BELI INDONESIA, BUKAN JUAL INDONESIA: INDUSTRI HARUS MANDIRI

- Jurnalis

Selasa, 3 November 2026 - 22:36 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Nasruddin Tueka, Lemhannas Angkatan 52, menyoroti pentingnya penguatan industri nasional, riset dan pengembangan (Research and Development), serta kemandirian ekonomi Indonesia. Melalui gagasan “Beli dari Indonesia dan Beli Indonesia”, ia mendorong pemerintah dan pengusaha memperkuat daya saing produk lokal, menguasai rantai pasok sumber daya alam, meningkatkan kualitas produksi, memperluas ekspor, serta menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Indonesia harus menjadi negara produsen yang kuat, bukan sekadar pasar produk asing. Saatnya membangun industri mandiri dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional. (Foto : dokumentasi pribadi/ Supersemar News)

SUPERSEMAR NEWS – JAKARTA – Nasruddin Tueka, Lemhannas Angkatan 52, Fokus Studi Ekonomi dan Isu-Isu Strategis, menyoroti pentingnya perubahan paradigma pembangunan ekonomi Indonesia. Menurutnya, pemahaman mengenai daya saing nasional tidak boleh hanya bertumpu pada tingginya konsumsi domestik, besarnya investasi, atau pembangunan kawasan ekonomi. Ketahanan ekonomi harus dibangun melalui penguatan industri dalam negeri, penguasaan rantai pasok sumber daya alam, peningkatan riset dan pengembangan (Research and Development/R&D), serta kemampuan menghasilkan produk berkualitas dengan harga kompetitif untuk memenuhi kebutuhan nasional dan menembus pasar ekspor.

Gagasan tersebut mengandung pesan penting bagi arah pembangunan Indonesia: bangsa ini harus mampu mengolah kekayaan alamnya sendiri, menguasai teknologi, memperkuat perusahaan nasional, dan menciptakan nilai tambah sebesar-besarnya di dalam negeri. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar bagi produk asing, sementara sumber daya strategis dan potensi ekonominya belum dimanfaatkan secara optimal untuk membangun kemandirian nasional.

Slogan “Beli dari Indonesia dan Beli Indonesia” harus diterjemahkan menjadi gerakan ekonomi yang konkret. Artinya, masyarakat mendukung produk nasional, pengusaha meningkatkan kualitas produksi, sedangkan pemerintah membangun kebijakan yang mendorong industrialisasi, inovasi, ekspor, dan pemerataan kesempatan usaha.

Daya Saing Bukan Sekadar Konsumsi Domestik

Nasruddin Tueka mengingatkan bahwa tingginya konsumsi masyarakat tidak otomatis menunjukkan kuatnya daya saing ekonomi nasional. Konsumsi memang menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi, tetapi manfaatnya akan lebih besar apabila permintaan tersebut mampu menggerakkan industri domestik.

Persoalannya muncul ketika kebutuhan pasar dalam negeri lebih banyak dipenuhi produk impor. Dalam situasi demikian, uang yang dibelanjakan masyarakat turut menggerakkan kegiatan produksi di negara lain. Sementara itu, industri nasional berpotensi kehilangan kesempatan untuk memperluas kapasitas produksi, menciptakan lapangan kerja, dan mengembangkan teknologi.

Karena itu, Indonesia membutuhkan strategi yang menghubungkan kekuatan pasar domestik dengan kemampuan produksi nasional. Produk lokal harus mampu memenuhi standar kualitas, harga, keamanan, dan pelayanan yang dibutuhkan konsumen.

Namun, gerakan membeli produk Indonesia juga tidak boleh berubah menjadi perlindungan tanpa batas terhadap produk yang tidak efisien. Industri nasional tetap harus bersaing secara sehat dan terus meningkatkan kualitasnya. Dengan demikian, nasionalisme ekonomi berjalan beriringan dengan produktivitas dan inovasi.

Kuasai Rantai Pasok, Tingkatkan Nilai Tambah

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang dapat menjadi fondasi pembangunan industri. Akan tetapi, kepemilikan sumber daya alam saja tidak cukup. Kekuatan ekonomi ditentukan oleh kemampuan mengolah, mengembangkan, dan memasarkan hasil produksi dengan nilai tambah tinggi.

Nasruddin Tueka menekankan pentingnya penguasaan rantai pasok dari sektor hulu hingga hilir. Pemerintah harus memastikan bahwa kekayaan mineral, energi, pertanian, perkebunan, perikanan, dan kehutanan terhubung dengan industri pengolahan serta manufaktur nasional.

Sebagai contoh, pengembangan industri mineral tidak boleh berhenti pada penjualan bahan mentah atau pengolahan tahap awal. Indonesia perlu memperkuat industri material, komponen, teknologi pemrosesan, hingga produk akhir yang mempunyai pasar internasional.

Demikian pula sektor pertanian. Pengembangan teknologi pengolahan pangan, penyimpanan, pengemasan, dan distribusi akan meningkatkan nilai ekonomi hasil produksi masyarakat.

Dengan strategi tersebut, Indonesia dapat memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan pelaku usaha lokal, memperkuat penerimaan negara, serta mengurangi ketergantungan terhadap produk impor yang sebenarnya dapat diproduksi secara kompetitif di dalam negeri.

Riset dan Pengembangan Menjadi Fondasi Industri Mandiri

Salah satu persoalan strategis yang mendapat penekanan dalam pandangan Nasruddin Tueka adalah lemahnya perhatian terhadap riset dan pengembangan sebagai fondasi daya saing industri.

Baca Juga :  Perkuat Penanganan, Pangdam XXII/TB Bersama Pangdivif 3 Tinjau Karhutla di Jabiren Raya

Pembangunan kawasan ekonomi, pusat data, infrastruktur, dan fasilitas produksi memang diperlukan. Namun, seluruh pembangunan tersebut harus menghasilkan kemampuan teknologi dan produktivitas yang semakin kuat.

Tanpa penelitian dan pengembangan, perusahaan berisiko hanya mengandalkan teknologi dari luar negeri. Akibatnya, kemampuan melakukan inovasi, meningkatkan kualitas, mengembangkan produk baru, dan menekan biaya produksi menjadi terbatas.

Oleh sebab itu, pemerintah harus memperkuat hubungan antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, dan perusahaan nasional. Hasil penelitian harus dapat diterapkan langsung dalam kegiatan produksi.

Dunia usaha juga perlu menjadikan R&D sebagai investasi jangka panjang. Pengembangan teknologi, peningkatan kualitas bahan baku, otomatisasi produksi, efisiensi energi, serta inovasi produk harus menjadi bagian dari strategi bisnis.

Indonesia tidak boleh terus-menerus menjadi pengguna teknologi. Bangsa ini harus meningkatkan kemampuan menciptakan, mengembangkan, dan menguasai teknologi sendiri.

Investasi Harus Menghasilkan Kekuatan Produksi

Nasruddin Tueka juga menyoroti pentingnya mengarahkan investasi pada kegiatan yang memberikan manfaat langsung terhadap kapasitas ekonomi nasional.

Pengembangan lembaga investasi seperti Danantara dan Danareksa perlu dilihat dalam konteks penguatan pembiayaan sektor produktif. Pengelolaan aset dan pengembangan portofolio investasi dapat menjadi instrumen ekonomi, tetapi keberhasilannya harus diukur melalui penciptaan nilai tambah, peningkatan produktivitas, serta penguatan industri nasional.

Danantara sendiri memiliki mandat strategis dalam pengelolaan investasi dan optimalisasi aset BUMN untuk mendukung industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, transparansi, tata kelola, akuntabilitas, dan pengukuran hasil investasi menjadi sangat penting.

Begitu pula pembangunan pusat data. Fasilitas tersebut dapat mendukung transformasi digital, tetapi Indonesia juga harus mengembangkan kemampuan di bidang perangkat lunak, keamanan siber, kecerdasan buatan, perangkat keras, dan sumber daya manusia teknologi.

Dengan demikian, investasi tidak berhenti pada pembangunan gedung, kawasan, atau fasilitas fisik. Investasi harus menghasilkan kemampuan ekonomi yang dapat dipertahankan dan dikembangkan dalam jangka panjang.

Pengusaha Harus Memperbesar Kontribusi kepada Negara

Persoalan lain yang disoroti Nasruddin Tueka adalah hubungan antara dunia usaha dan pemerintah.

Pengusaha membutuhkan kepastian hukum, kemudahan perizinan, akses pembiayaan, insentif, serta kebijakan afirmatif. Dukungan tersebut penting untuk membangun iklim usaha yang sehat. Namun, fasilitas pemerintah harus diimbangi dengan kontribusi nyata perusahaan terhadap perekonomian nasional.

Pengusaha tidak cukup hanya meminta kemudahan. Mereka juga harus meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja, memperluas ekspor, mengembangkan teknologi, serta memenuhi kewajiban perpajakan.

Pemerintah perlu menerapkan evaluasi terhadap insentif yang diberikan. Setiap fasilitas harus memiliki indikator manfaat yang terukur, seperti peningkatan kapasitas produksi, penyerapan tenaga kerja, penggunaan pemasok lokal, pengembangan riset, dan kontribusi penerimaan negara.

Dengan pendekatan tersebut, hubungan pemerintah dan pengusaha dapat berkembang menjadi kemitraan produktif. Negara memberikan ruang pertumbuhan, sementara dunia usaha memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional.

Jangan Bebankan Penerimaan Negara Hanya kepada Masyarakat

Penerimaan negara merupakan fondasi pembiayaan pembangunan. Karena itu, penguatan basis perpajakan harus melibatkan seluruh sektor ekonomi sesuai kemampuan dan ketentuan yang berlaku.

Nasruddin Tueka mengingatkan pentingnya meningkatkan kontribusi dunia usaha terhadap pendapatan negara. Perusahaan yang berkembang dan memperoleh keuntungan harus menjalankan kewajiban perpajakannya secara bertanggung jawab.

Di sisi lain, pemerintah perlu memperluas basis pajak secara adil, memperbaiki administrasi, menutup kebocoran, serta menciptakan kepastian hukum.

Pajak tidak boleh hanya dipandang sebagai beban masyarakat. Peningkatan produktivitas perusahaan, pertumbuhan industri, dan bertambahnya kegiatan ekonomi formal harus menjadi sumber penguatan penerimaan negara.

Keseimbangan ini penting agar pembangunan tidak mengabaikan daya beli masyarakat maupun keberlanjutan dunia usaha.

Pasar Modal Harus Membiayai Pertumbuhan Jangka Panjang

Pasar modal juga mempunyai peran penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi. Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia seharusnya tidak hanya berorientasi pada transaksi saham dan penguatan ekuitas jangka pendek.

Pasar modal perlu menjadi sumber pembiayaan bagi ekspansi usaha, pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas produksi, dan inovasi.

Nasruddin Tueka menilai perusahaan nasional perlu memperkuat fundamental bisnis agar mampu tumbuh secara berkelanjutan. Investor juga perlu memperhatikan kualitas tata kelola, arus kas, prospek pasar, strategi inovasi, dan kemampuan perusahaan menghasilkan nilai tambah.

Baca Juga :  Pria Sembunyikan Diduga Sabu Dibalut dengan Tisu Akhirnya Dibekuk Satresnarkoba Kotim

Otoritas Jasa Keuangan telah memiliki berbagai peta jalan pengembangan pasar modal, termasuk Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan Indonesia 2026–2030. Arah pengembangan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pembiayaan dan investasi yang lebih bertanggung jawab.

Dengan demikian, pasar modal harus semakin terhubung dengan sektor riil. Dana investasi perlu mendukung perusahaan yang produktif dan mempunyai prospek pertumbuhan jangka panjang.

Kemandirian Industri Berkaitan dengan Stabilitas Rupiah

Ketergantungan terhadap impor bahan baku, komponen, teknologi, dan barang modal dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing. Dalam kondisi tertentu, kebutuhan tersebut dapat menambah tekanan terhadap ketahanan eksternal Indonesia.

Namun, pelemahan rupiah tidak dapat dikaitkan hanya dengan persoalan industri. Pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi kondisi geopolitik, kebijakan suku bunga internasional, arus modal, kebutuhan valuta asing, neraca perdagangan, dan sentimen pasar global.

Karena itu, penguatan industri nasional harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan ekonomi.

Indonesia perlu memperbesar ekspor produk bernilai tambah, memperkuat pemasok domestik, meningkatkan efisiensi produksi, serta melakukan substitusi impor secara selektif dan rasional.

Tujuannya bukan menutup diri dari perdagangan internasional, melainkan membangun kemampuan nasional agar tidak mudah terguncang ketika terjadi gangguan rantai pasok global.

Hindari Kebijakan Jangka Pendek dan Konsentrasi Ekonomi

Nasruddin Tueka juga mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh hanya mengikuti kepentingan jangka pendek setiap periode pemerintahan.

Pengembangan industri membutuhkan konsistensi. Riset, penguasaan teknologi, pembentukan rantai pasok, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

Selain itu, pemerintah harus memastikan bahwa akses terhadap pembiayaan, investasi, dan fasilitas ekonomi tidak terkonsentrasi pada kelompok usaha tertentu. Persaingan sehat, keterbukaan informasi, pengawasan, dan tata kelola yang baik menjadi instrumen penting untuk mencegah ketimpangan kesempatan.

Pengusaha kecil dan menengah, koperasi, serta industri pemasok lokal harus mendapatkan kesempatan untuk masuk dalam rantai produksi nasional.

Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan harus menghasilkan manfaat luas, bukan hanya meningkatkan nilai aset kelompok tertentu.

Saatnya Mengubah Paradigma: Dari Jual Aset Menuju Industri Mandiri

Gagasan Nasruddin Tueka mengarah pada perubahan orientasi pembangunan ekonomi: dari sekadar mengejar investasi dan peningkatan portofolio menuju penciptaan kemampuan produksi nasional.

Untuk mewujudkannya, terdapat beberapa agenda strategis yang perlu diperkuat.

Pertama, pemerintah harus membangun peta jalan industrialisasi yang menghubungkan sumber daya alam dengan industri pengolahan dan manufaktur.

Kedua, anggaran riset dan pengembangan harus diperkuat serta diarahkan pada kebutuhan industri.

Ketiga, pembiayaan investasi perlu diprioritaskan pada kegiatan produktif yang menghasilkan teknologi, nilai tambah, dan ekspor.

Keempat, pengusaha harus meningkatkan kontribusi terhadap penerimaan negara serta memperluas penggunaan produk dan pemasok domestik.

Kelima, pasar modal harus semakin berperan dalam membiayai pertumbuhan perusahaan nasional yang inovatif dan berkelanjutan.

Keenam, kebijakan ekonomi harus memiliki kesinambungan lintas pemerintahan agar pembangunan industri tidak terhenti oleh perubahan prioritas politik.

Beli Indonesia, Bangun Kemandirian Ekonomi Nasional

Pada akhirnya, slogan “Beli dari Indonesia dan Beli Indonesia” bukan sekadar ajakan untuk mencintai produk lokal. Slogan tersebut harus menjadi gerakan untuk membangun kekuatan produksi, mengembangkan teknologi, memperkuat industri nasional, dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

Masyarakat dapat mendukung produk dalam negeri. Pengusaha harus meningkatkan kualitas dan efisiensi. Pemerintah perlu memastikan bahwa sumber daya alam, investasi, dan kebijakan ekonomi memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan nasional.

Indonesia tetap membutuhkan investasi asing dan kerja sama internasional. Namun, kerja sama tersebut harus memberikan manfaat yang jelas melalui pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas tenaga kerja, perluasan pemasok lokal, dan pertumbuhan ekspor.

Pesan Nasruddin Tueka menjadi pengingat bahwa kekuatan ekonomi tidak cukup dibangun melalui besarnya konsumsi, penjualan aset, atau pertumbuhan portofolio investasi.

Indonesia harus menjadi negara produsen yang kuat, bukan sekadar pasar yang besar. Indonesia harus mampu menciptakan teknologi, bukan hanya menggunakannya. Indonesia harus mengolah kekayaan alam menjadi produk bernilai tambah, bukan sekadar menjual sumber daya tanpa penguatan industri.

Inilah makna strategis dari gerakan “Beli dari Indonesia dan Beli Indonesia.” Sebuah dorongan untuk membangun kemandirian industri, memperkuat riset dan inovasi, meningkatkan daya saing, serta mewujudkan ketahanan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

SUPERSEMAR NEWS

Narasumber: Nasruddin Tueka – Lemhannas Angkatan 52, Fokus Studi Ekonomi dan Isu-Isu Strategis.

Reporter: R/Rifay Marzuki

Sumber: Gagasan dan pandangan Nasruddin Tueka.

Editor : Sangga Buana

Follow WhatsApp Channel supersemarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pria 45 Tahun di Palangka Raya Ditangkap Polisi, 10 Paket Diduga Sabu Diamankan
Jaringan Antarprovinsi, Polres Kobar Gagalkan Peredaran Sabu-sabu Senilai Rp 3,8 Miliar
Perkuat Penanganan, Pangdam XXII/TB Bersama Pangdivif 3 Tinjau Karhutla di Jabiren Raya
Dua Pria di Banjarmasin Diamankan Polisi, 32 Botol Arak dan 2 Jerigen Tuak Disita
Pria Simpan Lima Paket Diduga Sabu Berakhir Ditangkap Satresnarkoba Polres Kapuas
Sosialisasi Daftar Polri, Polresta Palangka Raya: Penerimaan Polisi Terbuka dan Transparan
Rumah Dinas TNI di Gatot Subroto Palangka Raya Terbakar, Penyebab Belum Diketahui
Dugaan Penyadapan Prabowo: Klaim Tiga Tersangka Disorot
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 23:54 WIB

Pria 45 Tahun di Palangka Raya Ditangkap Polisi, 10 Paket Diduga Sabu Diamankan

Selasa, 3 November 2026 - 23:50 WIB

Jaringan Antarprovinsi, Polres Kobar Gagalkan Peredaran Sabu-sabu Senilai Rp 3,8 Miliar

Selasa, 3 November 2026 - 23:44 WIB

Perkuat Penanganan, Pangdam XXII/TB Bersama Pangdivif 3 Tinjau Karhutla di Jabiren Raya

Selasa, 3 November 2026 - 23:39 WIB

Dua Pria di Banjarmasin Diamankan Polisi, 32 Botol Arak dan 2 Jerigen Tuak Disita

Selasa, 3 November 2026 - 23:35 WIB

Pria Simpan Lima Paket Diduga Sabu Berakhir Ditangkap Satresnarkoba Polres Kapuas

Berita Terbaru