
Kak Seto Terkena Stroke Meski Aktif dan Bugar
SUPERSEMAR NEWS – Jakarta. Kabar mengejutkan datang dari pemerhati anak Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto, setelah diketahui menjalani perawatan di rumah sakit akibat stroke ringan disertai aritmia atau gangguan irama jantung.
Padahal, publik mengenalnya sebagai figur yang aktif berolahraga dan menjaga pola hidup sehat. Lantas, mengapa seseorang yang terlihat bugar tetap bisa terserang stroke?
stroke?
Stroke Adalah Penyakit Multifaktor
Menurut Dr. dr. Pricilla Yani Gunawan, SpN, Subsp ENK(K), neurolog dari Siloam Hospital, stroke merupakan penyakit multifaktor — dipengaruhi oleh banyak hal yang saling berkaitan, bukan hanya aktivitas fisik atau pola makan.
“Faktor yang paling sering itu tekanan darah, gula darah, dan kolesterol. Aktivitas fisik memang berpengaruh pada elastisitas pembuluh darah, tapi bukan berarti kalau punya faktor risiko, lalu olahraga pasti terhindar. Semua faktor harus kita identifikasi,”
ujar dr Pricilla saat ditemui di Siloam Hospital Lippo Village, Rabu (29/10/2025).
Ia menegaskan, usia merupakan salah satu faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan. Seiring bertambahnya umur, pembuluh darah akan mengalami pengerasan (aterosklerosis) dan kehilangan kelenturannya, sehingga risiko penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak meningkat.
“Usia merupakan faktor yang nggak bisa kita kontrol. Seiring waktu, pembuluh darah makin kaku dan fungsi tubuh yang tadinya protektif mulai berkurang,” jelasnya.
Kaitan Usia, Aritmia, dan Stroke
Sejumlah penelitian memperkuat hubungan antara penuaan, aritmia, dan risiko stroke.
Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam jurnal Stroke (2021) menunjukkan bahwa atrial fibrillation (AF) — jenis aritmia paling umum pada lansia — dapat meningkatkan risiko stroke iskemik hingga 5–7 kali lipat, terutama pada usia di atas 65 tahun.
Sementara itu, studi dalam European Heart Journal (2020) menemukan bahwa proses penuaan dapat menyebabkan pengerasan arteri dan gangguan konduksi listrik jantung, yang bisa memicu aritmia bahkan pada individu yang aktif sekalipun.
Dengan kata lain, gaya hidup sehat dan olahraga rutin tetap penting, tetapi faktor seperti usia, tekanan darah, kolesterol, dan kondisi pembuluh darah tetap memainkan peran besar terhadap risiko stroke.
Olahraga Tidak Cukup Jika Faktor Risiko Tak Terkontrol
Dokter Pricilla menegaskan, olahraga memang berfungsi menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah, namun tidak cukup jika tekanan darah tinggi, kadar gula, atau kolesterol tidak dikontrol dengan baik.
“Kalau tensi tinggi, kolesterol belum terkontrol, atau ada aritmia, olahraga saja tidak cukup. Harus tetap dipantau dan diobati,” pungkasnya.
Langkah Pencegahan yang Disarankan
Agar masyarakat tidak mengalami kejadian serupa, berikut beberapa langkah pencegahan yang direkomendasikan oleh para ahli saraf:
-
Rutin periksa tekanan darah, kolesterol, dan gula darah.
Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi risiko lebih awal sebelum menimbulkan gejala serius. -
Atur pola makan seimbang dan perbanyak aktivitas fisik.
Hindari konsumsi garam berlebih, makanan tinggi lemak jenuh, serta perbanyak buah dan sayur. -
Kendalikan stres dan tidur cukup.
Kurang tidur atau stres kronis dapat memicu lonjakan tekanan darah dan memperburuk kondisi jantung. -
Konsultasi medis rutin, terutama bagi lansia.
Lansia aktif seperti Kak Seto tetap perlu pengawasan dokter, terlebih jika ada riwayat aritmia atau hipertensi.
Peringatan Penting bagi Masyarakat Aktif
Kasus yang dialami Kak Seto menjadi pengingat bahwa stroke bukan hanya menyerang orang yang tidak aktif. Bahkan mereka yang tampak bugar tetap memiliki risiko jika faktor-faktor medisnya tidak terpantau.
Oleh karena itu, penting untuk memadukan gaya hidup sehat, pemeriksaan medis rutin, serta pengobatan tepat, agar risiko stroke dapat ditekan semaksimal mungkin.
SupersemarNewsTeam
Reporter: R/Rifay Marzuki
