
Warga Palestina kembali ke Nuseirat di Jalur Gaza tengah setelah penembakan Israel.
(Eyad Baba/AFP/Getty Images)
SUPERSEMARNEWS.COM (CNN) – Gencatan senjata rapuh antara Israel dan Hizbullah memberikan sedikit kelegaan di Lebanon, tetapi Gaza masih terjebak dalam konflik.
Israel terus mengintensifkan operasinya di Gaza, sementara upaya mediasi AS belum menunjukkan hasil.
Selama setahun terakhir, Hizbullah bersumpah akan menekan Israel hingga menyetujui gencatan senjata di Gaza.
Namun, serangan intensif Israel di Lebanon selatan memaksa Hizbullah menarik tuntutannya demi mempertahankan pasukannya.
“Gaza dibiarkan sendirian,” kata Hatem Mohamed, warga Gaza.
Mediator utama seperti Qatar kini menarik diri dari perundingan.
Qatar menutup kantor Hamas di Doha, menyebut kurangnya itikad baik kedua pihak.
Turki juga menepis keterlibatannya lebih jauh dalam mediasi.
Hamas menegaskan kesiapan untuk gencatan senjata, tetapi syaratnya tetap berat, termasuk penarikan Israel dan pemulangan warga Gaza yang mengungsi.
Sebaliknya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak menghentikan perang sebelum Hamas dibubarkan.
“Gencatan senjata bisa dilakukan kapan saja, tetapi perang melawan Hamas harus selesai,” tegasnya.
Negosiasi untuk pembebasan sandera Israel pun buntu. Hamas menawarkan kerja sama, tetapi kondisi di lapangan memburuk.
Di Gaza, frustrasi warga semakin meningkat. “Kami kehilangan banyak waktu dan nyawa,” kata Jihad Abu Yasser, warga Gaza utara.
Upaya diplomasi internasional, termasuk oleh AS, Turki, Mesir, dan Qatar, masih menemui jalan buntu.
Bagi warga Gaza, harapan perdamaian tetap samar di tengah konflik yang terus berlanjut.
(SupersemarNewsTeam)
(R/SanggaBuana)
Sumber berita ; CNN World
Editor : Sangga Buana
