
PATI, Supersemar News – Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), menggelar aksi unjuk rasa, di depan Mapolresta Pati, Rabu (13/5/2026). Kali ini mereka menuntut Kapolresta Pati Kombes Pol Jaka Wahyudi mundur dari jabatannya. Bahkan kapolresta diminta keluar dari wilayah Pati.
Unjuk rasa ini menjadi rentetan aksi AMPB pada 13 Agustus 2025 silam. Kala itu, unjuk rasa menuntut eks Bupati Pati Sudewo lengser.
Meski unjuk rasa gagal melengserkan Bupati Sudewo, namun Sudewo justru ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Januari 2026. Kasus yang menjerat Sudewo yakni dugaan jual beli jabatan perangkat desa.
Aspirasi yang diluapkan AMPB di depan Polresta Pati, dimulai sejak pagi pukul 09.00 hingga pukul 13.00 WlB. Massa secara bergelombang mendatangi lokasi menggunakan sepeda motor dan kendaraan bak terbuka.
Meski sempat memanas, namun jalannya aksi berlangsung lancar dan damai. Perwakilan AMPB secara bergantian berorasi di depan Polreta Pati, yang dikawal ketat aparat gabungan.
Dari pantauan Liputan6.com, dua pentolan AMPB yakni Teguh Istiyanto dan Supriyono alias Botok sudah tiba di lokasi sejak awal. Keduanya tampak mengarahkan para demonstran agar tidak tersulut provokasi.
Teguh mengatakan, aparat tampaknya sengaja tidak menutup akses jalan di depan Polresta Pati. Sehingga pengguna lalu liintas tetap bisa lalu lalang berkendara di jalur tersebut.
”Teman-teman saya minta tidak terpancing. Jika ada warga lainnya yang akan melintas marah-marah, beri saja jalan dan jangan terpancing dan vidiokan saja, karena itu bisa saja merupakan jebakan agar kita dapat dikenai pasal,” ujar Teguh Istiyanto.
Tampak sejumlah aktivis AMPB mondar mandir mengangkut ratusan kardus air mineral hasil donasi warga. Kebutuhan logistik air minum ini, diangkut puluhan mobil menuju titik kumpul ke Polresta Pati.
Ali selaku koordinator massa AMPB menegaskan, pihaknya mengerahkan sekitar 5 ribu orang dalam aksi di depan Polresta Pati.
Puncaknya sekitar pukul 14.00 WIB, massa bergerak menyusuri sepanjang jalan Kota Pati menuju depan Polresta Pati. Unjuk rasa ini sebagai penyampaian tuntutan terkait ketidakprofesionalan kepolisian.
Supriyono alias Botok mengawali orasinya dengan memdesak Kapolresta Pati Kombes Jaka Wahyudi mundur dari jabatannya. Selain itu, Jaka didesak keluar dari Kabupaten Pati.
Botok menuding bahwa kepemimpinan Jaka Wahyudi sebagai Kapolresta Pati, diklaim tidak melakukan penegakan hukum secara benar dan diduga terlibat sejumlah skandal.
”Kita tuntut Kapolresta Pati (Jaka Wahyudi) pergi dari Pati, karena diduga ikut terlibat dalam skandal korupsi Bupati (Nonaktif) Sadewo,” tegas Botok dari mimbar demi.
Skandal Diduga Melibatkan Kapolresta Pati
Skandal yang diduga melibatkan Kapolresta Pati, kata Botok, yakni pengakuan lahan bengkok (tanah) desa menjadi milik dan dikuasai kepolisian.
”Karena dugaan itu, kita minta KPK segera menangkap Kapolresta Pati,” ucap Botok disambut tepuk tangan massa.
Botok juga menengarai sejumlah kasus sengaja tidak dituntaskan oleh Polresta Pati. Diantaranya aksi pembakaran rumah Koordinator AMPB Teguh Istiyanto.
”Selain itu, kasus pencabulan puluhan santriwati yang dilaporkan sejak tahun 2024 dan baru ditangani setelah viral pada April 2926,dserta kasus-kasus lain yang diduga sengaja tidak diproses, ” papar Botok.
Merespons aksi massa AMPB, Kapolresta Pati Kombes Jaka Wahyudi meminta seluruh personel wajib mengedepankan pendekatan humanis. Yakni selama kegiatan aksi demo yang berlangsung Rabu (13/5/2026).
”Saya ingatkan pelayanan terhadap aksi unjuk rasa merupakan bentuk pelayanan kepolisian kepada masyarakat, agar penyampaian aspirasi dapat berjalan aman, tertib dan kondusif,” pinta Jaka Wahyudi.
Jaka juga menyerukan aparat keamanan menghindari tindakan arogan, maupun provokatif di lapangan. Ribuan personil gabungan yang dikerahkan mengawal demo, berasal dari sejumlah polres sekitar Pati serta aparat TNI.
”Kami minta (aparat keamanan gabungan) memberikan pelayanan terbaik selama jalannya unjuk rasa. Kami akan menerima aspirasi warga,” pungkasnya.
