Arah Masa Depan Organisasi Kepemudaan, KAHMI Kalteng Pertanyaan Langkah KNPI

- Jurnalis

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:33 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

PALANGKA RAYA, Supersemar News –
Seberapa relevan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) bagi generasi muda saat ini? Pertanyaan itu menjadi titik tolak diskusi reflektif Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kalimantan Tengah (Kalteng) yang mengulas eksistensi, fungsi, dan masa depan organisasi kepemudaan tersebut.

Diskusi yang berlangsung pada Minggu (25/10/2026) itu berjalan hampir lima jam. Sejumlah senior dan tokoh pemuda Kalteng bertukar pandangan, menyampaikan kritik, serta menengok kembali peran historis KNPI di tengah perubahan gerakan kepemudaan.

Pembahasan tidak berhenti pada keberlangsungan organisasi, tetapi merambah pertanyaan yang lebih mendasar, yakni apakah KNPI masih menjadi ruang pembentukan karakter, pengaderan calon pemimpin, dan pemersatu pemuda, atau justru menghadapi tantangan akibat menguatnya pragmatisme politik?

Beragam pandangan yang muncul memperlihatkan satu kegelisahan bersama, yakni pentingnya mengukur organisasi kepemudaan dari manfaat yang dihadirkannya, bukan semata-mata dari keberadaan struktur dan kepengurusannya.

Dr. Suyuti membuka ruang refleksi dengan mempertanyakan urgensi KNPI dalam konteks kekinian. Ia menyoroti latar historis organisasi tersebut yang berkaitan dengan kebijakan kepemudaan pada masa Orde Baru, sekaligus mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak dalam romantisme masa lalu.

Menurut pandangan yang mengemuka, semangat kritis, keberanian menyampaikan gagasan, dan daya juang pemuda perlu tetap menjadi fondasi gerakan kepemudaan, terlepas dari perubahan zaman dan dinamika organisasi.

Kritik terhadap pragmatisme turut mengemuka dalam pandangan Sabri. Ia berharap kepedulian generasi muda terhadap gerakan kepemudaan tetap terpelihara. Namun, ia juga menyoroti kekhawatiran bahwa kemampuan finansial kandidat dapat menjadi faktor dominan dalam kontestasi kepemimpinan KNPI, antara lain karena kebutuhan biaya organisasi.

Kondisi tersebut, menurut kritik yang disampaikannya, berpotensi membuat figur yang mengandalkan idealisme dan gagasan justru kesulitan memperoleh ruang.

Pandangan itu menempatkan persoalan integritas dan kualitas kepemimpinan sebagai bagian penting dari evaluasi gerakan kepemudaan. Kontestasi organisasi semestinya tidak hanya berkutat pada siapa yang mampu menduduki jabatan, tetapi juga siapa yang memiliki visi, komitmen, dan kapasitas untuk memperjuangkan kepentingan pemuda.

Di tengah kritik yang mengemuka, harapan terhadap fungsi pemersatu KNPI tetap menjadi perhatian.

Ompu mendorong agar dinamika yang terjadi dijadikan momentum introspeksi bersama. Ia memandang perlu adanya evaluasi dan penataan ulang format perjuangan kepemudaan, termasuk dengan mencermati gagasan-gagasan yang berkembang dalam Kelompok Cipayung.

Baginya, keberadaan wadah bersama tetap penting sebagai ruang perjumpaan berbagai latar belakang organisasi dan pemikiran. Komitmen mempersatukan pemuda, menurut pandangan tersebut, tidak boleh hilang di tengah perbedaan kepentingan dan orientasi gerakan.

Baca Juga :  Narkoba! Sidokkes Kepolisian Lakukan Pemeriksaan Urine di Kampung Puntun

Persoalan representasi juga menjadi sorotan Suyanto. Ia mempertanyakan sejauh mana KNPI mampu mewakili kepentingan pemuda dan menghadirkan kontribusi yang dapat dirasakan secara nyata.

Ia membandingkan peran KNPI dengan organisasi kepemudaan yang memiliki basis keanggotaan dan jaringan gerakan lebih spesifik, seperti Pemuda Muhammadiyah, Gerakan Pemuda Ansor, serta organisasi kepemudaan yang berafiliasi dengan partai politik.

Perbandingan tersebut mengarah pada pertanyaan mengenai efektivitas KNPI dalam menjangkau pemuda hingga tingkat akar rumput. Tantangannya bukan sekadar menghimpun organisasi, melainkan memastikan bahwa keberagaman yang ada benar-benar menjadi kekuatan untuk melahirkan program dan gerakan yang relevan.

Sementara itu, Dariyana, SE, mengingatkan kembali memori kolektif tentang KNPI sebagai kawah candradimuka bagi generasi muda untuk menempa diri menjadi calon pemimpin bangsa.

Pandangan itu menegaskan bahwa fungsi kaderisasi merupakan salah satu ukuran penting dalam menilai keberadaan organisasi kepemudaan. Regenerasi tidak cukup dimaknai sebagai pergantian pengurus, tetapi juga sebagai proses membangun kapasitas, integritas, dan tanggung jawab generasi penerus.

Nada kritis semakin tajam ketika diskusi membahas kemungkinan bergesernya orientasi organisasi dari pengabdian kepada pemuda menuju kepentingan pribadi atau kelompok.

Aris menyampaikan kritik satir agar sumbangsih KNPI tidak berhenti pada manfaat yang dirasakan pengurus untuk memperbaiki nasib mereka sendiri. Ia mengingatkan bahwa keberadaan organisasi seharusnya membawa dampak yang lebih luas bagi pemuda Indonesia.

Dalam refleksinya, ia menggambarkan KNPI pada masa lalu sebagai salah satu jembatan menuju kekuasaan bagi ketuanya, tetapi manfaat dari jembatan tersebut dinilai berisiko hanya dinikmati segelintir orang.

Kritik itu merupakan pandangan peserta dalam diskusi, sekaligus pengingat tentang pentingnya menjaga orientasi organisasi agar tidak terjebak pada mobilitas politik individu semata.

Agus Hermawan juga menekankan pentingnya landasan moral dalam gerakan kepemudaan. Menurutnya, KNPI kehilangan makna apabila tidak dijalankan dengan semangat fastabiqul khairat, yakni berlomba-lomba dalam kebaikan.

Ia turut menyoroti peran generasi senior dalam membentuk pola perilaku organisasi saat ini. Praktik-praktik pragmatis yang dikritik, menurut pandangannya, perlu dilihat pula dalam konteks proses pembelajaran, keteladanan, dan budaya organisasi yang diwariskan antargenerasi.

Dari perspektif historis, Sarwepin menyinggung dinamika kepemimpinan KNPI di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang pada masa lalu kerap dikaitkan dengan peluang meniti karier politik, termasuk menuju lembaga legislatif. Ia mencontohkan perjalanan Ir. Sapta Nusa Wenten, yang pernah memimpin KNPI Kalteng dan kemudian dikaitkan dengan kiprahnya menuju DPR RI.

Baca Juga :  PANGKORMAR PIMPIN SERTIJAB ASLOG, LANJUTKAN ESTAFET PENGABDIAN KORPS MARINIR

Catatan historis tersebut memperluas pembahasan mengenai hubungan antara organisasi kepemudaan dan jalur kepemimpinan publik. Persoalannya bukan semata-mata apakah kader KNPI dapat berkiprah dalam politik, melainkan bagaimana pengalaman berorganisasi tetap berakar pada pengabdian dan kepentingan masyarakat luas.

Dari berbagai pandangan yang disampaikan, diskusi tersebut mengerucut pada empat persoalan utama.

Pertama, relevansi organisasi. KNPI perlu mengevaluasi keberadaan dan kontribusinya agar tidak berhenti pada pemeliharaan struktur, sekretariat, maupun agenda seremonial.

Kedua, idealisme dan integritas kepemimpinan. Kekhawatiran terhadap pragmatisme dalam kontestasi Musyawarah Daerah (Musda), termasuk dugaan praktik politik uang yang menjadi perhatian peserta, menunjukkan pentingnya proses pemilihan yang mengutamakan kapasitas, gagasan, dan integritas.

Ketiga, kaderisasi dan persatuan. KNPI diharapkan kembali memperkuat perannya sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan sekaligus wadah yang mempertemukan berbagai elemen pemuda dalam semangat kebangsaan.

Keempat, orientasi pengabdian. Organisasi kepemudaan perlu memastikan bahwa pengalaman dan posisi struktural tidak hanya menjadi sarana mobilitas politik pengurus, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan generasi muda.

Keempat persoalan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan KNPI tidak semata-mata berkaitan dengan eksistensi kelembagaan, tetapi juga dengan kualitas gerakan, arah perjuangan, dan kemampuan menjawab kebutuhan generasi muda.

Diskusi reflektif KAHMI Kalteng itu memperlihatkan adanya kritik sekaligus harapan terhadap masa depan gerakan kepemudaan. Kritik yang disampaikan bukan dengan sendirinya menjadi keputusan resmi organisasi, tetapi mencerminkan kegelisahan sejumlah senior dan tokoh pemuda terhadap arah serta relevansi KNPI.

Pesan yang mengemuka cukup jelas, yaitu keberadaan KNPI perlu dinilai dari kualitas kaderisasi, integritas kepemimpinan, kemampuan mempersatukan perbedaan, dan kontribusi yang dapat dirasakan pemuda.

Pada akhirnya, organisasi kepemudaan tidak cukup hanya bertahan di tengah perubahan zaman. Ia juga dituntut membuktikan bahwa keberadaannya masih dibutuhkan.

Apabila KNPI ingin tetap relevan, ruang refleksi seperti ini dapat menjadi titik awal untuk mengevaluasi kembali orientasi gerakan, memperkuat idealisme, dan memastikan bahwa kepentingan pemuda tetap menjadi tujuan utama perjuangan.

Catatan redaksi: Berita ini disusun berdasarkan rilis refleksi dan rangkuman percakapan grup WhatsApp KAHMI Kalteng. Pandangan, kritik, dan keterangan historis yang disampaikan merupakan pendapat masing-masing peserta dan belum diverifikasi secara independen. Diskusi ini tidak serta-merta mencerminkan keputusan atau sikap resmi KAHMI Kalteng. (Fauji/Bck)

Follow WhatsApp Channel supersemarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pria 45 Tahun di Palangka Raya Ditangkap Polisi, 10 Paket Diduga Sabu Diamankan
Jaringan Antarprovinsi, Polres Kobar Gagalkan Peredaran Sabu-sabu Senilai Rp 3,8 Miliar
Perkuat Penanganan, Pangdam XXII/TB Bersama Pangdivif 3 Tinjau Karhutla di Jabiren Raya
Dua Pria di Banjarmasin Diamankan Polisi, 32 Botol Arak dan 2 Jerigen Tuak Disita
Pria Simpan Lima Paket Diduga Sabu Berakhir Ditangkap Satresnarkoba Polres Kapuas
Sosialisasi Daftar Polri, Polresta Palangka Raya: Penerimaan Polisi Terbuka dan Transparan
Rumah Dinas TNI di Gatot Subroto Palangka Raya Terbakar, Penyebab Belum Diketahui
BELI INDONESIA, BUKAN JUAL INDONESIA: INDUSTRI HARUS MANDIRI
Berita ini 23 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 23:54 WIB

Pria 45 Tahun di Palangka Raya Ditangkap Polisi, 10 Paket Diduga Sabu Diamankan

Selasa, 3 November 2026 - 23:50 WIB

Jaringan Antarprovinsi, Polres Kobar Gagalkan Peredaran Sabu-sabu Senilai Rp 3,8 Miliar

Selasa, 3 November 2026 - 23:44 WIB

Perkuat Penanganan, Pangdam XXII/TB Bersama Pangdivif 3 Tinjau Karhutla di Jabiren Raya

Selasa, 3 November 2026 - 23:39 WIB

Dua Pria di Banjarmasin Diamankan Polisi, 32 Botol Arak dan 2 Jerigen Tuak Disita

Selasa, 3 November 2026 - 23:35 WIB

Pria Simpan Lima Paket Diduga Sabu Berakhir Ditangkap Satresnarkoba Polres Kapuas

Berita Terbaru