
JAKARTA, Supersemar News — Perusahaan tambang milik Hashim Djojohadikusumo, PT Arsari Tambang tengah mengkaji ekspansi bisnis timah melalui akuisisi tambang pada tiga negara di Afrika. Direktur Utama Arsari Tambang Aryo Djojohadikusumo mengatakan, perseroan saat ini tidak hanya berfokus pada pengembangan tambang di Indonesia, tetapi juga mulai memperluas portofolio mineral di luar negeri.
Perusahaan tambang milik adik Presiden Prabowo Subianto itu tengah mengkaji rencana ekspansi ke tiga negara di Afrika. Meski demikian, Aryo tidak menyebutkan negara-negara yang tengah dipertimbangkan oleh perusahaan. “Kami tidak hanya berada di Indonesia, tetapi juga berekspansi ke luar negeri. Saat ini kami sedang melihat peluang konsesi timah di Afrika. Kami sedang mengkaji tiga negara di Afrika untuk mencari konsesi timah baru,” ujar Aryo dalam pemaparannya di acara Metconnex 2026, Jakarta pada Selasa (12/5/2026). Aryo berharap rencana ekspansi tersebut ditargetkan dapat diumumkan dalam 1 hingga 2 tahun mendatang.
Selain ekspansi timah di Afrika, Arsari Tambang juga mulai masuk ke sektor potash di Kanada. Menurut Aryo, komoditas tersebut memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia karena menjadi komponen utama dalam pupuk NPK.
Aryo melanjutkan, arah pengembangan industri tambang ke depan tidak lagi hanya berfokus pada ekstraksi sumber daya alam, melainkan penciptaan nilai tambah melalui industrialisasi. Oleh karena itu, industrialisasi menjadi salah satu prioritas strategis perusahaan agar tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah global. Dia mencontohkan, perusahaan belum lama ini membangun pabrik timah solder melalui anak usahanya PT Solder Tin Andalan Indonesia (Stania), di Batam, Kepulauan Riau. Ke depannya, Aryo menargetkan pabrik timah milik Arsari Tambang tidak hanya memproduksi solder bar, tetapi juga produk-produk terkait lainnya, mulai dari solder paste yang digunakan pada industri semikonduktor, hingga tin chemical Seiring dengan hal tersebut, Aryo mengatakan pabrik baru milik perusahaan tersebut kini juga memiliki akses ke riset-riset di pasar lain seperti Singapura, Malaysia, China, hingga Amerika Serikat dan Eropa.
