
Sepak terjang Jenderal Kopassus AM Hendropriyono dikenal pemberani dan tangguh dalam penugasan di sejumlah medan operasi hingga menorehkan sejumlah prestasi.
Jenderal Kopassus AM Hendropriyono: Pemberani di Medan Operasi dan Pertemuan Bersejarah dengan Musuh Lama
**SUPERSEMARNEWS.COM BOGOR – Jenderal Abdullah Mahmud (AM) Hendropriyono dikenal sebagai prajurit pemberani dan tangguh di berbagai medan operasi militer.
Sebagai mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) dan tokoh TNI AD, khususnya di Korps Baret Merah Kopassus, ia meraih banyak prestasi gemilang.
Salah satunya adalah keberhasilan dalam operasi penumpasan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) pada 1973.
Operasi di Rimba Kalimantan
Pada 1973, Kapten Hendropriyono memimpin operasi di hutan lebat Kalimantan untuk menumpas kelompok bersenjata pimpinan Sukirjan alias Siauw Ah San.
Operasi dimulai dengan perjalanan merayap sejauh 4,5 kilometer menuju markas musuh. Kecepatan merayap diatur menggunakan kode: hijau (10 meter/menit), kuning (5 meter/menit), dan merah (berhenti).
Dalam perjalanan, pasukan menghadapi ancaman ular kobra besar. Mereka membeku hingga ular itu pergi. Setelah lima jam merayap, mereka mencapai posisi serangan dan menunggu hingga waktu serangan pukul 04.00 tiba.

Duel Maut dengan Pemimpin PGRS
Saat penyergapan, Hendropriyono terlibat duel satu lawan satu dengan Sukirjan. Dalam pertarungan itu, ia terluka parah—jari kelingking hampir putus dan paha kiri robek akibat bayonet. Namun, Hendropriyono berhasil menembak mati Sukirjan. Setelah operasi, ia dirawat di RS Mempawah akibat luka-lukanya.
Meski berhasil melumpuhkan Sukirjan, tokoh utama PGRS/Paraku, Boong Kee Chok, belum tertangkap. Beberapa waktu kemudian, Hendropriyono menerima kabar bahwa Boong Kee Chok menyerah. Pemberontakan pun berhasil diredam.

Pertemuan di Singapura
Tiga puluh delapan tahun kemudian, Hendropriyono bertemu Boong Kee Chok di lobi Hotel Four Seasons, Singapura. Pertemuan yang diatur oleh Mark Wee itu membuat Hendropriyono terkejut melihat Boong Kee Chok bertubuh 163 cm tetapi berwibawa dan tetap bugar.
Mereka berbincang hangat, mengenang luka perang. Hendropriyono menanyakan jari buntung Boong Kee Chok akibat granat tua, sementara Boong Kee Chok mengamati luka di tubuh Hendropriyono.
Pelajaran dari Pertemuan
Pertemuan itu menjadi momen berharga bagi Hendropriyono. Ia menyadari perang usai, menyisakan kenangan dan pelajaran. “Keberanian dan kebijaksanaan harus seiring,” ujarnya.
(SupersemarNewsTeam)
(R/SanggaBuana)
