K.H. A. Shohib Khaironi, yang didampingi para ustadz tampak menegaskan komitmen Darul Muttaqien dalam memperkuat pendidikan modern yang berakar pada nilai kepesantrenan. Kehadiran para pendidik di barisan belakang mencerminkan soliditas dan keseriusan pesantren dalam mengembangkan metode Mustaqilli sebagai fondasi pembelajaran santri yang lebih cepat, mandiri, dan berwawasan kebangsaan.

SUPERSEMAR NEWS – BOGOR – Pondok Pesantren Darul Muttaqien, Bogor, kembali menegaskan komitmennya sebagai salah satu pesantren paling progresif di Indonesia melalui kolaborasi strategis dengan Metode Mustaqilli. Kerja sama selama lebih dari tiga tahun ini bukan hanya menghasilkan percepatan penguasaan bahasa Arab ribuan santri, tetapi juga mendorong transformasi mindset, karakter, dan wawasan kebangsaan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Dalam wawancara eksklusif bersama Rifay Marzuki, Supersemar News, dua tokoh kunci Darul Muttaqien—K.H. Mad Rodja Sukarta, Pengasuh Pesantren, dan K.H. A. Shohib Khaironi, Penemu Metode Mustaqilli—mengungkap secara mendalam bagaimana sinergi ini memunculkan model pendidikan yang inovatif, efisien, dan adaptif terhadap tantangan global.

Mindset Lama Jadi Tantangan Utama Pendidikan Pesantren

K.H. Mad Rodja Sukarta menegaskan bahwa tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan semata pada penguasaan materi, namun justru terletak pada mindset generasi tua—baik orang tua maupun para pendidik.

“Permasalahannya hari ini adalah mindset kita sebagai orang tua dan guru. Ini tantangan bagaimana mereka—para santri—agar cepat, akseleratif, dan terlahir sebagai manusia-manusia mandiri, toleran, dan berwawasan kebangsaan,” ujarnya.

Dalam suasana acara pesantren yang hangat dan penuh keceriaan, K.H. Mad Radjo Sukarto dan Para Ustadz tampak memberikan keterangan kepada Supersemar News. Kehadiran mereka di tengah para santri menjadi simbol komitmen pesantren untuk terus memperkuat pendidikan modern berbasis nilai-nilai tradisi, sekaligus melanjutkan kolaborasi strategis dengan Metode Mustaqilli demi melahirkan generasi mandiri, toleran, dan berwawasan kebangsaan.

Menurutnya, era perkembangan global menuntut perubahan cara pandang. Orang tua dan pendidik tidak boleh lagi terjebak pada metode lama yang tidak sesuai dengan pola percepatan belajar generasi saat ini.

Transformasi mindset harus menjadi fondasi agar sistem pendidikan pesantren mampu melahirkan santri yang berdaya saing tinggi, berpikir modern, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai keislaman.

Mustaqilli Percepat Penguasaan Bahasa Arab Santri

Sementara itu, K.H. A. Shohib Khaironi menjelaskan bagaimana Mustaqilli menjadi metode modern yang sangat adaptif terhadap cara belajar santri.

Pada level 4, target hafalan mencapai 4.500 vocabulary, dan sekitar 75 persen santri mampu menuntaskannya.

Metode ini memadukan:

  • hafalan kosakata tematik,
  • nyanyian gramatikal (nahwu–ṣarf),
  • pengulangan harian,
  • pembiasaan menerjemah Al-Qur’an setiap hari,
  • latihan speaking, writing, reading, dan translating,
  • pembelajaran mandiri berbasis kamus.

“Vocabulary-nya sering diulang dengan nyanyian. Nahwu–ṣarf-nya didesain dengan lagu. Ini membuat anak-anak enjoy walaupun belajar dari pagi sampai sore,” jelasnya.

Lebih dari sekadar metode cepat hafal, Mustaqilli juga menumbuhkan kemandirian belajar, kemampuan berpikir kritis, serta kepercayaan diri dalam berbahasa Arab.

Di depan backdrop bertuliskan ‘Berjiwa Mandiri’, Ustadz Suryandi, Ustadz Fatir dan Team Supersemar News, tampak berdiri bersama sebagai simbol tekad pesantren untuk membangun kemandirian santri. Momen ini menegaskan kembali pesan Kiai Rodja bahwa pesantren harus mandiri dan siap beradaptasi dengan percepatan zaman melalui kolaborasi inovatif seperti Metode Mustaqilli.

Santri Setara S1: Klaim yang Dibuktikan Prestasi

Ketika menanggapi kemampuan santri level 4 yang disebut setara mahasiswa, K.H. Shohib memberi pernyataan berani:

“Bukan semester awal. Kita berani bilang kelas 3 sanawiah Darul Muttaqien yang menyelesaikan level 4 itu lebih unggul dari mahasiswa S1.”

Ia menegaskan bahwa ukuran kemampuan itu berdasarkan:

  • penguasaan gramatikal yang kuat,
  • kemandirian berbicara bahasa Arab,
  • kemampuan menerjemah Al-Qur’an secara mandiri,
  • pemahaman maklumat umum,
  • kecakapan membaca teks akademik dasar.

Prestasi ini bukan klaim tanpa bukti. Dalam dua tahun terakhir:

  • 20 santri Darul Muttaqien berhasil melanjutkan studi ke luar negeri,
  • khususnya ke Mesir dan Timur Tengah,
  • 16 di antaranya diterima pada tahun ini saja.

Ini menjadi bukti konkret bahwa kolaborasi Mustaqilli dan Darul Muttaqien mampu mencetak santri dengan kompetensi internasional.

Transformasi Nyata Setelah Tiga Tahun Kolaborasi

Menurut K.H. Rodja, perubahan paling signifikan dari kolaborasi ini tampak pada cara berpikir santri.

“Mereka lebih modern, punya visi ke depan, dan memahami bahwa Indonesia harus menjadi pelopor di tingkat dunia.”

Selain itu, Mustaqilli mendorong santri untuk:

  • berpikir sistematis,
  • memecahkan masalah secara mandiri,
  • meningkatkan kemampuan komunikasi,
  • membangun kepercayaan diri yang kuat.

Perubahan tersebut menjadi bukti bahwa metode modern dapat sepenuhnya kompatibel dengan tradisi pesantren, bahkan memperkuatnya.

Indonesia sebagai Bangsa Kolaboratif dan Pelopor Global

Dalam pandangan K.H. Rodja, pesantren harus mendorong lahirnya santri yang mampu berkolaborasi lintas bangsa.

“Indonesia adalah bangsa kolaboratif. Kita memerlukan kerja sama dengan bangsa-bangsa lain untuk meningkatkan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan.”

Ia menekankan bahwa pesantren bukan menara gading yang tertutup, tetapi pusat pendidikan alternatif yang mengajarkan nilai kebangsaan sekaligus keterbukaan global.

Mustaqilli, Mitra Strategis Pendidikan Masa Depan

Di tengah derasnya perubahan zaman, K.H. Rodja menilai Mustaqilli sebagai salah satu mitra strategi pendidikan terbaik.

“Keren program Mustaqilli. Terima kasih kepada para ustadz profesional. Mudah-mudahan ke depan kami terus menggandeng Mustaqilli sebagai mitra alternatif.”

Menurutnya, Mustaqilli bukan hanya mempercepat proses belajar, tetapi juga menanamkan:

  • kemampuan adaptif,
  • berpikir kritis,
  • kreativitas,
  • serta soft skill yang esensial bagi generasi modern.

Puncak Kegiatan: Penghargaan Santriwati Terbaik

Dalam acara penutupan RBK Mustaqilli di Darul Muttaqien, momentum paling ditunggu adalah pengumuman para santriwati terbaik.

Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas:

  • ketekunan,
  • kedisiplinan,
  • prestasi akademik,
  • serta kemampuan berbahasa Arab yang melampaui target level.

Penghargaan tersebut juga menjadi simbol keberhasilan program, sekaligus motivasi bagi santri lain untuk terus berkembang.***(SB)

SupersemarNewsTeam
Reporter : R/ Rifay Marzuki