
BEKASI – SUPERSEMAR NEWS.
Peristiwa longsor yang terjadi di kawasan TPST Bantargebang Kota Bekasi menimbulkan duka mendalam. Gunungan sampah raksasa yang berada di zona penimbunan tiba-tiba runtuh dan menimbun sejumlah warga serta kendaraan yang berada di lokasi. Akibat kejadian tersebut, sedikitnya empat orang dilaporkan meninggal dunia setelah tertimbun material sampah.
Peristiwa ini terjadi pada Minggu (8/3) sekitar pukul 14.00 WIB di Zona 4C Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang, Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi. Hingga malam hari, tim penyelamat masih terus melakukan pencarian kemungkinan adanya korban lain yang masih tertimbun.
Selain korban jiwa, sejumlah truk sampah dan bangunan warung di sekitar lokasi juga ikut tertimbun oleh longsoran material sampah yang menggunung setinggi puluhan meter.

Kronologi Longsor Gunungan Sampah
Berdasarkan informasi awal yang dihimpun di lapangan, longsor terjadi secara tiba-tiba ketika aktivitas pembuangan sampah masih berlangsung. Gunungan sampah yang berada di area penimbunan diduga mengalami pergeseran struktur hingga akhirnya runtuh.
Menurut keterangan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto, peristiwa tersebut langsung memicu kepanikan di sekitar lokasi.
“Berdasarkan data sementara, terdapat tiga korban meninggal dunia, masing-masing berinisial S, perempuan 60 tahun; EW perempuan 26 tahun; dan DS laki-laki 22 tahun,” ujar Budi Hermanto dalam keterangan tertulisnya.
Namun demikian, beberapa jam setelah proses pencarian dilakukan oleh tim gabungan, jumlah korban meninggal bertambah menjadi empat orang. Hal ini dikonfirmasi oleh Kantor SAR Jakarta yang turut terlibat dalam operasi evakuasi.
Sementara itu, tim penyelamat juga menemukan beberapa kendaraan yang tertimbun longsoran sampah, termasuk truk pengangkut yang masih berada di area pembuangan saat peristiwa terjadi.
Identitas Korban Longsor Bantargebang
Data terbaru dari Kantor SAR Jakarta menyebutkan bahwa empat korban meninggal dunia telah berhasil ditemukan dan dievakuasi dari lokasi kejadian.
Keempat korban tersebut adalah:
- Enda Widayanti (25)
- Sumine (60)
- Dedi Sutrisno, sopir truk asal Karawang
- Irwan Suprihatin, sopir truk
Dua korban perempuan diketahui merupakan pemilik warung yang berada di sekitar area pembuangan sampah. Mereka sehari-hari berjualan di lokasi tersebut untuk melayani para sopir truk dan pekerja di kawasan TPST Bantargebang.
Sementara itu, korban Irwan Suprihatin ditemukan pada malam hari sekitar pukul 19.45 WIB. Petugas menemukan jasadnya di dalam truk yang tertimbun longsoran sampah.
Setelah proses identifikasi selesai dilakukan, jenazah korban kemudian dibawa ke RSUD Kota Bekasi untuk penanganan lebih lanjut.
Tim SAR Berjibaku Lakukan Evakuasi

Proses evakuasi korban berlangsung dramatis. Tim gabungan dari Basarnas, BPBD, kepolisian, serta relawan harus bekerja ekstra di tengah kondisi medan yang sulit.
Gunungan sampah yang masih labil menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Selain itu, bau menyengat dari material sampah dan potensi longsor susulan membuat proses pencarian harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Petugas menggunakan berbagai peralatan berat, termasuk alat berat ekskavator, untuk memindahkan tumpukan sampah yang menimbun korban dan kendaraan.
Humas Kantor SAR Jakarta Ramli Prasetyo menjelaskan bahwa proses pencarian korban dilakukan secara intensif sejak sore hingga malam hari.
“Sudah ditemukan tiga korban jiwa masih dalam pendataan dan masih banyak kendaraan truk sampah yang tertimbun serta warung di area lokasi. Untuk sementara sedang dilakukan pendataan jumlah korban,” ujar Ramli.
Selain korban meninggal, tim SAR juga berhasil menemukan dua orang yang selamat dari peristiwa tersebut.
Dua Korban Selamat dari Longsor
Di tengah tragedi yang menelan korban jiwa tersebut, terdapat dua orang yang berhasil selamat. Mereka adalah Setiabudi dan Johan.
Kedua korban selamat tersebut sempat berada di sekitar lokasi ketika longsor terjadi. Beruntung, mereka berhasil menyelamatkan diri sebelum material sampah menimbun area tempat mereka berada.
Meski selamat, keduanya mengalami trauma akibat peristiwa tersebut. Tim medis dan relawan kemudian memberikan pendampingan serta pemeriksaan kesehatan kepada mereka.
Ancaman Longsor di TPST Bantargebang
Peristiwa longsor ini kembali menyoroti risiko besar di kawasan TPST Bantargebang, yang merupakan tempat pembuangan akhir sampah terbesar di Indonesia.
TPST Bantargebang menerima ribuan ton sampah setiap hari dari wilayah DKI Jakarta. Tumpukan sampah yang terus bertambah menyebabkan terbentuknya gunungan sampah raksasa yang menjulang tinggi.
Dalam beberapa kasus sebelumnya, kondisi ini berpotensi menimbulkan longsor sampah, terutama ketika struktur tumpukan menjadi tidak stabil akibat hujan atau pergeseran tanah.
Para pengamat lingkungan menilai bahwa kejadian ini harus menjadi peringatan serius bagi pengelola kawasan untuk memperketat sistem pengelolaan dan pengawasan area penimbunan.
Investigasi Penyebab Longsor
Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab longsor tersebut.
Beberapa faktor yang diduga berkontribusi antara lain:
- Struktur tumpukan sampah yang tidak stabil
- Curah hujan tinggi yang meningkatkan tekanan pada material sampah
- Aktivitas alat berat di area penimbunan
- Sistem pengelolaan yang belum optimal
Tim investigasi juga akan mengevaluasi prosedur keselamatan di area TPST Bantargebang, termasuk keberadaan warung dan aktivitas warga di sekitar zona pembuangan.
Pasalnya, kawasan tersebut sebenarnya memiliki risiko tinggi bagi aktivitas masyarakat yang tidak berkaitan langsung dengan pengelolaan sampah.
Dampak Sosial dan Lingkungan
Tragedi ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memicu kekhawatiran masyarakat terkait keselamatan di kawasan TPST Bantargebang.
Selain ancaman longsor, area tersebut juga menghadapi berbagai persoalan lingkungan seperti:
- Pencemaran udara akibat gas metana
- Bau menyengat dari sampah
- Potensi kebakaran di tumpukan sampah
- Pencemaran air tanah
Karena itu, sejumlah pihak mendorong pemerintah untuk mempercepat transformasi sistem pengelolaan sampah menuju teknologi yang lebih modern dan aman.
Seruan Perbaikan Sistem Pengelolaan Sampah
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menyangkut persoalan kebersihan, tetapi juga keselamatan manusia dan lingkungan.
Para pakar menilai bahwa pemerintah perlu mempercepat implementasi teknologi pengolahan sampah modern seperti:
- Waste to Energy (WTE)
- Pengolahan sampah terpadu
- Sistem daur ulang yang lebih masif
Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada sistem penimbunan terbuka yang selama ini digunakan di TPST Bantargebang.
Selain itu, pemerintah daerah juga diharapkan memperketat pengawasan keselamatan kerja bagi para sopir truk dan pekerja yang setiap hari beraktivitas di kawasan tersebut.
Proses Evakuasi Masih Berlanjut
Hingga saat ini, tim SAR masih terus melakukan penyisiran di lokasi longsor untuk memastikan tidak ada korban lain yang tertimbun.
Petugas juga melakukan pendataan terhadap kendaraan yang tertimbun serta bangunan yang rusak akibat peristiwa tersebut.
Operasi pencarian diperkirakan akan terus berlangsung hingga seluruh area longsor dinyatakan aman dan tidak ada lagi korban yang terjebak di dalam tumpukan sampah.
Harapan Agar Tragedi Tidak Terulang
Tragedi longsor di TPST Bantargebang menjadi duka bagi banyak pihak, terutama keluarga korban yang kehilangan orang tercinta.
Peristiwa ini sekaligus menjadi peringatan penting bahwa sistem pengelolaan sampah harus terus diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Selain penanganan darurat, pemerintah juga diharapkan segera mengambil langkah strategis untuk memperkuat sistem keamanan di kawasan TPST Bantargebang.
Dengan demikian, aktivitas pengelolaan sampah yang setiap hari melibatkan ribuan orang dapat berlangsung lebih aman dan terkontrol.***(SB)
SupersemarNewsTeam
