
Bupati Aceh Selatan Diisukan Umrah Saat Banjir, Kemendagri Telusuri Fakta Sebenarnya
SUPERSEMAR NEWS – Jakarta — Isu keberangkatan Bupati Aceh Selatan Mirwan MS untuk melaksanakan ibadah umrah di tengah bencana banjir yang masih melanda wilayahnya memicu polemik besar di publik. Isu itu muncul setelah unggahan biro perjalanan Almisbah Travel beredar luas di media sosial dan menampilkan nama Mirwan dalam daftar jemaah umrah. Informasi tersebut sontak memunculkan kritik keras sekaligus pertanyaan mengenai komitmen sang bupati dalam menangani bencana.
Di sisi lain, pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) langsung mengambil langkah tegas. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kemendagri, Benny Irwan, menegaskan bahwa pihaknya masih menelusuri kebenaran perjalanan umrah tersebut. Menurut Benny, klarifikasi resmi sangat dibutuhkan agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi yang dapat menimbulkan kegaduhan nasional.
“Kami sedang cek,” ujar Benny melalui pesan resmi yang diterima redaksi pada Jumat, 5 Desember 2025.
Investigasi Kemendagri ini menjadi krusial karena isu tersebut muncul hanya beberapa hari setelah tersebarnya surat ketidaksanggupan Bupati Mirwan dalam menangani banjir di Aceh Selatan. Surat itu menjadi sorotan publik karena dianggap mencerminkan sikap menyerah seorang kepala daerah di tengah kondisi darurat.

ISU USAI SURAT KETIDAKSANGGUPAN: PUBLIK KIAN GERAM
Isu keberangkatan umrah Bupati Mirwan menjadi semakin sensitif karena muncul dalam periode genting. Aceh Selatan tengah menghadapi bencana banjir besar yang melanda sejumlah kecamatan. Warga masih berada di pengungsian, akses jalan terputus, dan kebutuhan logistik semakin mendesak.
Sebelumnya, publik dikejutkan dengan tersebarnya surat berkop pemerintah daerah yang berisi pengakuan ketidaksanggupan Bupati Mirwan dalam menangani bencana tersebut. Isi surat itu memuat permohonan agar penanganan banjir diambil alih oleh pemerintah provinsi atau pusat. Surat ini menjadi viral di berbagai platform, termasuk X, Instagram, dan TikTok.
Dalam konteks inilah rumor umrah semakin memperkeruh suasana. Publik mempertanyakan komitmen Mirwan sebagai pemimpin daerah, terutama setelah muncul asumsi bahwa ia justru memilih meninggalkan wilayahnya saat warganya membutuhkan kehadiran dan kepemimpinan langsung.
Kritik publik semakin meluas, termasuk dari sejumlah aktivis, tokoh masyarakat, hingga akademisi yang menyoroti etika pejabat publik dalam masa krisis. Bahkan beberapa akun media sosial besar yang biasa mengulas isu kebencanaan ikut membahasnya, membuat topik “Bupati Aceh Selatan Umrah” menduduki trending.
MERESPONS ISU: MIRWAN UNGKAP VIDEO KLARIFIKASI
Tak lama setelah isu tersebut memuncak, Bupati Mirwan mengunggah video klarifikasi di akun resminya pada 5 Desember 2025. Dalam video berdurasi sekitar satu menit itu, ia menegaskan telah meninjau lokasi banjir beberapa hari sebelumnya.
“Alhamdulillah, empat hari lalu saya turun langsung ke lokasi banjir di Trumon. Keadaannya sudah lebih baik dan tidak separah daerah lain. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT,” ujar Mirwan.
Dalam unggahan itu, Mirwan juga menyampaikan bahwa dirinya turut memberikan bantuan pribadi dari gaji yang ia sisihkan.
“Saya secara pribadi menyisihkan rezeki dari gaji saya untuk membantu warga,” ujarnya.
Meski demikian, klarifikasi ini tidak serta-merta meredakan kritikan publik. Banyak pihak menilai bahwa video tersebut tidak secara langsung membantah isu umrah, sehingga masih menyisakan ruang tanya di masyarakat. Oleh sebab itu, penelusuran Kemendagri menjadi satu-satunya jalur valid untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.
KEMENDAGRI MULAI PENELUSURAN: NETRAL DAN PROSEDURAL
Kemendagri melalui Kapuspen Benny Irwan menegaskan bahwa pemerintah pusat akan memastikan fakta di lapangan. Penelusuran dilakukan melalui inspektorat jenderal, koordinasi dengan pemerintah provinsi, serta pemeriksaan administratif terhadap izin bepergian pejabat daerah.
Menurut regulasi, seorang kepala daerah wajib mendapatkan izin resmi jika hendak melakukan perjalanan ke luar negeri, termasuk umrah. Tanpa izin tersebut, perjalanan tersebut dapat dikategorikan pelanggaran administratif yang berpotensi berujung sanksi.
Benny menekankan bahwa pihaknya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan. Ia meminta publik bersabar hingga seluruh proses klarifikasi selesai dilakukan.
Pihak Kemendagri juga berkewajiban untuk memverifikasi keaslian unggahan travel umrah yang mencantumkan nama sang bupati. Karena dalam beberapa kasus sebelumnya, nama pejabat bisa saja terdaftar tanpa konfirmasi resmi atau digunakan sebagai strategi promosi oleh agen perjalanan.
REAKSI GUBERNUR ACEH: PERINGATAN KERAS UNTUK KEPALA DAERAH
Isu ini mendapat perhatian serius dari Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. Dalam sebuah pernyataan di Aceh Timur, Muzakir mengirimkan pesan tegas kepada seluruh bupati dan wali kota yang dinilai tidak mampu menangani banjir.
“Kalau ada bupati yang cengeng dan menyerah menghadapi musibah ini, silakan mengundurkan diri. Kita ganti dengan yang lain, yang siap bekerja untuk rakyat,” tegasnya.
Gubernur menekankan bahwa pemimpin daerah tidak boleh bersikap main aman dalam kondisi krisis. Justru mereka harus menjadi garda terdepan, memastikan keselamatan dan kebutuhan warga terpenuhi.
Pesan ini secara luas ditafsirkan sebagai sindiran langsung kepada Bupati Aceh Selatan, terutama setelah terbitnya surat ketidaksanggupan yang kontroversial. Transparansi serta kehadiran fisik pemimpin daerah dianggap sangat penting dalam masa darurat, demi menjaga kepercayaan warga.
BANJIR ACEH SELATAN: KONDISI TERKINI & DAMPAK NYATA
Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), banjir di Aceh Selatan telah mempengaruhi ribuan warga. Sejumlah kecamatan, termasuk Trumon, Labuhan Haji, dan Kluet Selatan, mengalami kerusakan infrastruktur, gangguan transportasi, dan kesulitan distribusi logistik.
Selain itu:
- Puluhan rumah terendam
- Banyak keluarga mengungsi ke lokasi aman
- Akses jalan tergenang
- Aktivitas ekonomi warga terhambat
Dalam situasi seperti ini, kehadiran kepala daerah dianggap sangat penting. Pemimpin daerah harus memastikan koordinasi berjalan baik antara BPBD, Dinas Sosial, TNI-Polri, para relawan, dan pemerintah provinsi.
ANALISIS & INVESTIGASI: APA YANG SEBENARNYA TERJADI?
Untuk memahami konteks secara lebih menyeluruh, tim redaksi menggali beberapa aspek penting:
1. Benarkah Bupati Berangkat Umrah?
Data yang beredar di media sosial belum bisa dipastikan kebenarannya. Nama Mirwan muncul dalam unggahan travel, tetapi belum ada bukti lain yang menunjukkan keberangkatan fisik, seperti video keberangkatan, boarding pass, atau laporan visa.
2. Mengapa Travel Umrah Mencantumkan Namanya?
Industri perjalanan umrah sering menggunakan daftar rombongan sebagai materi publikasi. Dalam beberapa kasus, sejumlah nama pejabat sering dicantumkan sebagai bentuk promosi tanpa konfirmasi lengkap.
3. Apakah Ada Izin Resmi Perjalanan Luar Negeri?
Hingga berita ini ditulis, Kemendagri belum merilis dokumen izin perjalanan luar negeri milik Mirwan. Jika izin tidak ditemukan, maka tidak ada dasar hukum untuk keberangkatan.
4. Ketidaksanggupan Menangani Banjir: Apa Dampaknya Secara Administratif?
Surat ketidaksanggupan berpotensi memunculkan evaluasi serius dari pemerintah pusat. Jika dianggap sebagai kegagalan manajerial, sanksi administratif bahkan potensi pemberhentian sementara bisa berlaku.
PUBLIK MENUNTUT TRANSPARANSI: “PEMIMPIN HARUS BERADA DI LAPANGAN”
Gelombang komentar di media sosial menunjukkan betapa publik mendambakan transparansi. Warga Aceh Selatan secara khusus meminta agar Mirwan menjelaskan secara gamblang apakah benar ia pergi umrah, serta meminta bukti konkret kehadirannya selama masa banjir.
Beberapa warga menilai bahwa video klarifikasi yang diunggah Mirwan terlalu singkat dan tidak menjawab pertanyaan utama.
Transparansi menjadi kunci penting, terutama dalam era digital, ketika informasi beredar cepat dan sering kali tidak terkendali.
KEMENDAGRI DIMINTA SEGERA UMUMKAN HASIL PENELUSURAN
Publik kini menunggu langkah resmi Kemendagri. Hasil penelusuran akan menjadi dasar penting apakah isu ini merupakan fakta, kesalahpahaman, atau disinformasi yang tersebar di tengah situasi bencana.
Yang jelas, kasus ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh kepala daerah untuk bersikap transparan, hadir secara fisik, dan mengutamakan kepentingan warga dalam kondisi darurat.
Pemerintah Aceh Selatan diharapkan dapat segera menuntaskan polemik ini agar fokus penanganan banjir tidak terganggu oleh kegaduhan politik dan isu personal.***(SB)
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
