
BEKASI, SUPERSEMAR NEWS — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al-Hidayah Pondok Melati, Bekasi, Rabu, 30 September 2026, tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial keagamaan. Di balik rangkaian acara yang melibatkan siswa-siswi dari lembaga pendidikan MTQ, MI, dan MTs, terdapat pesan pendidikan karakter yang kuat: menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Tema “Menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai Teladan Kehidupan Sehari-hari” menjadi benang merah kegiatan tersebut. Pesan itu diperkuat melalui berbagai penampilan siswa serta kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW yang disampaikan Ka Leman, seorang pengisah yang menggunakan pendekatan cerita Islami ceria untuk menjangkau dunia anak-anak.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang pendidikan yang mempertemukan nilai agama, kreativitas siswa, komunikasi publik, serta pembentukan karakter. Karena itu, wawancara Dewan Pembina Supersemar News, Rifay Marzuki, dengan Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al-Hidayah, Halimah Munawir, dan Ka Leman Pengisah menjadi bagian penting untuk melihat makna kegiatan secara lebih mendalam.
Halimah Munawir: Maulid Nabi Sangat Bermakna bagi Pendidikan
Ketua YPI Al-Hidayah Halimah Munawir menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki makna yang sangat besar bagi lingkungan pendidikan yang dipimpinnya.
Dalam wawancara bersama Rifay Marzuki, Halimah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW dipandang sebagai sosok teladan yang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter peserta didik.
Menurut Halimah, Nabi Muhammad SAW merupakan pemimpin dunia dan sosok yang memberikan cahaya bagi umat manusia. Karena itu, keteladanan Rasulullah diharapkan tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan keagamaan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan anak-anak.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan Maulid Nabi di lingkungan sekolah dapat ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan karakter. Anak tidak cukup hanya mengenal sejarah kehidupan Rasulullah. Lebih jauh, mereka perlu memahami nilai yang terkandung dalam keteladanan tersebut.
Kejujuran, kesabaran, kasih sayang, kepedulian, tanggung jawab, dan sikap menghormati sesama merupakan nilai yang dapat diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari.
Dengan demikian, Maulid Nabi tidak berhenti pada kegiatan mendengarkan ceramah atau kisah. Kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk menghubungkan pembelajaran agama dengan kehidupan nyata peserta didik.
Persiapan Satu Bulan dan Kolaborasi Sekolah
Dalam wawancara tersebut, Halimah juga menjelaskan bahwa persiapan kegiatan dilakukan sekitar satu bulan.
Menariknya, persiapan tidak hanya dikerjakan oleh pihak yayasan dan sekolah. YPI Al-Hidayah membangun sinergi dengan Korlas dan komite sekolah.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan pendidikan keagamaan membutuhkan keterlibatan berbagai unsur. Sekolah tidak dapat bekerja sendirian ketika ingin membangun lingkungan pendidikan yang kuat.
Keterlibatan orang tua, komite, guru, siswa, serta yayasan dapat menjadi modal penting dalam menciptakan kegiatan yang tidak hanya meriah, tetapi juga memiliki tujuan pendidikan yang jelas.
Di titik inilah kegiatan Maulid Nabi menjadi relevan. Sebab, pendidikan karakter tidak berlangsung hanya di ruang kelas. Nilai yang diajarkan sekolah harus mendapatkan dukungan dari keluarga dan lingkungan sosial.
Karena itu, sinergi yang dilakukan YPI Al-Hidayah menjadi bagian yang patut diperhatikan dalam melihat keberhasilan kegiatan tersebut.
Panggung Siswa Menjadi Ruang Pendidikan
Salah satu bagian yang menonjol dalam kegiatan Maulid Nabi adalah penampilan siswa-siswi dari lembaga pendidikan di bawah YPI Al-Hidayah.
Keterlibatan siswa bukan sekadar untuk mengisi acara. Panggung tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran yang melatih keberanian, komunikasi, kreativitas, kedisiplinan, kerja sama, dan tanggung jawab.
Siswa yang tampil di hadapan guru, orang tua, dan teman-temannya belajar menyampaikan pesan sekaligus mengelola rasa percaya diri.
Selain itu, kegiatan bersama seperti ini dapat memperkuat hubungan antarsatuan pendidikan yang berada di bawah satu yayasan.
MTQ, MI, dan MTs memiliki karakter peserta didik yang berbeda. Namun, melalui kegiatan bersama, seluruh unsur tersebut dapat dipertemukan dalam satu pesan pendidikan yang sama.
Pesan itu adalah bagaimana keteladanan Nabi Muhammad SAW diterjemahkan menjadi perilaku konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Ka Leman Memilih Berkisah, Bukan Sekadar Mendongeng

Bagian menarik lainnya datang dari Ka Leman Pengisah yang menjadi pengisi acara puncak.
Dalam wawancara dengan Rifay Marzuki, Ka Leman menjelaskan perbedaan pendekatan antara dakwah kepada orang dewasa dan dakwah kepada anak-anak.
Menurutnya, karena audiens dalam kegiatan tersebut merupakan anak-anak, penyampaian materi lebih diarahkan kepada dunia mereka.
Ka Leman memilih metode berkisah dengan sejarah para nabi sebagai materi utama. Ia bahkan menegaskan bahwa istilah yang digunakan bukan sekadar mendongeng.
Penjelasan tersebut penting karena mendongeng pada umumnya dapat menggunakan cerita fiktif, seperti kisah Timun Mas atau Bawang Merah dan Bawang Putih. Sementara itu, berkisah yang dilakukan Ka Leman berangkat dari sejarah dan peristiwa yang diyakini pernah terjadi pada masa lalu.
Pendekatan tersebut memberikan dimensi edukatif tersendiri.
Anak-anak tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga memperoleh pengetahuan sejarah keagamaan melalui metode yang lebih dekat dengan dunia mereka.
PCIC dan Pendekatan Dakwah untuk Anak
Ka Leman juga memperkenalkan komunitasnya yang bernama PCIC atau Pecinta Cerita Islami Ceria.
Melalui komunitas tersebut, ia bersama rekan-rekannya mengembangkan pendekatan penyampaian nilai-nilai Islam melalui cerita yang ceria dan mudah diterima anak-anak.
Pendekatan seperti ini memiliki tantangan tersendiri.
Materi agama harus tetap disampaikan secara bertanggung jawab, tetapi pada saat yang sama bahasa dan metode penyampaiannya harus sesuai dengan usia audiens.
Karena itu, kemampuan pengisah tidak hanya terletak pada kemampuan berbicara. Ia juga perlu memahami karakter pendengar.
Ka Leman menjelaskan bahwa sebelum tampil, ia tetap melakukan persiapan dengan membaca dan mempelajari materi. Tujuannya sederhana tetapi penting, yaitu menjaga agar informasi yang disampaikan tidak keliru.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa metode cerita tidak berarti mengurangi keseriusan materi.
Justru sebaliknya, cerita keagamaan membutuhkan persiapan agar pesan yang disampaikan tetap akurat, mudah dipahami, dan sesuai dengan konteks.
Dari Anak Usia Dini hingga Remaja
Dalam wawancara tersebut, Ka Leman menjelaskan bahwa kegiatan berkisah dapat menyasar anak usia dini hingga anak yang lebih besar.
Untuk anak yang masih sangat kecil, pendekatannya dapat berbeda. Ia menjelaskan bahwa ketika berhadapan dengan anak usia sekitar dua tahun, kegiatan tidak selalu berbentuk cerita panjang.
Pendekatan dapat dilakukan melalui permainan dan menggunakan alat bantu berupa boneka yang dikenal oleh anak-anak.
Hal ini menunjukkan pentingnya menyesuaikan metode pendidikan dengan perkembangan usia peserta didik.
Anak usia dini memiliki rentang perhatian yang berbeda dengan siswa sekolah dasar maupun madrasah tsanawiyah. Karena itu, cara menyampaikan nilai agama juga perlu menyesuaikan karakter mereka.
Di sinilah metode berkisah memiliki ruang yang cukup luas.
Cerita dapat menjadi jembatan antara konsep yang abstrak dengan pengalaman anak. Nilai kesabaran, kejujuran, kasih sayang, dan keberanian dapat dijelaskan melalui peristiwa dan tokoh yang lebih mudah dibayangkan.
Mencintai Rasulullah sebagai Dasar Keteladanan
Ketika ditanya mengenai makna keteladanan Nabi Muhammad SAW bagi dirinya, Ka Leman menekankan pentingnya menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah.
Menurutnya, perjuangan Nabi Muhammad SAW penuh dengan pengorbanan.
Karena itu, mencintai Rasulullah menjadi bagian penting dalam kehidupan umat Islam.
Pesan tersebut kemudian memiliki hubungan langsung dengan tema kegiatan YPI Al-Hidayah.
Keteladanan tidak mungkin tumbuh hanya melalui hafalan. Anak perlu memahami mengapa sebuah nilai penting dan bagaimana nilai tersebut diterapkan.
Jika seorang anak memahami keteladanan Rasulullah dalam konteks perilaku, maka pesan Maulid Nabi dapat memiliki relevansi lebih luas.
Misalnya, ketika anak belajar tentang kejujuran, ia dapat menghubungkannya dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW. Ketika belajar mengenai kepedulian, ia dapat memahami pentingnya memperlakukan orang lain dengan baik.
Dengan cara demikian, peringatan Maulid Nabi dapat bergerak dari acara tahunan menuju proses pendidikan yang berkelanjutan.
Harapan YPI Al-Hidayah: Keteladanan Menjadi Perilaku

Halimah Munawir menyampaikan harapan agar seluruh peserta didik di lingkungan YPI Al-Hidayah dapat meneladani Nabi Muhammad SAW.
Harapan tersebut menjadi inti dari seluruh rangkaian kegiatan.
Sebab, ukuran keberhasilan pendidikan agama tidak semata-mata terlihat dari seberapa banyak kegiatan yang diselenggarakan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana nilai yang disampaikan dapat terlihat dalam perilaku peserta didik.
Dalam konteks ini, Maulid Nabi memiliki peluang untuk menjadi momentum evaluasi pendidikan karakter.
Apakah siswa semakin menghormati guru?
Apakah mereka semakin peduli kepada teman?
Apakah mereka terbiasa berkata jujur?
Apakah mereka mampu menjaga sikap ketika berbeda pendapat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar melihat kemeriahan sebuah acara.
Dengan demikian, pesan Maulid Nabi dapat diterjemahkan menjadi indikator perilaku yang sederhana dan dapat diamati dalam kehidupan sekolah.
Ka Leman: Kisah Harus Menjadi Contoh Kebaikan
Harapan serupa disampaikan Ka Leman.
Ia berharap anak-anak dapat menerima pesan yang disampaikan para pengisah dan kemudian mencontoh sifat-sifat kebaikan Rasulullah.
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa cerita bukan tujuan akhir.
Cerita merupakan alat.
Tujuan akhirnya adalah perubahan pemahaman dan perilaku.
Dalam dunia pendidikan, pendekatan semacam itu penting karena anak-anak lebih mudah mengingat pesan ketika disampaikan melalui pengalaman, cerita, tokoh, dan situasi yang menarik.
Namun, keberhasilan metode tersebut tetap membutuhkan kesinambungan.
Jika nilai keteladanan hanya disampaikan ketika Maulid Nabi, dampaknya berpotensi terbatas. Sebaliknya, jika pesan tersebut terus diulang dalam proses pembelajaran, kegiatan sekolah, pembinaan karakter, dan interaksi sehari-hari, nilai tersebut memiliki peluang lebih besar untuk menjadi kebiasaan.
Analisis: Maulid Nabi Tidak Boleh Berhenti pada Seremoni
Dari rangkaian wawancara Rifay Marzuki bersama Halimah Munawir dan Ka Leman, terlihat satu pesan utama: Maulid Nabi memiliki ruang besar untuk dikembangkan sebagai pendidikan karakter.
Namun, tantangan sesungguhnya berada setelah acara selesai.
Panggung dapat dibongkar. Dekorasi dapat dilepas. Para siswa kembali ke ruang kelas. Akan tetapi, nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW seharusnya tetap hidup dalam keseharian.
Karena itu, kegiatan Maulid Nabi dapat menjadi titik awal, bukan titik akhir.
Sekolah dapat melanjutkan pesan kegiatan melalui pembiasaan sederhana. Misalnya, membangun budaya salam, membiasakan kejujuran, menjaga kebersihan, menghormati guru, menyayangi teman, serta mengembangkan kepedulian sosial.
Langkah tersebut membuat tema “menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan kehidupan sehari-hari” tidak berhenti sebagai slogan.
Lebih jauh, pesan itu dapat menjadi bagian dari budaya pendidikan.
Rifay Marzuki dan Jurnalisme yang Menggali Pesan Pendidikan
Wawancara yang dilakukan Rifay Marzuki sebagai Dewan Pembina Supersemar News memberikan ruang untuk menggali sisi yang lebih substantif dari kegiatan tersebut.
Pertanyaan tidak hanya berhenti pada siapa yang tampil dan bagaimana acara berlangsung. Wawancara juga menggali makna Maulid Nabi bagi yayasan, proses persiapan kegiatan, metode berkisah, sasaran usia anak, hingga harapan terhadap peserta didik.
Pendekatan wawancara seperti ini penting bagi media karena sebuah kegiatan pendidikan memiliki cerita yang lebih luas daripada dokumentasi seremoni.
Di balik panggung terdapat proses.
Di balik cerita terdapat metode.
Dan di balik peringatan keagamaan terdapat tujuan pendidikan.
Karena itu, informasi mengenai kegiatan YPI Al-Hidayah perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas, yakni bagaimana lembaga pendidikan Islam membangun karakter generasi muda melalui keteladanan Nabi Muhammad SAW.
Keteladanan Harus Hidup Setelah Maulid
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di YPI Al-Hidayah Pondok Melati, Bekasi, memberikan pesan yang jelas bahwa pendidikan agama membutuhkan pendekatan yang dekat dengan kehidupan anak.
Halimah Munawir menempatkan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai bagian penting dari arah pendidikan YPI Al-Hidayah. Sementara itu, Ka Leman menghadirkan metode berkisah sebagai pendekatan untuk menjembatani pesan sejarah dan nilai agama dengan dunia anak-anak.
Keduanya bertemu pada satu tujuan: agar anak-anak tidak hanya mengetahui kisah Nabi Muhammad SAW, tetapi juga berusaha mencontoh akhlak dan perilakunya.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah Maulid Nabi bukan hanya terlihat dari meriahnya panggung atau banyaknya peserta yang hadir.
Keberhasilannya akan lebih bermakna apabila setelah acara selesai, anak-anak membawa pulang satu kebiasaan baik.
Lebih jujur.
Lebih santun.
Lebih peduli.
Lebih bertanggung jawab.
Dan lebih mencintai Rasulullah SAW.
Di situlah makna Maulid Nabi menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.***(SB)
SUPERSEMAR NEWS TEAM
Reporter: R/Rifay Marzuki
Editor: Sangga Buana
