tegas Heris, Minggu (8/2/2026).

Dengan kata lain, warga memilih bertindak karena negara tak hadir secara fungsional.

Baca Juga :  Pengaduan Dugaan Pengancaman di Johar Baru Ditindaklanjuti Polisi, Berujung Kesepakatan Penyelesaian Utang
Tanggul Sungai Ciseureuh di Desa Sangrawayang dibangun swadaya warga Sukabumi untuk cegah banjir dan longsor, menyusul lambannya respons pemerintah daerah.

Swadaya Rakyat Menggantikan Fungsi Negara

Pembangunan TPT dilakukan secara gotong royong. Beton dituang, pondasi diperkuat, dan tanggul didirikan secara bertahap.

Namun di media sosial, muncul tudingan bahwa warga mempersempit aliran sungai.

Heris membantah keras.

Ia menegaskan bahwa betonisasi dilakukan di atas tanah pribadi bersertifikat, bukan badan sungai.

Langkah ini justru menjadi upaya terakhir untuk menyelamatkan pemukiman.

Tanah Pribadi Hilang, Fasilitas Umum Ikut Hanyut

Ruyatna, warga Kampung Cisaat, menjadi saksi bagaimana derasnya Sungai Ciseureuh menghanyutkan MCK umum hingga kandang ternak.

Ia menjelaskan bahwa area yang kini dibeton sebelumnya merupakan bukit daratan.

“Sekarang yang dibangun itu tanah pribadi. Bukan menutup sungai, tapi mengamankan aset dan rumah warga. Alhamdulillah warga terbantu,” ujarnya.

Fakta ini menunjukkan bahwa abrasi sungai telah menghapus batas antara lahan pribadi dan badan air.

Jika tidak dicegah, pemukiman akan hilang satu per satu.

Pemerintah Akui Terhambat Anggaran

Camat Simpenan, Supendi, akhirnya angkat bicara.

Ia mengakui bahwa pemerintah daerah terhambat mekanisme anggaran.

“Kalau menunggu APBD tentu lama. Jadi ketika masyarakat berinisiatif, kami sangat berterima kasih,” katanya.

Pernyataan ini secara tidak langsung mengonfirmasi bahwa rakyat telah mengambil alih peran negara.

Baca Juga :  PANGKORMAR SAKSIKAN DRAGON BOAT PIALA PANGLIMA TNI, SEMANGAT OLAHRAGA DAN KEPEDULIAN MENGALIR DI DANAU SUNTER

Padahal, wilayah tersebut juga menopang jembatan provinsi menuju Geopark Ciletuh, destinasi strategis nasional.

Jika abrasi berlanjut, akses publik akan lumpuh.

Infrastruktur Vital Terancam, Tapi Respons Masih Normatif

Hingga kini, belum ada kepastian proyek permanen dari pemerintah provinsi maupun pusat.

Yang ada baru:

✔ Kunjungan lapangan
✔ Dokumentasi
✔ Pernyataan normatif

Tanpa jadwal pembangunan.

Tanpa kepastian anggaran.

Tanpa perlindungan hukum bagi warga yang sudah mengeluarkan uang sendiri.

Potret Ketimpangan: Saat Rakyat Bertaruh Nyawa, Negara Menunggu Prosedur

Kasus Sukabumi bukan sekadar cerita lokal.

Ini cermin nasional.

Fenomena serupa juga terjadi di berbagai daerah rawan bencana seperti di Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi.

Menurut data BNPB (https://bnpb.go.id), abrasi dan banjir bandang menjadi ancaman utama kawasan bantaran sungai di Indonesia.

Namun mitigasi struktural masih minim.

Editorial SUPERSEMAR NEWS

Ketika warga sudah membangun tanggul dengan uang sendiri, pertanyaannya sederhana:

Untuk apa negara?

Jika rakyat sudah mengeluarkan Rp500 juta demi keselamatan lingkungan, maka pemerintah seharusnya hadir bukan sekadar meninjau.

Melainkan:

➡ Menetapkan status darurat
➡ Mengucurkan dana rehabilitasi
➡ Menjamin keamanan hukum warga
➡ Membangun infrastruktur permanen

Bukan membiarkan solidaritas rakyat menggantikan tanggung jawab konstitusional.

Rakyat Bergerak, Negara Jangan Diam

Hingga laporan ini diturunkan, pembangunan TPT masih berlangsung secara swadaya.

Warga tetap bekerja di tengah ancaman hujan dan longsor.

Sementara itu, masyarakat hanya bisa berharap pemerintah segera bertransformasi dari pengamat menjadi pelaku.

Karena keselamatan warga bukan sekadar agenda kunjungan.

Melainkan kewajiban negara.***(SB)

SupersemarNewsTeam

Follow WhatsApp Channel supersemarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolda Metro Jaya Pimpin Rapat Konsolidasi, Perkuat Antisipasi Gangguan Kamtibmas di Jakarta
Kapolda Metro Jaya Pimpin Apel Green Policing, Perkuat Sinergi Polri dan Masyarakat
Kodam XXIX/Mambruk Resmi Berdiri di Nabire, Perkuat Pertanahan dan Pengabdian TNI AD di Papua Tengah
Kecelakaan di Simpang Pelita-Suprapto Sampit, Yamaha Lexi Rusak Parah Usai Terseret Truk CPO
Prajurit Korps Marinir Gempur Pantai Banongan dalam Operasi Amfibi Keris Woomera 2026
Marinir Indonesia Bekali Prajurit Australia Teknik Bertahan Hidup di Hutan
Dampak Ekonomi MotoGP Mandalika 2026 Capai Rp 5,2 Triliun, Naik 4,8 Persen
Perkuat Struktur Komando, KSAD Pimpin Sertijab 5 Pangdam dan Alih Kodal 6 Korem
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Kapolda Metro Jaya Pimpin Rapat Konsolidasi, Perkuat Antisipasi Gangguan Kamtibmas di Jakarta

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:10 WIB

Kapolda Metro Jaya Pimpin Apel Green Policing, Perkuat Sinergi Polri dan Masyarakat

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:46 WIB

Kodam XXIX/Mambruk Resmi Berdiri di Nabire, Perkuat Pertanahan dan Pengabdian TNI AD di Papua Tengah

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:45 WIB

Kecelakaan di Simpang Pelita-Suprapto Sampit, Yamaha Lexi Rusak Parah Usai Terseret Truk CPO

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:43 WIB

Prajurit Korps Marinir Gempur Pantai Banongan dalam Operasi Amfibi Keris Woomera 2026

Berita Terbaru