
SUPERSEMAR NEWS — BEKASI.
Semangat luar biasa datang dari Indra Trisnadi, penyintas stroke asal Bekasi yang sukses mendaki Gunung Papandayan bersama keluarga dan komunitas Kawan Stroke Indonesia (KaSi).
Pendakian ini bukan sekadar hobi, tetapi simbol perjuangan dan pesan harapan bagi ribuan penyintas stroke di Indonesia.
Langkah Awal Menuju Papandayan
Indra dan keluarganya berangkat Jumat dini hari, 24 Oktober 2025, pukul 03.00 WIB dari Bekasi, menuju kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Papandayan, Garut.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari lima jam, mereka tiba pukul 08.30 dan langsung menyewa tenda serta porter untuk menuju Pondok Salada, lokasi perkemahan resmi.
Pendakian dimulai pukul 09.28 dan ditempuh selama tiga setengah jam dengan jalur berbatu dan berkawah.
Kami ingin menunjukkan bahwa penyintas stroke juga bisa beraktivitas, asal disiplin dengan aturan dokter,” ujar Indra Trisnadi kepada Rifay Marzuki, Dewan Pembina Supersemar News.
Motivasi dan Semangat Hidup Sehat
Indra menjelaskan, tujuan utama pendakian adalah memotivasi penyintas stroke agar tidak menyerah dan terus berjuang untuk pulih.
Ia juga ikut memperingati Hari Stroke Dunia (World Stroke Day) yang jatuh pada 29 Oktober 2025, bersama komunitas KaSi di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan.
“Selain hobi, pendakian ini cara saya melatih fisik dan mental untuk terus sehat,” tutur Indra.

Dukungan dari Kawan Stroke Indonesia
Komunitas KaSi turut memberikan dukungan penuh kepada Indra.
Berikut rincian persiapan dan kegiatan mereka:
- Peserta: keluarga (istri & dua anak) serta anggota KaSi.
- Persiapan: olahraga rutin seperti jalan sehat di CFD Bekasi, sepeda statis, konsultasi medis, dan pengecekan kondisi tubuh.
- Lokasi pilihan: Gunung Papandayan dinilai aman dengan jalur menanjak ringan, fasilitas lengkap, dan tim penyelamat profesional.
- Kendala: jalur berbatu, panas, serta bau belerang menyengat.
- Kegiatan utama: pengibaran bendera KaSi di area Hutan Mati, simbol perjuangan dan solidaritas bagi sesama penyintas.

Sunrise dan Momen Tak Terlupakan
Malam di Pondok Salada terasa menusuk dingin. Indra dan keluarganya mengenakan jaket tebal, sarung tangan, dan hand warmer.
Meski tengah menjalani pemulihan penyakit jantung dan diabetes, Indra tetap disiplin minum obat tiap jam dengan alarm pengingat.
Pukul 04.00 pagi, keluarga Indra bersiap menuju Hutan Mati — area pendakian yang hanya 20 menit dari perkemahan.
Langit cerah menyambut mereka saat matahari terbit, menjadi momen spiritual sekaligus simbol kemenangan.
“Kami kibarkan bendera KaSi di depan sunrise. Itu bukti bahwa kami bisa,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Turun Gunung dan Refleksi Hidup
Setelah berfoto dan berdoa bersama, rombongan turun melewati jalur berbeda yang lebih curam.
Sekitar pukul 11.30, mereka tiba kembali di basecamp. Perjalanan pulang ke Bekasi ditempuh dengan rasa syukur dan haru.
Indra mengenang masa lalunya: pada tahun 2007 ia sempat mengalami serangan jantung dan stroke ringan akibat penyumbatan pembuluh darah.
Saat itu tekanan darahnya mencapai 160/110 mmHg, kadar gula 420 mg/dL, dan trigliserida 1.000 mg/dL.
Berat badannya turun dari 108 kg menjadi 85 kg setelah menjalani pengobatan alternatif dan terapi rutin.
Kini, ia terus menjaga pola hidup sehat dan aktif dalam edukasi publik bersama KaSi.
“Saya ingin hidup lebih sehat, lebih kuat, dan menjadi inspirasi bagi teman-teman penyintas di seluruh Indonesia,” ucapnya optimistis.
Tentang Komunitas Kawan Stroke Indonesia (KaSi)
Kawan Stroke Indonesia (KaSi) adalah komunitas nasional penyintas stroke yang berfokus pada:
- Dukungan rehabilitasi dan pemulihan,
- Edukasi masyarakat tentang pencegahan stroke,
- Kegiatan sosial dan olahraga sehat,
- Kolaborasi dengan lembaga kesehatan nasional.
KaSi aktif menyuarakan pentingnya deteksi dini stroke dan penguatan mental penyintas agar tetap produktif.
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
Sumber: Wawancara Eksklusif
