Anton Charliyan sebagai penggagas Ngadeg Na Galuh dan World Peace Gong di Ciamis, simbol kebangkitan budaya Galuh dan perdamaian dunia.

SUPERSEMAR NEWS —
Di tengah geliat pelestarian budaya Nusantara, satu peristiwa monumental terus bergema dari tanah Tatar Galuh, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Peristiwa itu dikenal dengan nama Ngadeg Na Galuh, sebuah momentum budaya, spiritual, dan historis yang bukan sekadar seremoni, melainkan simbol kebangkitan nilai-nilai perdamaian warisan leluhur Sunda.

Peristiwa ini tidak bisa dilepaskan dari keberadaan World Peace Gong (Gong Perdamaian Dunia) yang berdiri megah di kawasan Situs Karangkamulyan, sebuah situs bersejarah yang diyakini sebagai pusat peradaban Kerajaan Galuh di masa lampau.

Narasi tentang Ngadeg Na Galuh sejatinya adalah narasi tentang identitas, sejarah panjang peradaban, serta ikhtiar kolektif masyarakat untuk menghidupkan kembali semangat perdamaian yang telah diwariskan sejak berabad-abad lalu.

Jejak Sejarah: Dari Kerajaan Galuh ke Simbol Perdamaian Dunia

Sejarah Ngadeg Na Galuh tidak berdiri sendiri. Ia berakar kuat pada peradaban Kerajaan Galuh, sebuah kerajaan kuno di Tatar Sunda yang dikenal memiliki filosofi kehidupan damai.

Dalam berbagai catatan budaya, Galuh bukan sekadar entitas politik, melainkan pusat nilai yang menjunjung tinggi prinsip:

  • Silih asah (saling mencerdaskan)
  • Silih asih (saling mengasihi)
  • Silih asuh (saling membimbing)

Nilai-nilai ini menjadi dasar kuat mengapa kawasan Karangkamulyan dipilih sebagai lokasi berdirinya Gong Perdamaian Dunia. Bahkan, menurut berbagai literasi budaya, Galuh telah mengenal konsep perdamaian jauh sebelum konflik-konflik besar melanda dunia modern.

Momentum modern dari semangat tersebut mulai menemukan bentuk nyata ketika Gong Perdamaian Dunia dideklarasikan pada 9 September 2009, tepat pukul 09.09 WIB di Situs Karangkamulyan.

Tanggal dan waktu ini bukan kebetulan, melainkan simbol harmoni numerik yang mencerminkan keselarasan dan keseimbangan.

Penggagas: Sosok di Balik World Peace Gong

Di balik berdirinya Gong Perdamaian Dunia, terdapat sosok penting yang menjadi motor penggerak, yakni:

  • Irjen Pol (Purn) Dr. H. Anton Charliyan, M.P.K.N.
  • Bersama rekannya H. Yoyo Tjuhaya

Keduanya menggagas pembangunan Gong Perdamaian sebagai simbol universal yang mampu menyatukan berbagai bangsa, agama, dan budaya dalam satu pesan: perdamaian.

Anton Charliyan dikenal sebagai tokoh budaya Sunda yang memiliki perhatian besar terhadap sejarah Galuh. Ia meyakini bahwa nilai perdamaian bukanlah konsep baru bagi masyarakat Sunda, melainkan warisan leluhur yang harus diangkat kembali ke panggung dunia.

Gong yang dibangun bukan sekadar artefak, tetapi memiliki makna filosofis mendalam. Gong ini dibuat dari leburan ratusan bilah keris dan dihiasi simbol agama serta bendera negara-negara dunia, menjadikannya representasi nyata dari persatuan global.

Ngadeg Na Galuh: Makna dan Momentum

Secara harfiah, “Ngadeg Na Galuh” berarti “berdirinya kembali Galuh”. Namun dalam konteks modern, istilah ini memiliki makna lebih luas:

  • Kebangkitan identitas budaya
  • Revitalisasi nilai leluhur
  • Penegasan Galuh sebagai pusat peradaban damai

Kegiatan Ngadeg Na Galuh biasanya dikemas dalam bentuk perayaan budaya yang terintegrasi dengan peringatan hari jadi Gong Perdamaian Dunia, sering disebut juga sebagai Pesona Galuh Nagari.

Acara ini menjadi ruang pertemuan antara sejarah, budaya, spiritualitas, dan diplomasi budaya.

Kegiatan Perdana: Awal Gelaran Bersejarah

Kegiatan pertama yang menjadi tonggak utama adalah deklarasi Gong Perdamaian Dunia pada:

9 September 2009
Situs Karangkamulyan, Ciamis

Deklarasi ini menjadi awal dari rangkaian kegiatan tahunan yang terus berkembang hingga kini.

Sejak saat itu, setiap tahun digelar peringatan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari:

  • Tokoh adat
  • Budayawan
  • Seniman
  • Pemerintah daerah
  • Perwakilan lintas daerah bahkan lintas budaya

Siapa Saja yang Terlibat dan Hadir

Seiring waktu, kegiatan Ngadeg Na Galuh dan peringatan Gong Perdamaian Dunia dihadiri oleh berbagai tokoh penting, di antaranya:

  • Penggagas: Anton Charliyan
  • Kepala daerah seperti Bupati Ciamis
  • Unsur Forkopimda
  • Tokoh adat dan budaya Nusantara
  • Perwakilan masyarakat dari berbagai daerah termasuk Papua
  • Seniman dan budayawan lintas daerah

Dalam beberapa peringatan, ribuan masyarakat turut hadir memeriahkan acara, menjadikannya salah satu event budaya terbesar di kawasan Priangan Timur.

Bahkan kehadiran perwakilan dari berbagai daerah menunjukkan bahwa acara ini telah menjadi simbol persatuan lintas budaya.

Ritual dan Prosesi: Spirit yang Terjaga

Ngadeg Na Galuh tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sarat ritual budaya, di antaranya:

  • Ngawasuh Gong (pencucian gong)
  • Penyiraman simbolis
  • Pemukulan gong perdamaian
  • Pagelaran seni budaya

Ritual ini dimaknai sebagai bentuk penyucian, pengingat, sekaligus penguatan komitmen terhadap nilai-nilai perdamaian.

Dimensi Global: Dari Lokal ke Dunia

Gong Perdamaian Dunia di Ciamis memiliki keunikan tersendiri:

  • Diameter mencapai sekitar 3,3 meter
  • Dihiasi ratusan bendera negara
  • Memuat simbol agama dunia

Hal ini menjadikannya bukan hanya simbol lokal, tetapi juga representasi global tentang perdamaian.

Bahkan disebut sebagai salah satu gong perdamaian terbesar di dunia.

Ngadeg Na Galuh dalam Perspektif Modern

Hari ini, Ngadeg Na Galuh bukan sekadar peringatan sejarah. Ia telah berkembang menjadi:

  • Event budaya nasional
  • Destinasi wisata budaya
  • Diplomasi budaya berbasis kearifan lokal

Pemerintah daerah bahkan menjadikannya bagian dari kalender pariwisata untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pesan Besar: Warisan Perdamaian untuk Dunia

Di tengah dunia yang kerap dilanda konflik, Ngadeg Na Galuh menghadirkan pesan yang sangat relevan:

Bahwa perdamaian bukan sekadar wacana, melainkan nilai yang telah hidup dalam peradaban Nusantara sejak ratusan tahun lalu.

Galuh mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada peperangan, melainkan pada kemampuan menjaga harmoni.

Penutup Redaksi

Ngadeg Na Galuh adalah bukti bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan kembali.

Dari tanah Galuh, pesan perdamaian itu terus ditabuh—menggema dari sebuah gong raksasa, menembus batas geografis, budaya, dan peradaban.

Dan selama nilai itu terus dijaga, Galuh tidak pernah benar-benar runtuh. Ia hanya menunggu untuk kembali berdiri.***(SB)

SupersemarNewsTeam