“Sebagai ahli grafologi dan ibu asuh di Dodik Bela Negara, saya melihat langsung bagaimana anak-anak belajar membentuk karakter, bukan sekadar ikut PBB,” ujar Gusti Ayu Dewi saat diwawancarai di kanal Helmy Yahya Bicara.

SUPERSEMAR NEWS BOGOR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meluncurkan program pendidikan karakter di barak militer, tepatnya di Dodik Bela Negara. Program ini menuai pro dan kontra.

Bukan Sekadar Baris-Berbaris

Melalui kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, Gusti Ayu Dewi, ahli grafologi dan ibu asuh di Dodik, menjelaskan bahwa kegiatan anak-anak di barak tidak melulu soal PBB.

“Di sana ada ibadah, motivasi, bimbingan, dan pengasuhan. Setiap dua jam mereka istirahat. Bahkan salat lima waktu tetap dijalankan,” kata Gusti Ayu.

Anak-anak tetap mengikuti pelajaran formal. Jadwal mereka mencakup administrasi, cek kesehatan, pembagian perlengkapan, senam, dan apel.

Nilai Kebangsaan Ditanamkan

Selain pelajaran umum, peserta juga mengikuti sesi psikologi dan pembelajaran seputar UUD 1945 serta nilai-nilai NKRI. Anak-anak dikenalkan pada konsep kerukunan antarumat beragama.

Gusti Ayu menyampaikan nilai kebangsaan lewat pendekatan personal. Ia menggunakan analogi: “Negara itu rumahnya, bangsa itu keluarganya.” Menurutnya, banyak anak yang tersentuh dan berkaca-kaca mendengar penjelasan ini.

“Anak-anak peserta Dodik Bela Negara tetap menjalani aktivitas baris-berbaris, namun hanya sebagai bagian kecil dari pendidikan karakter yang lebih luas,” jelas Gusti Ayu Dewi. Foto: YouTube/KDM Channel.

Gelombang Pertama Diikuti 273 Anak

Sebanyak 273 anak mengikuti gelombang pertama. Program ini, menurut Dedi Mulyadi, bertujuan membentuk karakter kuat dan cinta tanah air sejak dini. Kritik dan dukungan terus mengalir, tetapi pelaksana menegaskan bahwa ini bukan militerisasi, melainkan pembentukan karakter bangsa.

SupersemarNewsTeam
SanggaBuana