JAKARTA, Supersemar News – Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A rute Bundaran HI–Kota tidak hanya menghadirkan infrastruktur transportasi baru, tetapi juga membuka kembali jejak kehidupan masyarakat Jakarta tempo dulu.
Selama proses penelitian dan ekskavasi yang berlangsung sejak 2021, tim arkeologi menemukan lebih dari 4.000 artefak dan benda bersejarah di sepanjang kawasan pembangunan.
Tim Ahli Arkeologi proyek MRT Jakarta Fase 2A sekaligus Anggota Tenaga Ahli Cagar Budaya Nasional, Junus Satria Atmodjo, mengatakan penelitian dilakukan secara bertahap sejak 2021, sementara ekskavasi secara efektif berlangsung mulai 2022 hingga saat ini.
Menurut Junus, proses pembangunan terowongan MRT yang menembus lapisan tanah secara vertikal membuat tim arkeologi harus memperhatikan lapisan budaya yang berada di bawah permukaan jalan. Lapisan tersebut umumnya ditemukan hingga sekitar tiga meter dari permukaan.
“Dari data Belanda sendiri, abad ke-17 mereka sudah membuat jalan lurus mulai dari laut sampai ke selatan, sampai Harmoni. Mereka juga membuat saluran air yang namanya Molenvliet,” kata Junus saat dihubungi Wartakotalive.com, Selasa (20/10/2026).
Keberadaan jalan, saluran air, permukiman, serta aktivitas masyarakat sejak masa Batavia membuat kawasan tersebut diperkirakan memiliki banyak peninggalan arkeologis yang tertimbun dari masa ke masa.
Berdasarkan peta dan dokumentasi lama, kawasan tersebut memang pernah dilalui trem yang berhenti beroperasi pada 1960-an.
Saat ekskavasi dilakukan, rel-rel tersebut ditemukan masih terpendam di bawah jalan. Di sekitar rel, tim juga menemukan berbagai artefak, termasuk potongan pipa tembakau berbahan white clay.
Pipa tembakau tersebut diperkirakan banyak digunakan pada masa lalu dan dibuang setelah patah. Keberadaannya kemudian menjadi petunjuk bagi tim untuk menelusuri temuan lain di sekitar kawasan.
Temuan keramik menjadi salah satu kelompok artefak yang cukup dominan.
Sebagian besar ditemukan dalam kondisi pecah dan berasal dari periode sekitar abad ke-17 hingga ke-19.
Warna biru-putih menjadi salah satu ciri yang banyak ditemukan.
Menurut Junus, keramik dengan karakter tersebut terutama berkaitan dengan produksi Cina dan Jepang.
Namun, identifikasi asal keramik tidak selalu mudah karena pola dan teknik produksi kedua negara tersebut pada masa lalu kerap saling memengaruhi.
Tim harus melihat sejumlah karakteristik, mulai dari warna biru, kualitas glasir, warna putih, bahan, hingga bentuk benda untuk memperkirakan asal produksinya.
Temuan tersebut juga memperlihatkan hubungan perdagangan Batavia dengan kawasan Asia.
Pada abad ke-17, keramik merupakan komoditas bernilai dan sekaligus simbol kemewahan.
“Zaman itu keramik adalah barang unik. Wajar kalau kita temukan banyak di situ karena dia menjadi bagian dari komoditi,” kata Junus.
Ia mengibaratkan keramik pada masa itu seperti barang bermerek yang memiliki nilai berharga pada masa sekarang.
Banyaknya pecahan keramik juga tidak selalu menunjukkan bahwa benda tersebut sejak awal dikirim dalam kondisi rusak.
Menurut Junus, kawasan Pintu Besar Selatan dan Pintu Besar Utara pada masa lalu merupakan kawasan aktivitas masyarakat, termasuk permukiman dan pasar.
Barang yang pecah kemudian dibuang ke jalan maupun sungai dan akhirnya tertimbun bersama lapisan tanah lainnya.
Selain keramik, berbagai benda lain turut ditemukan, termasuk benda yang semula diperkirakan sebagai dispenser.
Benda berbentuk tabung yang dipamerkan di galeri MRT Jakarta Kota tersebut, menurut Junus, sebenarnya merupakan alat penyaring air.
Alat itu menggunakan bagian tertentu di tengahnya untuk membantu menyaring air sehingga menghasilkan air yang lebih bersih.
Temuan botol juga memberikan gambaran mengenai kondisi kehidupan masyarakat Jakarta pada masa lalu. Beberapa botol digunakan untuk menyimpan jenever, minuman beralkohol yang populer pada masa tersebut.
Sumber : Tribunnews













Komentar