Efek jangka panjang kelainan genetik urin menghitam

- Jurnalis

Jumat, 4 April 2025 - 21:22 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Jakarta – Urin yang menghitam merupakan gejala khas kelainan genetik alkaptonuria yang disebabkan oleh kekurangan enzim homogentisat 1,2-dioksigenase.

Ditulis laman Hindustan Times, Kamis (3/4), Konsultan Urologi, Rumah Sakit Jupiter Dr Abhishek Agrawal mengatakan enzim homogentisat 1,2-dioksigenase penting untuk memecah asam homogentisat, produk sampingan metabolisme asam amino yang jika kekurangan akan dikeluarkan melalui urin.

“Ketika enzim kekurangan, asam homogentisat terakumulasi dalam tubuh dan dikeluarkan melalui urin. Setelah terpapar udara, asam ini teroksidasi, menyebabkan urin berubah menjadi cokelat tua atau hitam, gejala khas alkaptonuria,” katanya.

Baca juga: Pentingnya menjaga kekuatan otot dasar panggul untuk wanita

Ia menjelaskan warna hitam pada urin sering kali merupakan tanda awal dan paling kentara dari penyakit ini, biasanya muncul pada masa bayi atau anak-anak. Namun, banyak penderita alkaptonuria mungkin tidak mengalami gejala lain hingga dewasa.

Penumpukan asam homogentisat selama beberapa dekade menyebabkan kondisi yang disebut okronosis, di mana asam mengikat jaringan ikat, mengubahnya menjadi gelap dan menyebabkan kerusakan jaringan secara bertahap.

Efek jangka panjangnya antara lain penyakit sendi degeneratif. Endapan asam homogenisiat dalam tulang rawan menyebabkan sendi menjadi rapuh dan rentan terhadap keausan.

Pasien sering mengalami radang sendi yang parah, terutama di tulang belakang, pinggul, dan lutut, pada usia 30-an atau 40-an. Kerusakan sendi ini dapat menyebabkan nyeri kronis, mobilitas berkurang, dan kualitas hidup menurun.

Baca juga: Pantau warna urin untuk tahu masalah penyakit di tubuh

Agrawal mengatakan penumpukan asam homogentisat dapat mengkristal di ginjal dan prostat yang menyebabkan terbentuknya batu.

“Pasien mungkin juga mengalami pigmentasi gelap di telinga, kulit, dan sklera (bagian putih mata), yang merupakan tanda nyata dari perkembangan penyakit,” katanya.

Meskipun saat ini belum ada obat untuk alkaptonuria, diagnosis dini dan penanganan gejala dapat meningkatkan hasil pengobatan pasien.

Ia mengatakan perawatan biasanya berfokus pada penghilangan rasa sakit, menjaga fungsi sendi, dan memantau komplikasi kardiovaskular dan ginjal, jelas ahli urologi tersebut.

(Antara)( SupersemarNewsTeam)

Follow WhatsApp Channel supersemarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Graduation BFBL Sidoarjo Batch 13 Angkat Karsa Nusantara
Dugaan Keracunan MBG Berulang, Prabowo Didesak Evaluasi
5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, SAR Perluas Pencarian!
Maxim Bagikan 1.000 Masker, Ahmad Sofian Peduli Kabut Asap
Api Berhenti di Batas Sawit, Kebetulan atau Pola?
Ketum HIPMAPI TAUBAT H.M. Gunther Gemparalam bersama jajaran DPP membentuk SATGAS dan sekaligus mengukuhkan Dr. Sumitro Tenggara S. H., Sebagai Dan Satgas Pokja DAS
Emma Rivilla Dan Relawan Gabungan Bersihkan Sampah Usai Lomba Dayung HSU 2026
Kabut Asap HSU: APINDO Bagikan 1.000 Masker Gratis ke Siswa!
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 22:29 WIB

Graduation BFBL Sidoarjo Batch 13 Angkat Karsa Nusantara

Jumat, 11 September 2026 - 17:26 WIB

Dugaan Keracunan MBG Berulang, Prabowo Didesak Evaluasi

Jumat, 11 September 2026 - 14:09 WIB

5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, SAR Perluas Pencarian!

Jumat, 4 September 2026 - 09:26 WIB

Maxim Bagikan 1.000 Masker, Ahmad Sofian Peduli Kabut Asap

Rabu, 2 September 2026 - 07:29 WIB

Api Berhenti di Batas Sawit, Kebetulan atau Pola?

Berita Terbaru

Berita utama

Letjen TNI Iwan Setiawan, dari Everest ke Kostrad

Jumat, 23 Okt 2026 - 09:10 WIB