Lebih dari 4.000 Artefak Ditemukan, Proyek MRT Jakarta Fase 2A Menguak Sejarah Ibu Kota Era Batavia

- Jurnalis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:50 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

JAKARTA, Supersemar News – Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A rute Bundaran HI–Kota tidak hanya menghadirkan infrastruktur transportasi baru, tetapi juga membuka kembali jejak kehidupan masyarakat Jakarta tempo dulu.

Selama proses penelitian dan ekskavasi yang berlangsung sejak 2021, tim arkeologi menemukan lebih dari 4.000 artefak dan benda bersejarah di sepanjang kawasan pembangunan.

Tim Ahli Arkeologi proyek MRT Jakarta Fase 2A sekaligus Anggota Tenaga Ahli Cagar Budaya Nasional, Junus Satria Atmodjo, mengatakan penelitian dilakukan secara bertahap sejak 2021, sementara ekskavasi secara efektif berlangsung mulai 2022 hingga saat ini.

Menurut Junus, proses pembangunan terowongan MRT yang menembus lapisan tanah secara vertikal membuat tim arkeologi harus memperhatikan lapisan budaya yang berada di bawah permukaan jalan. Lapisan tersebut umumnya ditemukan hingga sekitar tiga meter dari permukaan.

“Dari data Belanda sendiri, abad ke-17 mereka sudah membuat jalan lurus mulai dari laut sampai ke selatan, sampai Harmoni. Mereka juga membuat saluran air yang namanya Molenvliet,” kata Junus saat dihubungi Wartakotalive.com, Selasa (20/10/2026).

Keberadaan jalan, saluran air, permukiman, serta aktivitas masyarakat sejak masa Batavia membuat kawasan tersebut diperkirakan memiliki banyak peninggalan arkeologis yang tertimbun dari masa ke masa.

Baca Juga :  Lahan Bekas Terbakar, Polda Kalteng Tanam 500 Bibit Pohon Belangiran

Berdasarkan peta dan dokumentasi lama, kawasan tersebut memang pernah dilalui trem yang berhenti beroperasi pada 1960-an.

Saat ekskavasi dilakukan, rel-rel tersebut ditemukan masih terpendam di bawah jalan. Di sekitar rel, tim juga menemukan berbagai artefak, termasuk potongan pipa tembakau berbahan white clay.

Pipa tembakau tersebut diperkirakan banyak digunakan pada masa lalu dan dibuang setelah patah. Keberadaannya kemudian menjadi petunjuk bagi tim untuk menelusuri temuan lain di sekitar kawasan.

Temuan keramik menjadi salah satu kelompok artefak yang cukup dominan.

Sebagian besar ditemukan dalam kondisi pecah dan berasal dari periode sekitar abad ke-17 hingga ke-19.

Warna biru-putih menjadi salah satu ciri yang banyak ditemukan.

Menurut Junus, keramik dengan karakter tersebut terutama berkaitan dengan produksi Cina dan Jepang.

Namun, identifikasi asal keramik tidak selalu mudah karena pola dan teknik produksi kedua negara tersebut pada masa lalu kerap saling memengaruhi.

Tim harus melihat sejumlah karakteristik, mulai dari warna biru, kualitas glasir, warna putih, bahan, hingga bentuk benda untuk memperkirakan asal produksinya.

Temuan tersebut juga memperlihatkan hubungan perdagangan Batavia dengan kawasan Asia.

Pada abad ke-17, keramik merupakan komoditas bernilai dan sekaligus simbol kemewahan.

Baca Juga :  Jenderal Agus Subiyanto Pimpin Sertijab Wapang dan KSAD di Cilangkap

“Zaman itu keramik adalah barang unik. Wajar kalau kita temukan banyak di situ karena dia menjadi bagian dari komoditi,” kata Junus.

Ia mengibaratkan keramik pada masa itu seperti barang bermerek yang memiliki nilai berharga pada masa sekarang.

Banyaknya pecahan keramik juga tidak selalu menunjukkan bahwa benda tersebut sejak awal dikirim dalam kondisi rusak.

Menurut Junus, kawasan Pintu Besar Selatan dan Pintu Besar Utara pada masa lalu merupakan kawasan aktivitas masyarakat, termasuk permukiman dan pasar.

Barang yang pecah kemudian dibuang ke jalan maupun sungai dan akhirnya tertimbun bersama lapisan tanah lainnya.

Selain keramik, berbagai benda lain turut ditemukan, termasuk benda yang semula diperkirakan sebagai dispenser.

Benda berbentuk tabung yang dipamerkan di galeri MRT Jakarta Kota tersebut, menurut Junus, sebenarnya merupakan alat penyaring air.

Alat itu menggunakan bagian tertentu di tengahnya untuk membantu menyaring air sehingga menghasilkan air yang lebih bersih.

Temuan botol juga memberikan gambaran mengenai kondisi kehidupan masyarakat Jakarta pada masa lalu. Beberapa botol digunakan untuk menyimpan jenever, minuman beralkohol yang populer pada masa tersebut.

Sumber : Tribunnews

Follow WhatsApp Channel supersemarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polda Metro Jaya Tanam 15 Pohon, Perkuat Program Green Policing
Polda Metro Jaya Ungkap Lima Perkara SDA dan Barang Bersubsidi, 12 Tersangka Diproses
Lahan Bekas Terbakar, Polda Kalteng Tanam 500 Bibit Pohon Belangiran
Transformasi Peran Polisi, Kombes Andiyatna Dukung Gerakan Green Policing Polri
Polisi Berhasil Tangkap Bandar Sabu di Ketapang Sampit, BB Ratusan Gram Diamankan
Labui Polisi Duduk di Semak Warung, Diduga Pengedar Sabu di Sampit Akhirnya Diamankan
Pria Sembunyikan Diduga Sabu Dibalut dengan Tisu Akhirnya Dibekuk Satresnarkoba Kotim
Kapolda Jatim Pantau Langsung Pengaturan Lalu Lintas di Sejumlah Titik Strategis Surabaya
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 00:37 WIB

Polda Metro Jaya Tanam 15 Pohon, Perkuat Program Green Policing

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 00:04 WIB

Polda Metro Jaya Ungkap Lima Perkara SDA dan Barang Bersubsidi, 12 Tersangka Diproses

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:37 WIB

Lahan Bekas Terbakar, Polda Kalteng Tanam 500 Bibit Pohon Belangiran

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Transformasi Peran Polisi, Kombes Andiyatna Dukung Gerakan Green Policing Polri

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Polisi Berhasil Tangkap Bandar Sabu di Ketapang Sampit, BB Ratusan Gram Diamankan

Berita Terbaru

Berita utama

Polda Metro Jaya Tanam 15 Pohon, Perkuat Program Green Policing

Sabtu, 24 Okt 2026 - 00:37 WIB