Sukabumi, Jabar – Supersemarnews 

Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum (Sekdis PU), Agus Hermawan, menegaskan bahwa partisipasi  masyarakat dalam merawat infrastruktur drainase merupakan instrumen krusial bagi keberlanjutan fungsi jalan. Hal ini disampaikan sebagai manifestasi upaya kolektif dalam memitigasi degradasi struktur jalan akibat akumulasi genangan air yang tidak terkelola dengan baik.

Dalam sesi audiensi di ruang kerjanya (11/05/2026), Sekdis PU memaparkan bahwa stabilitas mekanis sebuah jalan memiliki korelasi linear dengan fungsionalitas sistem drainase. Secara teknis, aspal memiliki kerentanan tinggi terhadap paparan air statis (genangan). Ketidaklancaran aliran air pada drainase yang tersumbat dapat mengakibatkan pelapukan dini pada lapisan agregat, yang menjadi katalisator munculnya deformasi struktur dan lubang di permukaan jalan.

“Infrastruktur jalan yang mantap merupakan aset publik yang strategis. Namun, kita harus menyadari bahwa air yang menggenang adalah faktor destruktif utama bagi integritas aspal. Oleh karena itu, pemeliharaan saluran air bukanlah sekadar kewajiban teknokratis pemerintah, melainkan sebuah manifestasi budaya gotong royong yang harus diinternalisasi demi menjamin kenyamanan mobilitas masyarakat,” ujar Agus Hermawan.

Meskipun Dinas PU secara konsisten melakukan program pemeliharaan rutin (routine maintenance), tantangan faktual di lapangan seperti polusi sampah domestik dan laju sedimentasi yang tinggi di wilayah pemukiman menuntut adanya kepedulian proaktif dari warga.

Sebagai langkah preventif, masyarakat dihimbau untuk menghindari pembuangan sampah jenis apa pun ke dalam sistem drainase guna menjamin saluran tetap optimal.

” Segera melakukan koordinasi atau pelaporan kepada instansi terkait apabila mengidentifikasi adanya obstruksi atau kerusakan drainase yang berpotensi memicu kerusakan pada badan jalan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sekdis PU memaparkan aspek makro ekonomi dari pemeliharaan ini. Dengan terjaganya kualitas jalan, efisiensi alokasi anggaran daerah dapat tercapai secara maksimal. Anggaran yang semula diposkan untuk rehabilitasi kerusakan akibat luapan air (reaktif) dapat dialokasikan kembali untuk ekspansi pembangunan infrastruktur baru yang lebih produktif (proaktif).

“Kontribusi mikro dari setiap warga, seperti memastikan kelancaran aliran air di lingkungan sekitar, memberikan dampak makro bagi ketahanan infrastruktur jangka panjang. Mari kita transformasikan kepedulian ini menjadi investasi sosial demi keselamatan dan kenyamanan berkendara di seluruh wilayah Kab. Sukabumi,” pungkasnya.

Dinas Pekerjaan Umum terus berkomitmen untuk mengaktualisasikan infrastruktur yang andal, aman, dan berkelanjutan melalui integrasi perencanaan, konstruksi, dan pemeliharaan yang komprehensif.