
PONTIANAK, Supersemar News – Dominasi Kapuas Hulu sebagai daerah penghasil kratom terbesar di Kalimantan mulai mendapat tantangan serius.
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, kini mulai agresif mengembangkan industri kratom dengan kapasitas ekspor mencapai 200 hingga 300 ton daun kering per bulan ke pasar internasional.
Komoditas tanaman Mitragyna speciosa atau kratom dari Kukar kini dikirim ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, India, Thailand, hingga Republik Ceko.
Perkembangan pesat industri kratom Kukar bahkan menarik perhatian daerah lain.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara baru-baru ini melakukan studi banding ke Tenggarong untuk mempelajari tata kelola komoditas tersebut.
Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara, Sunggono, mengatakan pemerintah daerah kini serius menjadikan kratom sebagai salah satu motor penggerak ekonomi kerakyatan baru di luar sektor migas.
“Pemkab Kukar terus mendorong pengembangan kratom sebagai salah satu komoditas unggulan daerah yang memiliki potensi besar dalam meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya bagi para petani,” ujarnya, dilansir dari Prokal (grup Pontianak Post)
Berbeda dengan sebagian besar perdagangan kratom di Kalimantan Barat yang masih didominasi daun kering mentah, Kukar mulai bergerak ke tahap hilirisasi.
Wilayah Kecamatan Tenggarong Seberang kini berkembang menjadi sentra produksi utama dengan kemampuan pengolahan hingga menghasilkan produk ekstrak.
Langkah ini dinilai menjadi pembeda penting dalam persaingan industri kratom nasional.
“Permintaan kratom di pasar internasional terus meningkat. Ini merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan dengan meningkatkan kualitas dan produktivitas,” kata Sunggono.
Potensi ekonomi dari hilirisasi kratom juga disebut sangat besar. Dalam berbagai riset industri, daun kratom mentah hanya bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah per hektare per tahun.
Namun setelah diolah menjadi ekstrak berkadar tinggi atau bahan farmasi, nilainya dapat melonjak hingga miliaran rupiah per hektare.
Kondisi itu memunculkan tekanan baru bagi Kalimantan Barat, khususnya Kapuas Hulu, yang selama ini dikenal sebagai pusat produksi kratom terbesar di Indonesia tetapi masih minim hilirisasi industri.
Tanaman kratom di Kutai Kartanegara banyak tumbuh di sepanjang aliran Sungai Karang Mumus yang membentang hingga Samarinda.
Melalui dukungan pemerintah daerah dan mulai terbentuknya industri pengolahan, Kukar kini optimistis mampu menjadi salah satu pusat industri kratom nasional.
Meski demikian, perjalanan industri tersebut tidak sepenuhnya mulus. Sunggono mengakui sektor kratom sempat menghadapi tantangan besar terkait regulasi dan stigma negatif terhadap tanaman tersebut.
Namun situasi mulai berubah setelah pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian, BPOM, hingga BRIN mulai melakukan penelitian dan penataan tata kelola komoditas kratom untuk kepentingan ekspor.
“Perdagangan kratom sempat menghadapi kendala serius, baik di Kukar maupun secara nasional, namun kemudian pemerintah pusat mulai mengarahkan penelitian serta penataan tata kelola,” ujarnya.
Kini, di tengah meningkatnya permintaan dunia terhadap produk herbal alami, persaingan industri kratom Kalimantan diperkirakan tidak lagi hanya soal siapa penghasil terbesar.
Daerah yang mampu bergerak lebih cepat dalam hilirisasi, riset, dan industri ekstrak diprediksi akan menjadi pemain utama baru dalam pasar kratom global. (ars)
