
Hari Bumi 2026: Alarm Keras dari Hulu Tasikmalaya
SUPERSEMAR NEWS, Tasikmalaya — Peringatan Hari Bumi 2026 di Kota Tasikmalaya tidak lagi berjalan sebagai seremoni simbolik yang rutin digelar setiap tahun. Sebaliknya, momentum kali ini menjelma menjadi ruang kritik terbuka yang tajam, lugas, dan penuh kesadaran ekologis melalui gerakan bertajuk “Ngarumat Hulu Cai.”
Kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan ritual budaya, melainkan menjadi bentuk perlawanan moral terhadap kerusakan lingkungan yang semakin nyata—khususnya di kawasan hulu sebagai sumber utama kehidupan.
Lebih dari itu, masyarakat secara kolektif menyuarakan kegelisahan yang selama ini terpendam. Mereka menilai bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini bukan lagi sekadar isu, melainkan krisis yang telah memasuki tahap mengkhawatirkan.
Fakta Lapangan: Degradasi Hulu Kian Nyata
Seiring dengan meningkatnya tekanan pembangunan dan alih fungsi lahan, kondisi lingkungan di wilayah hulu Tasikmalaya menunjukkan penurunan signifikan.
Berdasarkan temuan lapangan dan pengamatan masyarakat:
- Tutupan vegetasi mengalami penyusutan drastis
- Daya serap tanah menurun akibat eksploitasi lahan
- Debit mata air terus menyusut dari tahun ke tahun
Akibatnya, ekosistem alami kehilangan keseimbangannya. Air yang seharusnya tersimpan di dalam tanah kini mengalir tanpa kendali, memicu potensi kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim hujan.
Dengan kata lain, kerusakan di hulu menjadi bom waktu bagi wilayah hilir.
Kearifan Lokal yang Diabaikan
Padahal, jauh sebelum konsep pembangunan modern diperkenalkan, leluhur Sunda telah mewariskan prinsip ekologis yang kuat:
“Gunung kudu awian, lengkob kudu balongan, lebak kudu sawahan — leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak.”
Pesan ini secara tegas menekankan pentingnya keseimbangan antara manusia dan alam. Namun realitas saat ini menunjukkan bahwa nilai tersebut semakin terpinggirkan oleh orientasi pembangunan jangka pendek.
Alih-alih menjaga keberlanjutan, praktik pembangunan justru sering kali mengorbankan lingkungan.
Kritik Terbuka untuk Pemerintah
Panitia kegiatan “Ngarumat Hulu Cai” tidak menutup mata terhadap akar persoalan yang lebih besar. Mereka secara terbuka menyoroti lemahnya tata kelola lingkungan di tingkat daerah.
Beberapa catatan kritis yang disampaikan antara lain:
- Alih fungsi lahan yang tidak terkendali
- Minimnya pengawasan kawasan resapan air
- Kebijakan lingkungan yang belum berpihak pada keberlanjutan
- Alokasi anggaran yang belum optimal untuk konservasi
Menurut panitia, krisis ini bukanlah kejadian tiba-tiba. Sebaliknya, kondisi ini merupakan akumulasi dari pembiaran yang berlangsung selama bertahun-tahun.
“Jika tidak ada langkah tegas, maka krisis air bukan lagi ancaman, melainkan kenyataan yang akan segera dihadapi masyarakat,” tegas perwakilan panitia.
Hari Bumi: Dari Simbol ke Aksi Nyata
Dalam konteks ini, masyarakat menuntut perubahan paradigma. Hari Bumi tidak boleh berhenti pada seremoni dan simbolisasi belaka.
Sebaliknya, peringatan ini harus menjadi titik balik menuju aksi nyata yang terukur.
Oleh karena itu, melalui kegiatan “Ngarumat Hulu Cai,” masyarakat ingin menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama—baik individu, komunitas, maupun negara.
Ngarumat Hulu Cai: Gerakan Moral dan Spiritual
Lebih dari sekadar agenda budaya, “Ngarumat Hulu Cai” merupakan gerakan yang mengintegrasikan tiga dimensi utama:
- Nilai spiritual
- Kearifan lokal
- Aksi ekologis nyata
Pepatah Sunda kembali mengingatkan:
“Cai lain saukur ngalir, tapi ngalantarankeun kahirupan.”
Artinya, air bukan sekadar sumber daya, melainkan elemen kehidupan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Tujuan Strategis Gerakan
Kegiatan ini dirancang dengan tujuan yang jelas dan terukur, yaitu:
- Meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga sumber air
- Menghidupkan kembali nilai kearifan lokal sebagai pedoman hidup
- Mendorong aksi konkret dalam pelestarian lingkungan
- Membangun harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual
Dengan pendekatan ini, gerakan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga edukatif dan transformatif.
Rangkaian Kegiatan yang Holistik
Untuk mencapai tujuan tersebut, panitia menyusun rangkaian kegiatan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat:
- Kirab budaya keliling Kota Tasikmalaya
- Doa bersama dan ritual adat Ngarumat Hulu Cai
- Aksi bersih kawasan hulu mata air
- Ritual tanam sebagai simbol keberlanjutan
- Pertunjukan seni dan budaya berbasis lingkungan
Setiap kegiatan dirancang untuk membangun kesadaran sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat.
Lokasi Simbolik: Mata Air Gedong Cai
Kegiatan ini dipusatkan di kawasan strategis yang memiliki nilai ekologis tinggi:
- Mata Air “Gedong Cai”
- Gunung Kokosan
- Kelurahan Cibunigeulis
- Kecamatan Bungursari
- Kota Tasikmalaya
Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut merupakan salah satu sumber air penting yang kini menghadapi tekanan serius akibat perubahan lingkungan.
Momentum Kritis: Waktu yang Tidak Bisa Ditunda
Pelaksanaan kegiatan pada:
Rabu, 22 April 2026
bertepatan dengan Hari Bumi, menjadikan momentum ini semakin kuat secara simbolik maupun substansial.
Namun demikian, pesan yang ingin disampaikan jauh melampaui satu hari peringatan.
Ini adalah tentang masa depan.
Ancaman Nyata di Depan Mata
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka dampak yang akan muncul tidak bisa dianggap sepele:
- Krisis air bersih
- Penurunan kualitas hidup masyarakat
- Konflik sumber daya
- Kerusakan ekosistem permanen
Dengan kata lain, krisis lingkungan akan bertransformasi menjadi krisis sosial dan ekonomi.
Seruan Tegas: Negara Harus Hadir
Melalui gerakan ini, masyarakat mengirimkan pesan yang jelas:
Negara tidak boleh absen.
Pemerintah daerah didorong untuk:
- Menguatkan regulasi perlindungan kawasan hulu
- Menindak tegas pelanggaran lingkungan
- Mengalokasikan anggaran yang memadai
- Melibatkan masyarakat dalam pengambilan kebijakan
Tanpa langkah konkret, maka semua upaya akan berhenti pada retorika.
Penegasan Moral: Alam Bukan Warisan, Tapi Titipan
Sebagaimana pesan leluhur yang kembali digaungkan:
“Urang lain nu boga alam, urang ngan saukur nu nginjeum.”
Manusia bukan pemilik alam, melainkan hanya peminjam.
Oleh karena itu, tanggung jawab menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban moral yang tidak bisa ditawar.
Dari Tasikmalaya untuk Dunia
“Ngarumat Hulu Cai” bukan hanya tentang Tasikmalaya.
Ini adalah refleksi dari krisis global yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Namun di sisi lain, gerakan ini juga menjadi contoh bahwa perubahan bisa dimulai dari lokal.
Dengan kesadaran, keberanian, dan aksi nyata, harapan itu masih ada.
Hari Bumi 2026 harus menjadi titik balik.
Bukan sekadar peringatan.
Melainkan awal dari perubahan nyata.
Jika hari ini diabaikan, maka yang diwariskan bukanlah keberlanjutan—melainkan krisis yang tak terhindarkan.***(SB)
SupersemarNewsTeam
