Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba, Bali bukan sekadar pulau, Bali adalah Sunda yang dititipkan oleh leluhur Galuh. Seluruh ajaran, kearifan, dan tata nilai Sunda diselamatkan dan dijaga di Bali melalui tradisi Bali Age. (Tangkapan layar Youtube @angelick.vaulina)

Jejak Sejarah, Data Budaya, dan Kesaksian Spiritual Tokoh Nusantara

SUPERSEMAR NEWS – Hubungan antara Sunda Galuh dan Bali bukan sekadar narasi budaya, melainkan fakta sejarah yang terus menemukan penguatnya. Melalui kajian budaya, kesaksian spiritual, hingga penemuan artefak, sejumlah tokoh adat dan agama menegaskan satu pernyataan penting: Bali adalah Sunda yang dititipkan oleh para leluhur Nusantara.

Pernyataan tersebut disampaikan secara terbuka oleh Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba, Sekretaris Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, dalam sebuah diskusi budaya yang disiarkan melalui kanal YouTube @angelick.vaulina dan didukung oleh budayawan Sunda Irjen. Pol. (Purn) Dr. Anton Charliyan.

Lebih jauh, penegasan ini bukan klaim sepihak. Sebaliknya, ia berdiri di atas data sejarah, struktur adat, ajaran spiritual, serta kesamaan sistem nilai yang masih hidup di Bali hingga hari ini.

Pengakuan Terbuka: Bali Mengakui Akar Sunda

Menurut Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba, pengakuan keterkaitan Bali dan Sunda justru datang dari pihak Bali sendiri.

Ini bukan pengakuan sepihak dari Sunda. Orang Bali sendiri yang menyatakan bahwa akar budaya mereka berasal dari Sunda,” tegasnya.

Pernyataan ini diperkuat oleh struktur adat Bali Age, masyarakat Bali asli yang masih mempertahankan sistem adat kuno. Dalam sistem ini, dikenal jabatan Jaro, Kubayan, dan pemimpin adat yang identik dengan struktur adat Sunda seperti Kabayan.

Tritangtu Dibwana dan Jejaknya di Bali

Salah satu bukti paling kuat adalah kesamaan filosofi kosmologi. Di Tatar Sunda dikenal konsep Tritangtu Dibwana, yang menata hubungan antara alam, manusia, dan Tuhan.

Sementara itu, di Bali dikenal konsep Tri Hita Karana, yang memiliki struktur dan makna nyaris identik.

Menurut para pemerhati budaya, kesamaan ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Ia merupakan hasil transfer ajaran leluhur yang disengaja. https://id.wikipedia.org/wiki/Tri_Hita_Karana

Migrasi Leluhur Sunda ke Bali

Sejarah mencatat bahwa setelah masuknya pengaruh Islam ke Jawa Timur, sebagian kelompok Hindu Nusantara terdesak dan memilih berpindah wilayah. Salah satu tujuan utama perpindahan tersebut adalah Pulau Bali.

Di Bali, mereka menemukan ruang aman untuk menjaga ajaran leluhur tanpa gangguan. Dari sinilah berkembang sistem keagamaan dan budaya yang kini dikenal sebagai Hindu Bali.

Namun, menurut Ida Pandita, istilah “Hindu Bali” sejatinya merupakan lanjutan ajaran Sunda Galuh yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan sosial Bali.

Wangsit Prabu Siliwangi: Ajaran Dititipkan di Negeri Suci

Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba mengungkapkan sebuah riwayat spiritual yang dikenal sebagai Wangsit Siliwangi.

Sim kuring teh dititipkan sakabeh ajaran sim kuring di negeri anu dikurilingan ku cai, ngan jalma suci anu bisa ka dinya.

Ungkapan tersebut diyakini merujuk pada Pulau Bali, negeri yang dikelilingi laut dan menjadi tempat penitipan ajaran Sunda.

Yang menarik, Ida Pandita menegaskan bahwa pernyataan ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga didukung oleh temuan artefak di sepanjang jalur Bali–Jawa Barat.

Tangkapan layar Youtube @angelick.vaulina

Artefak, Resi, dan Jejak Sejarah

Dalam penelusuran budaya yang dilakukannya, Ida Pandita mengaku menemukan jejak tokoh-tokoh suci seperti:

  • Resi Markandeya
  • Sang Hyang Dwijendra
  • Dang Hyang Nirartha

Tokoh-tokoh tersebut dikenal dalam sejarah Bali, namun memiliki keterkaitan kuat dengan tradisi spiritual Nusantara yang lebih luas, termasuk Sunda. https://id.wikipedia.org/wiki/Resi_Markandeya

Ratu Galuh dan Pemujaan Ibu

Di Bali Aga, dikenal pemujaan terhadap Ratu Galuh dan Sang Hyang Danu, yang merepresentasikan prinsip keibuan dan kesuburan.

Konsep ini sejalan dengan budaya Sunda yang menempatkan Ibu sebagai pusat kehidupan dan spiritualitas.

Kesamaan ini semakin menguatkan bahwa Bali bukan budaya terpisah, melainkan kelanjutan dari peradaban Sunda Galuh.

Kesaksian Budayawan Sunda

Irjen. Pol. (Purn) Dr. Anton Charliyan, Hubungan Sunda Galuh dan Bali bukan mitos. Ini fakta sejarah Nusantara. Bali adalah benteng terakhir tempat ajaran leluhur Sunda dititipkan dan dijaga hingga hari ini.

Irjen. Pol. (Purn) Dr. Anton Charliyan menegaskan bahwa hubungan Sunda–Bali telah lama menjadi bahan kajian para budayawan.

Jika kita meneliti secara jujur, Bali adalah benteng terakhir ajaran Nusantara kuno yang diselamatkan oleh leluhur Sunda.

Menurutnya, konflik identitas sering muncul karena sejarah Nusantara terlalu lama ditulis dari sudut pandang kolonial.

Belajar Sunda ke Bali?

Pernyataan paling kontroversial sekaligus reflektif datang dari Ida Pandita:

Jika ingin mengenal jati diri Sunda sejati, belajarlah ke Bali.

Pernyataan ini bukan merendahkan Tatar Sunda hari ini, melainkan mengajak masyarakat Sunda untuk menggali kembali akar yang tersimpan rapi di Bali.

Rekonsiliasi Sejarah Nusantara

Hubungan Sunda Galuh dan Bali bukan isu identitas sempit. Ia adalah pintu masuk untuk rekonsiliasi sejarah Nusantara, menghubungkan kembali warisan budaya yang terpisah oleh zaman, politik, dan persepsi.

Melalui kajian yang jujur, terbuka, dan ilmiah, bangsa Indonesia dapat memahami bahwa perbedaan budaya hari ini sejatinya berasal dari akar yang sama.***(SB)

Redaksi SUPERSEMAR NEWS Mengungkap Sejarah, Menjaga Jati Diri Bangsa.