Kalimantan, Supersemar news– Puluhan warga di berbagai daerah di Kalimantan diduga mabuk kecubung. Mereka mengalami demam, linglung, gelisah, dan berhalusinasi. Peristiwa ini terjadi di Sampit, banjarmasin, dan Danau Sembuluh.

Di Kota Sampit, terdapat 9 orang ditemukan mabuk yang di duga mengonsumsi pil oplosan yang mengandung kecubung. Dua orang di antaranya dilarikan ke Rumah Sakit Murjani pada Minggu (7/7/2024)

” Salah satu warga mengatakan bahwa dia kaget melihat keluarganya tiba-tiba linglung, mengamuk, dan tidak sadarkan diri terpaksa kami bawa ke Rumah sakit,” ujar nya.

Di desa Sembuluh ,Kec.danau sembuluh sekitar kurang lebih 30 orang di Desa Sembuluh 2 ditemukan mabuk karena diduga mengonsumsi pil oplosan, Kades Sembuluh 2, Ahmad Syukur, membenarkan kejadian ini dan mengatakan bahwa beberapa orang diamankan di rumah masing-masing dan ada beberapa orang yang dirujuk ke RSUD Murjani Sampit.

Dan di kutip dari wartabanjar com
Di Banjarmasin, 28 pasien dengan gejala keracunan kecubung memadati IGD RSJ Sambang Lihum, Pasien berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan, seperti Banjarmasin, Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan, Barito Kuala, dan Kotabaru.

Melonjaknya pasien ini menyebabkan ruang perawatan detoks di RSJ Sambang Lihum penuh, sehingga pihak rumah sakit terpaksa menggunakan ruangan lain untuk menampung pasien.

Dua orang pasien mabuk kecubung yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum dikabarkan meninggal dunia.

Hal ini dikonfirmasi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum, Yuddy Riswandhy Noora.

“Ada dua orang pasien laki-laki yang meninggal dunia pada hari Jumat tanggal 5 Juli 2024 dan Selasa pagi tanggal 9 Juli 2024,” ujar Yuddy Riswandhy Noora.
Sementara itu, dr Firdaus Yamani, Sp.KJ (K) Psikiater Konsultan Adiksi RSJ Sambang Lihum menjelaskan penyebab kematian dua pasien tersebut.

“Dua orang meninggal ini terjadi komplikasi yakni depresi pernapasan,” jelas dr Firdaus Yamani.

Pada awalnya, dua pasien tersebut mulai membaik. Tapi secara tiba-tiba suhu tubuh mereka naik dan saturasi oksigen menurun kemudian sesak nafas dan meninggal dunia.

Pihak RSJ Sambang Lihum pun belum bisa memastikan para pasien mengonsumsi Kecubung dengan cara apa karena mayoritas pasien yang dirawat masih dalam keadaan gelisah sehingga belum bisa diperoleh informasi yang akurat.

“Kita belum tahu mereka mengonsumsi dengan cara apa, karena masih dalam kondisi gelisah dan lingkung, namun dari diagonsa sementara kecubung dioplos dengan alkohol dan zenith,” ujar Firdaus lagi.

Dari penjelasan dr Firdaus, efek halusinasi saat mabuk kecubung akan berlangsung selama 2 atau 3 hari. Kemudian, pasien tetap harus dilakukan evaluasi atau perawatan selama kurang lebih 2 minggu agar zat adiksi dari kecubung benar-benar hilang.

“Kita disini menangani sesuai kondisi mereka. Jika sulit tidur maka akan kita beri obat tidur, jika mengamuk akan kita beri penenang dan kita beri suntikan agar zat adiksi dari kecubung bisa keluar lewat urin sehingga mereka pulih lebih cepat,” tutup dr Firdaus.

Masyarakat di himbau untuk berhati hati dan menjaga/ maupun mengawasi anak maupun sanak saudara agar tidak mengkonsumsi pil oplosan.

red/AR