David Darmawan Soroti Isu Maduro: Belajar Sejarah, Tolak Perang

- Jurnalis

Kamis, 8 Januari 2026 - 10:29 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Dalam setiap krisis geopolitik, sejarah selalu memberi peringatan: kekuasaan yang mengabaikan dialog akan melahirkan penderitaan. Dunia harus belajar dari masa lalu, bukan mengulanginya dengan perang.
— David Darmawan, Pegiat Politik Budaya Jakarta
(Wawancara Eksklusif SUPERSEMAR NEWS, 8 Januari 2026)

Belajar dari Sejarah, Menolak Perang, Menjaga Kemanusiaan Global

JAKARTA — SUPERSEMAR NEWS
Isu global kembali memanas setelah beredarnya klaim mengenai penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat. Meski informasi tersebut masih simpang siur dan menuai bantahan dari berbagai pihak, gaungnya telah memantik diskusi luas tentang kedaulatan negara, intervensi asing, dan keadilan internasional dalam tatanan dunia kontemporer.

Di tengah derasnya arus opini dan propaganda global, SUPERSEMAR NEWS menghadirkan perspektif reflektif melalui wawancara eksklusif dengan David Darmawan, pegiat politik budaya Jakarta dan anak Betawi yang dikenal konsisten mengaitkan isu internasional dengan kesadaran sejarah, nilai kemanusiaan, serta pembelajaran peradaban dunia.

Dengan pendekatan tenang, kritis, dan bernuansa filosofis, David Darmawan menolak cara pandang hitam-putih. Ia mengajak publik global untuk membaca isu Venezuela tidak sekadar sebagai konflik politik kekinian, tetapi sebagai pengulangan pola sejarah yang telah berulang kali menelan korban rakyat sipil.

Isu Penangkapan Maduro dan Pola Lama Geopolitik Global

Isu Nicolás Maduro harus dibaca dengan kacamata sejarah geopolitik. Intervensi asing yang mengatasnamakan keadilan sering kali justru merusak kedaulatan negara dan memperpanjang penderitaan rakyat.
— David Darmawan, Pegiat Politik Budaya Jakarta
(Wawancara Eksklusif SUPERSEMAR NEWS, 8 Januari 2026)

Menurut David Darmawan, setiap klaim penangkapan atau penggulingan pemimpin negara berdaulat oleh kekuatan besar hampir selalu dikemas dengan narasi moral seperti demokrasi, hak asasi manusia, atau penegakan hukum internasional.

Baca Juga :  Dugaan Vloting Berpindah tidak pada objek dan Pembengkakan Luas di Jalan Hiu Putih Raya, BPN Kota Palangka Raya Disorot

Namun demikian, sejarah dunia — dari Panama, Irak, hingga Libya — menunjukkan bahwa narasi tersebut kerap menutupi kepentingan geopolitik, sumber daya alam, dan dominasi pengaruh global.

“Ini bukan soal membela Maduro atau menyerangnya. Ini soal prinsip dunia internasional: apakah konflik diselesaikan dengan hukum yang adil atau dengan kekuatan,” tegas David.

Ibnu Khaldun dan ‘Asabiyyah’: Negara Runtuh dari Dalam

Dalam membaca krisis Venezuela, David Darmawan mengutip pemikiran Ibnu Khaldun, sejarawan dan filsuf Islam abad ke-14 yang memperkenalkan konsep ‘asabiyyah’ atau solidaritas sosial.

Ibnu Khaldun menegaskan bahwa kehancuran sebuah negara jarang disebabkan faktor eksternal semata. Sebaliknya, rapuhnya kohesi internal, ketimpangan sosial, dan krisis legitimasi politik menjadi pintu masuk bagi intervensi luar.

Venezuela, menurut David, berada di persimpangan sejarah tersebut. Krisis ekonomi, sanksi internasional, dan polarisasi politik internal menciptakan ruang bagi kekuatan global untuk masuk dengan dalih stabilisasi.

Nelson Mandela dan Kritik Kolonialisme Gaya Baru

David Darmawan juga menyinggung pemikiran Nelson Mandela yang secara konsisten mengkritik kolonialisme modern. Mandela menegaskan bahwa penjajahan tidak selalu hadir dalam bentuk tank dan senjata, tetapi juga melalui sanksi ekonomi, pengadilan sepihak, dan narasi media global.

Ketika pemimpin negara berdaulat ditangkap atau diadili tanpa mandat lembaga internasional seperti PBB atau Mahkamah Internasional, maka dunia sedang menyaksikan erosi prinsip hukum internasional.

“Kalau ini dinormalisasi, negara-negara kecil akan selalu hidup dalam bayang-bayang ketakutan,” ujar David.

Demokrasi dan HAM: Tujuan Mulia, Cara Harus Bermartabat

Di sisi lain, David Darmawan tidak menafikan pentingnya demokrasi dan hak asasi manusia. Namun ia menegaskan bahwa tujuan luhur tidak boleh dicapai dengan perang, invasi, atau penghancuran sistem sosial.

Baca Juga :  Zelensky Bicara dengan Utusan AS di Tengah Perselisihan dengan Trump

Ia mengingatkan dunia pada tragedi Irak pasca-2003, ketika dalih senjata pemusnah massal berujung pada konflik sektarian berkepanjangan, runtuhnya tatanan sosial, dan penderitaan rakyat sipil hingga hari ini.

Jakarta, Betawi, dan Tradisi Damai Antarbangsa

Sebagai anak Betawi, David Darmawan melihat keterkaitan kuat antara nilai lokal dan isu global. Budaya Betawi, menurutnya, tumbuh dari tradisi pelabuhan — tempat pertemuan bangsa-bangsa, dialog budaya, dan perdagangan damai.

Nilai musyawarah, rembuk, dan silaturahmi menjadi warisan yang relevan untuk dunia modern yang semakin terpolarisasi.

“Jakarta kota global. Anak Jakarta nggak boleh buta sejarah dunia,” katanya.

Generasi Muda dan Literasi Geopolitik

David Darmawan menekankan pentingnya literasi sejarah dan geopolitik bagi generasi muda. Ia mengingatkan bahwa narasi media global sering kali tidak netral, sarat kepentingan, dan perlu dibaca secara kritis.

Sejalan dengan pesan Nelson Mandela bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh, David mengajak anak muda untuk membangun kesadaran global, bukan kebencian global.

Belajar dari Sejarah Agar Dunia Tak Mengulang Luka

Sebagai penegasan, David Darmawan menyimpulkan sikapnya dalam satu kalimat tegas:
belajar dari sejarah, menjaga kedaulatan, dan memilih kerja sama antarbangsa daripada perang.

Ia menilai dunia saat ini tidak kekurangan senjata, tetapi kekurangan empati, kebijaksanaan, dan keberanian moral untuk menolak kekerasan sebagai solusi.

Suara Jakarta untuk Perdamaian Dunia

Wawancara ini menegaskan posisi SUPERSEMAR NEWS sebagai media yang tidak sekadar menyampaikan peristiwa, tetapi juga menghadirkan kedalaman analisis, kesadaran sejarah, dan nilai kemanusiaan.

Isu Venezuela bukan hanya tentang Nicolás Maduro, melainkan tentang arah peradaban dunia: apakah akan terus mengulang siklus dominasi dan perang, atau berani membangun tatanan global yang adil dan beradab.

Catatan Redaksi

Tulisan ini bersifat reflektif, edukatif, dan analitis. Pandangan narasumber tidak dimaksudkan untuk membenarkan atau mengutuk individu atau negara tertentu, melainkan mendorong penyelesaian konflik secara damai dan berkeadilan.***(SB)

SupersemarNewsTeam

Follow WhatsApp Channel supersemarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

SATGAS YONIF 3 MARINIR PERSEMPIT RUANG GERAK KKB DI YAHUKIMO, PERKUAT STABILITAS KEAMANAN PAPUA PEGUNUNGAN
Polda Kalteng Salurkan Bantuan Kursi Roda untuk Warga Mandawai Usai Kecelakaan
Kapolda Kalteng Edukasi Pelajar MAN Palangka Raya, Cegah Hoaks hingga Narkoba
Bidpropam Polda Kalteng Sidak Personel, Tegakkan Aturan dan Larangan Rokok Elektrik
Lapas Sampit Gelar Sidang TPP, Usulkan Hak-hak 23 Warga Binaan dalam Reintegrasi
Apresiasi Pengabdian Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dalam Menjaga Keamanan Presiden
Perkuat Sinergi TNI-Polri, Kapolda Jatim Sambangi Danpuspenerbal
Baru Keluar Penjara, Residivis Kembali Ditangkap saat Curi Motor di Kalideres
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 13:12 WIB

SATGAS YONIF 3 MARINIR PERSEMPIT RUANG GERAK KKB DI YAHUKIMO, PERKUAT STABILITAS KEAMANAN PAPUA PEGUNUNGAN

Kamis, 5 November 2026 - 12:46 WIB

Polda Kalteng Salurkan Bantuan Kursi Roda untuk Warga Mandawai Usai Kecelakaan

Kamis, 5 November 2026 - 10:49 WIB

Kapolda Kalteng Edukasi Pelajar MAN Palangka Raya, Cegah Hoaks hingga Narkoba

Kamis, 5 November 2026 - 10:46 WIB

Bidpropam Polda Kalteng Sidak Personel, Tegakkan Aturan dan Larangan Rokok Elektrik

Kamis, 5 November 2026 - 10:35 WIB

Lapas Sampit Gelar Sidang TPP, Usulkan Hak-hak 23 Warga Binaan dalam Reintegrasi

Berita Terbaru