
Kemegahan arsitektur tradisional di tengah alam Sunda ini mencerminkan nilai Tri Tangtu di Buana—harmoni antara spiritualitas, kepemimpinan, dan kebijaksanaan leluhur.
SUPERSEMAR NEWS BOGOR – Ratu Raja Okki Jusuf Judanagara, tokoh budaya Jawa Barat, mengajak masyarakat menghidupkan kembali filosofi Tri Tangtu di Buana, warisan leluhur Sunda yang mulai terlupakan.
Pilar Tatanan Kehidupan Sunda
Tri Tangtu terdiri dari tiga unsur utama yang membentuk sistem pemerintahan dan kehidupan masyarakat kerajaan Sunda dahulu. Unsur pertama, Karamaan (Jagad Daranan), menjadi tempat mendidik pemimpin dalam ilmu kenegaraan, pertanian, dan irigasi. Ini melambangkan Keraton Luhur.
Unsur kedua, Karesian (Jagad Kerta), membentuk spiritualitas pemimpin melalui pengajaran akhlak dan ketuhanan, sebagai simbol Keraton Madya. Terakhir, Karatuan (Jagad Palangka), merupakan wilayah kekuasaan Raja atau Ratu dalam menjalankan pemerintahan yang adil—simbol dari Keraton Handap.
Kekhawatiran Terkikisnya Budaya
Okki menyampaikan, budaya asing dan kemajuan zaman perlahan menggerus jati diri Sunda. “Sukleuk leuweung, sukleuk lampih, jauh kasintung kalapa,” ucapnya, mengutip peribahasa Sunda yang mencerminkan keterasingan manusia dari akar budayanya.
Menurutnya, pelestarian nilai ini penting untuk mencegah generasi mendatang kehilangan arah hidup. “Apa yang diwariskan leluhur bukan sekadar tradisi, tapi juga jalan hidup,” tegasnya.
Dorongan Revitalisasi Budaya
Sebagai langkah konkret, Okki mendorong pendidikan berbasis kearifan lokal. Ia juga mengimbau pemerintah dan masyarakat memperkuat budaya di tengah derasnya globalisasi.
Baca juga berita budaya lainnya di Supersemar News.
SupersemarNewsTeam
SanggaBuana
