
Saat dilakukan pembersihan dan pemeriksaan sebagian tulisan yang hampir tidak jelas terlihat.
PUNDU, Supersemar News — Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIII Kalimantan Tengah (Kalteng) – Kalimantan Selatan (Kalsel), Riris Purbasari, didampingi oleh para tim ahli dalam melakukan konservasi manuskrip dan menjaga warisan leluhur dari peninggalan turun menurun dari benda Daun Lontar, Rabu (15/4/2026).
Konservasi dilaksanakan langsung di lokasi sebuah rumah penyimpanan naskah untuk memastikan nilai sejarah tetap terjaga dengan baik di Desa Pundu, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Lamanya pemeliharaan sebagian daun lontar membuat serangga bersarang hingga bertelur, membuat daun sebagian menjadi rusak (berlobang).
Hadir dalam kegiatan ini perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kotim. Didukung oleh tokoh adat dan tokoh masyarakat di wilayah tersebut, serta didukung penuh oleh tim teknis dan ahli dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIII Kalimantan.
Daun lontar dengan karya ilmiah dengan bertuliskan tangan menggunakan Motik (pisau kecil) pada tahun 1940 dalam bahasa Jawa kuno yang menceritakan perjalanan hidup dan ilmu-ilmu. Kegiatan ini dilakukan bertujuan untuk menjaga pelestarian warisan budaya.
Kegiatan berlangsung mulai tanggal 14—20 April 2026, dengan menyongsong tema “Pelestarian Manuskrip Lontar sebagai Identitas dan Warisan Budaya Bangsa”. Tema ini diangkat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dokumen sejarah yang menyimpan berbagai nilai pengetahuan masa lalu.
Sebelum acara konservasi manuskrip dilakukan, diawali dengan tata cara agama Hindu yang dipimpin oleh rohaniawan setempat serta ritual adat sebagai wujud syukur dan doa agar kegiatan berjalan lancar.
Dalam kesempatan itu, tim dari BPK Wilayah XIII bersama Pamong Budaya Ahli Madya dibawah kementerian museum cagar budaya dan tim saling berbagi tugas dalam melakukan perawatan dengan membersihkan daun lontar dan mengutip dari keturunan yang memelihara adanya peninggalan barang tersebut.

Lalu, tim ahli dan dibantu rekan secara teliti untuk pembersihan daun lontar dengan minyak sereh dan kemiri yang sudah dibakar untuk memperjelas tulisan tangan yang hampir tidak terlihat jelas.
Kepala BPK Wilayah XIII Kalteng – Kalsel, Riris Purbasari, menyampaikan bahwa tim dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 13 yang tadinya wilayah kerjanya di Kalteng dan Kalsel saat ini sudah reorganisasi menjadi dua UPT yang berbeda. Saat ini dari tim Balai Pelestarian Kebudayaan Kalteng sedang melakukan kegiatan konservasi terhadap manuskrip berupa dari bahan daun lontar.

“Kami mengetahui informasi cerita ke cerita dari masyarakat, bahwa di daerah Pundu ada lontar yang kebetulan disimpan oleh ahli waris dengan mereka dari Bali, ada sekitar 70 tiket atau kelompok manuskrip dari bahan daun lontar bertuliskan bahasa Jawa Kuno,“ kata Riris.
Daun lontar yang sudah berusia lama ini perlu dilakukan upaya konservasi untuk memperpanjang usia supaya tidak rusak di makan jaman.
“Salah satu upaya yang kami lakukan adalah yang pertama kita periksa kerusaannya apa, keadaannya seperti apa, kemudian kita bersihkan, kemudian kita treatment. Lalu, kita bersihkan dengan minyak sereh, karena bahannya organik. Kalau kita pakai bahan kimia yang pabrikan, yang benar-benar zat kimia itu dikhawatirkan akan menyebabkan kerusakan yang lebih besar,“ jelasnya.
Pamong Budaya Ahli Madya dibawah Kementerian Museum Cagar Budaya, Ari Swastikawati, menjelaskan bahwa konservasi manuskrip lontar dimulai dari prinsip sama seperti kedokteran sebelum melakukan tindakan dengan diobservasi dulu, lalu di diagnosis untuk mengetahui yang mengakibatkan kerusakan.
“Jadi kita mengobservasi dulu kondisi dari manuskrip lontar, kalau sudah kita tahu kondisinya seperti apa, baru kita melakukan dan menentukan tindakan konservasi yang akan dilakukan. Dari hasil observasi manuskrip ke 18 yang sudah dilakukan, pertama, tulisannya itu ada sebagian yang sudah tidak jelas, sehingga sulit untuk dibaca,“ kata Ari Swastikawati.
Ia juga mengatakan bahwa sebagian dari daun lontar ada serangan serangga, kotoran, dan serangan jamur putih-putih, selanjutnya dilakukan pembersihan secara mekanis, lalu dilakukan karbonasi dengan menggunakan kemiri yang sudah dibakar dan di oleskan diatas permukaan tulisan yang kabur, sehingga menjadi jelas terbaca.
“Untuk menghindari serangan serangga, kita lakukan pengolesan dengan minyak sereh, kemudian dibersihkan lagi dengan alkohol untuk mencegah serangan binatang janggut. Setelah selesai, nanti didokumentasikan, di foto satu persatu, sehingga tulisannya akan jelas, selanjutnya nanti dibacakan pada ahli bahasa Bali,“ jelasnya.
Baca juga berita lainnya
- Detik-Detik Hilangnya Helikopter Angkut 8 Orang di Kalbar, Basarnas Kerahkan Tim Gabungan
- Pemenuhan Hak Komunikasi, Warga Binaan Lapas Sampit Manfaatkan Wartelpas Secara Teratur
- 3 Pria Diduga Budak Sabu di Palangka Raya Diringkus Polisi, BB 25,8 Gram Sabu Diamankan
- Deklarasi Ikrar Bebas Narkoba dan Handphone Ilegal Digelar di Lapas Sampit
- BPN DKI Jakarta Gelar FGD Percepatan Layanan Pertanahan di Jakarta Barat
Ia juga mengatakan bahwa barang tersebut akan jadi satu program digitalisasi, sehingga bisa dipublikasikan lewat dokumen yang sudah dibuat untuk masyarakat yang berminat untuk mempelajari, tidak harus mengakses langsung ke manuskripnya.
“Nanti kalau sudah didokumentasikan, akan disusun kembali sesuai dengan urutannya, kemudian dibungkus dengan kertas, dan disimpan ditempat lemari yang mudah untuk dikontrol,“ tambahnya.
Yuman Darsan, sebagai pewaris barang daun lontar juga mengatakan. “Pesan dari leluhur kami dulu, barang peninggalan ini harus dirawat dengan baik. Jangan sampai barang ini dipindahkan ketangan orang lain,“ tutup Yuman.
(Fauji)
