
Perempuan Sunda berhati welas asih ini menerima penghargaan Bale Atikan atas dedikasinya melestarikan budaya dan pendidikan Sunda, meneruskan perjuangan Aki Ema Bratakusuma.
SUPERSEMAR NEWS – Raden Ema Bratakusuma merupakan salah satu tokoh penting dari Jawa Barat, yang memiliki dedikasi tinggi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, khususnya untuk rakyat dan budaya Sunda.
Tokoh Pejuang Sunda yang Cinta Tanah Air
Raden Ema Bratakusuma aktif dalam perjuangan merebut kemerdekaan (1920–1945), mempertahankan kemerdekaan (1945–1948), dan membangun Kota Bandung (1948–1950). Bahkan setelah itu, ia terus membereskan persoalan sosial sambil melestarikan budaya Sunda hingga tahun 1984.
Pada 30 Juli 2025, keluarga besar Aki Ema Bratakusuma melakukan ziarah ke makam beliau di Desa Baregbeg, Ciamis, tempat kelahiran tokoh tersebut. Meskipun makamnya sederhana tanpa gapura besar, jasa dan perjuangan Aki Ema sangatlah luar biasa.
Perjalanan Pendidikan dan Kecintaan pada Ilmu
Sejak usia dini, Ema Bratakusuma menunjukkan kecerdasan luar biasa. Ia menempuh pendidikan di Tweede Klasse Inlandsche School, kemudian di Hollandsch-Inlandsche School, dan melanjutkan ke Kweekschool (Sekolah Raja) di Bandung.
Ia sempat merantau ke Batavia dan bekerja sebagai pelaut, lalu kembali ke Bandung dan bekerja di perusahaan kereta api negara (Staatsspoorwegen), kini PT. KAI.
Pelestari Pencak Silat dan Budaya Sunda
Sejak usia sembilan tahun, Aki Ema belajar pencak silat dari kakek dan ayahnya. Ia berguru ke berbagai daerah, termasuk Cimande dan Betawi, hingga menguasai berbagai aliran silat. Tahun 1933, ia berhasil menyatukan berbagai perguruan dalam wadah SEKAR PAKUAN.
“Pencak silat bukan sekadar bela diri, tapi juga jati diri orang Sunda,” ungkapnya dalam banyak kesempatan.
Kiprah di Dunia Pers dan Politik
Di bidang pers, Aki Ema menerbitkan media berbahasa Sunda seperti:
- Pajajaran (1918–1920)
- Siliwangi (1921–1926)
- Kujang (1956)
Dalam ranah politik, ia aktif di Indische Partij bersama Dr. Setiabudi. Ia juga menentang komunisme serta menolak tawaran posisi dalam pemerintahan kolonial Belanda dan Negara Pasundan.
Pemimpin Rakyat dalam Bandung Lautan Api
Selama Bandung Lautan Api, Aki Ema memimpin Laskar Rakyat Priangan dan menolak bergabung dengan TNI demi tetap dekat dengan rakyat. Ia turut mendirikan Barisan Pelopor Pemuda, yang berperan dalam menjaga stabilitas menjelang dan pasca-Proklamasi.
Tokoh Pendidikan dan Sosial Bandung
Di bidang sosial dan pendidikan, Aki Ema Bratakusuma:
- Mendirikan Yayasan Atikan Sunda (mengelola sekolah SD-SLTA)
- Membangun Yayasan Kudung Puntang (asrama veteran dan keluarganya)
- Menyediakan asrama pelajar di Andir dan rumah-rumah petak untuk warga pengungsi dari gangguan DI/TII
Pionir Kebun Binatang Bandung
Salah satu warisan monumental Aki Ema dan Ir. R. Ukar Bratakusuma adalah Kebun Binatang Bandung, dahulu bernama Bandoengsch Zoologisch Park (BZP), yang resmi dibuka 20 Mei 1933. Kini dikenal sebagai Bandung Zoo, lokasi ini menjadi simbol kontribusi tokoh Sunda dalam konservasi alam dan pendidikan.
Warisan Welas Asih untuk Generasi Muda
Aki Ema Bratakusuma adalah contoh nyata pejuang yang ikhlas berjuang tanpa pamrih. Ia menyalurkan seluruh hartanya demi kepentingan rakyat dan kebudayaan Sunda. Sifat welas asih, keteguhan, dan cintanya terhadap tanah air patut menjadi teladan generasi masa kini.
“Generasi muda harus menjaga dan merawat warisan leluhur. Jangan merusak hasil perjuangan tokoh-tokoh terdahulu,” tegas keluarga dalam ziarah.
Bandung yang kita nikmati hari ini berdiri atas dasar keringat dan pengorbanan tokoh seperti Aki Ema Bratakusuma. Mari kita jaga, rawat, dan lestarikan nilai-nilai budaya dan sejarah agar tak hilang ditelan zaman.
SupersemarNewsTeam
Reporter: R/Rifay Marzuki
SanggaBuana
