
Hari Kebangkitan Nasional ke-118: Menjaga Tunas Bangsa, Meneguhkan Kedaulatan Negara
Ditulis oleh: Sangga Buana
SUPERSEMAR NEWS – Tanggal 20 Mei kembali hadir sebagai penanda sejarah penting perjalanan bangsa Indonesia. Pada tahun 2026 ini, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional atau Harkitnas yang telah memasuki usia ke-118 tahun. Sebuah usia panjang yang tidak lahir dari perjalanan singkat, melainkan dari perjuangan, pengorbanan, pemikiran besar, hingga air mata para pendiri bangsa yang menginginkan Indonesia berdiri tegak sebagai negara merdeka dan berdaulat.
Momentum ini berawal dari berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Organisasi tersebut menjadi titik awal kesadaran kolektif bangsa Indonesia untuk bangkit dari penjajahan, ketertinggalan, serta keterpecahan antarsuku dan golongan. Untuk pertama kalinya, rakyat Nusantara mulai menyadari bahwa mereka memiliki satu tujuan besar, yakni menjadi bangsa yang merdeka dan bermartabat.
Namun demikian, Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar peringatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, Harkitnas adalah cermin untuk melihat sejauh mana bangsa ini telah berkembang, sekaligus menjadi pengingat tentang apa yang masih harus diperjuangkan demi masa depan Indonesia.

Kebangkitan Nasional Bukan Hanya Tentang Masa Lalu
Sering kali masyarakat memahami kebangkitan nasional hanya sebatas kisah sejarah di ruang kelas sekolah. Padahal, semangat kebangkitan nasional sejatinya adalah energi yang harus terus hidup dalam setiap generasi.
Jika pada tahun 1908 bangsa ini bangkit melawan penjajahan fisik, maka pada tahun 2026 Indonesia menghadapi bentuk penjajahan baru yang jauh lebih kompleks. Tantangan hari ini bukan lagi sekadar kolonialisme bersenjata, melainkan perang ekonomi, perang informasi, krisis moral, penyebaran hoaks, ketimpangan pendidikan, hingga ancaman lunturnya identitas kebangsaan.
Oleh sebab itu, tema Harkitnas ke-118 tahun ini, yakni “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, menjadi sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Tema tersebut bukan hanya slogan formalitas. Sebaliknya, tema ini mengandung pesan mendalam bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya.
Tunas Bangsa Adalah Penentu Masa Depan Indonesia
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya sumber daya alam. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menyiapkan generasi penerus berkualitas, berintegritas, dan memiliki rasa cinta terhadap tanah airnya.
Indonesia memiliki bonus demografi yang sangat besar. Jumlah generasi muda produktif saat ini menjadi peluang emas untuk membawa Indonesia menuju negara maju. Akan tetapi, bonus demografi juga dapat berubah menjadi bencana apabila generasi mudanya kehilangan arah, kehilangan karakter, dan kehilangan rasa nasionalisme.
Di era digital seperti sekarang, tantangan generasi muda semakin berat. Mereka hidup di tengah derasnya arus informasi tanpa batas. Teknologi memang memberikan kemudahan, tetapi di sisi lain juga menghadirkan ancaman serius terhadap mental, moral, serta identitas kebangsaan.
Media sosial misalnya, telah menjadi ruang yang sangat berpengaruh terhadap pola pikir generasi muda. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar membawa dampak positif. Banyak konten yang justru menormalisasi kebencian, perpecahan, konsumtif, bahkan penghinaan terhadap bangsa sendiri.
Karena itulah, menjaga tunas bangsa hari ini tidak cukup hanya dengan pendidikan formal. Indonesia membutuhkan pendidikan karakter, pendidikan moral, dan pendidikan kebangsaan yang kuat agar generasi muda tidak tercerabut dari akar identitas nasionalnya.
Program pembangunan karakter generasi muda juga terus didorong melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia serta Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia yang berfokus pada pembinaan pemuda Indonesia.
Nasionalisme Harus Relevan dengan Zaman
Nasionalisme tidak boleh dipahami secara sempit hanya dengan upacara bendera atau menyanyikan lagu kebangsaan. Nasionalisme modern harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang relevan dengan perkembangan zaman.
Hari ini, bentuk cinta terhadap bangsa dapat diwujudkan dengan berbagai cara. Misalnya melalui inovasi teknologi, menciptakan lapangan kerja, menjaga persatuan di ruang digital, mendukung produk dalam negeri, hingga melawan penyebaran disinformasi.
Generasi muda Indonesia harus sadar bahwa mempertahankan kedaulatan negara tidak selalu dilakukan dengan mengangkat senjata. Di era modern, kedaulatan juga dipertaruhkan dalam sektor ekonomi, pangan, energi, pendidikan, hingga teknologi digital.
Jika Indonesia terus bergantung pada produk asing tanpa membangun kekuatan nasional sendiri, maka kedaulatan bangsa akan perlahan melemah. Oleh karena itu, kebangkitan nasional abad ke-21 harus diarahkan pada kemandirian bangsa dalam berbagai sektor strategis.
Indonesia Tidak Boleh Kehilangan Jati Diri
Kemajuan teknologi memang penting. Akan tetapi, Indonesia tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang berbudaya, beradab, dan menjunjung tinggi nilai gotong royong.
Salah satu ancaman terbesar bangsa saat ini adalah krisis identitas. Banyak generasi muda yang lebih mengenal budaya luar dibandingkan budaya bangsanya sendiri. Mereka hafal tren asing, tetapi tidak mengenal sejarah perjuangan bangsanya.
Fenomena ini tentu menjadi alarm serius bagi masa depan Indonesia. Sebab bangsa yang melupakan sejarahnya akan mudah kehilangan arah.
Presiden pertama Indonesia, Soekarno pernah mengingatkan bangsa ini dengan istilah “JAS MERAH” atau jangan sekali-kali melupakan sejarah. Pesan tersebut tetap relevan hingga hari ini.
Maka dari itu, peringatan Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi momentum untuk kembali menanamkan nilai sejarah kepada generasi muda. Mereka harus memahami bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lahir secara instan. Ada darah, pengorbanan, dan perjuangan panjang yang melatarbelakanginya.
Pendidikan Menjadi Kunci Kebangkitan Bangsa
Tidak ada bangsa besar tanpa pendidikan yang kuat. Sejarah membuktikan bahwa lahirnya kebangkitan nasional juga diawali oleh kaum terpelajar yang memiliki kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan.
Boedi Oetomo sendiri lahir dari gagasan para pelajar School tot Opleiding van Indische Artsen atau STOVIA yang memiliki cita-cita besar membangun bangsa melalui pendidikan.

Karena itu, Indonesia hari ini harus memastikan bahwa pendidikan tidak hanya dapat diakses, tetapi juga berkualitas dan merata.
Masih banyak daerah di Indonesia yang mengalami ketimpangan pendidikan. Masih ada anak-anak yang kesulitan mendapatkan fasilitas belajar memadai. Bahkan di beberapa wilayah, akses internet dan tenaga pengajar masih menjadi persoalan utama.
Apabila kondisi ini terus dibiarkan, maka cita-cita menuju Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai.
Kebangkitan Nasional Harus Dimulai dari Persatuan
Indonesia adalah negara besar dengan keberagaman luar biasa. Bangsa ini terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, dan budaya. Oleh sebab itu, persatuan menjadi pondasi utama dalam menjaga keutuhan negara.
Sayangnya, beberapa tahun terakhir masyarakat Indonesia sering dihadapkan pada polarisasi sosial dan politik yang tajam. Perbedaan pilihan politik kerap berubah menjadi permusuhan. Media sosial bahkan sering dipenuhi ujaran kebencian yang memecah belah bangsa.
Padahal, para pendiri bangsa telah mengajarkan bahwa Indonesia hanya dapat berdiri kuat apabila seluruh rakyat bersatu.
Semangat persatuan tersebut tercermin dalam Sumpah Pemuda yang menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.
Maka, kebangkitan nasional hari ini harus dimulai dengan menghentikan budaya saling membenci. Indonesia membutuhkan kolaborasi, bukan perpecahan.
Nilai-nilai persatuan dan wawasan kebangsaan juga terus diperkuat melalui Badan Pembinaan Ideologi Pancasila sebagai lembaga pembinaan ideologi negara.
Korupsi Masih Menjadi Musuh Besar Bangsa
Di tengah semangat kebangkitan nasional, Indonesia juga harus berani menghadapi persoalan besar yang masih menghambat kemajuan bangsa, yakni korupsi.
Korupsi bukan hanya soal kerugian negara. Lebih dari itu, korupsi adalah pengkhianatan terhadap cita-cita perjuangan bangsa.
Bagaimana mungkin Indonesia dapat maju jika anggaran pendidikan dikorupsi, bantuan sosial diselewengkan, dan kekuasaan digunakan untuk kepentingan pribadi?
Kebangkitan nasional sejati harus dimulai dari integritas. Para pejabat negara harus sadar bahwa jabatan adalah amanah, bukan alat memperkaya diri.
Pemberantasan korupsi di Indonesia terus dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi yang informasinya dapat diakses melalui KPK RI.
Ekonomi Kerakyatan Harus Diperkuat
Selain pendidikan dan moralitas, kebangkitan nasional juga harus menyentuh aspek ekonomi rakyat.
Masih banyak masyarakat Indonesia yang hidup dalam kesulitan ekonomi. Ketimpangan sosial masih menjadi persoalan nyata di berbagai daerah.
Karena itu, pembangunan nasional tidak boleh hanya berpusat di kota besar. Negara harus memastikan bahwa kesejahteraan dapat dirasakan hingga pelosok daerah.
UMKM, petani, nelayan, dan pelaku ekonomi kecil harus mendapatkan perhatian serius. Sebab merekalah tulang punggung ekonomi nasional.
Penguatan ekonomi rakyat dapat dipelajari melalui Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia dan Bank Indonesia yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Generasi Muda Harus Menjadi Pelopor Perubahan
Hari Kebangkitan Nasional ke-118 harus menjadi momentum lahirnya generasi muda baru yang berani membawa perubahan positif bagi bangsa.
Indonesia membutuhkan anak muda yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu berkarya. Bangsa ini membutuhkan pemuda yang memiliki keberanian moral, kreativitas, serta kepedulian sosial.
Di tengah pesimisme yang kadang muncul terhadap kondisi bangsa, generasi muda harus tetap optimistis. Sebab sejarah membuktikan bahwa perubahan besar bangsa ini selalu lahir dari anak-anak muda.
Boedi Oetomo lahir dari kaum muda. Sumpah Pemuda digelorakan oleh anak muda. Bahkan perjuangan kemerdekaan Indonesia juga banyak dipelopori oleh generasi muda.
Artinya, masa depan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas pemudanya hari ini.
Menjaga Kedaulatan Negara di Tengah Dunia yang Berubah
Dunia saat ini sedang berubah sangat cepat. Persaingan global semakin ketat. Krisis ekonomi, konflik geopolitik, perang teknologi, hingga perubahan iklim menjadi tantangan nyata bagi seluruh negara.
Indonesia tidak boleh lengah menghadapi perubahan tersebut. Bangsa ini harus memperkuat ketahanan nasional di berbagai sektor.
Kedaulatan pangan, kedaulatan energi, dan kedaulatan digital harus menjadi prioritas besar Indonesia ke depan. Sebab tanpa kemandirian nasional, Indonesia akan mudah tergantung pada kekuatan asing.
Kebangkitan Nasional Harus Menjadi Gerakan Bersama
Pada akhirnya, Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya milik pemerintah. Kebangkitan bangsa adalah tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia.
Guru memiliki peran membangun karakter generasi muda. Orang tua memiliki peran menanamkan nilai moral. Media memiliki tanggung jawab menjaga kualitas informasi. Tokoh masyarakat memiliki kewajiban merawat persatuan. Sementara generasi muda memiliki tugas meneruskan cita-cita bangsa.
Semua elemen harus bergerak bersama.
Indonesia tidak membutuhkan pesimisme berkepanjangan. Indonesia membutuhkan harapan, kerja keras, dan semangat gotong royong untuk menghadapi masa depan.
Bangsa ini pernah dijajah ratusan tahun, tetapi mampu bangkit dan merdeka. Maka tidak ada alasan bagi Indonesia untuk menyerah menghadapi tantangan zaman.
Harkitnas ke-118: Menyalakan Harapan Baru Indonesia
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 tahun 2026 harus menjadi momentum untuk menyalakan kembali optimisme bangsa.
Indonesia adalah negara besar dengan potensi luar biasa. Negeri ini kaya sumber daya alam, budaya, dan manusia. Namun potensi tersebut hanya akan menjadi angka statistik apabila tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, semangat kebangkitan nasional harus diterjemahkan dalam tindakan nyata. Mulai dari membangun pendidikan, memperkuat ekonomi rakyat, memberantas korupsi, menjaga persatuan, hingga menyiapkan generasi muda yang unggul.
Tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” bukan hanya slogan peringatan tahunan. Tema ini adalah pesan moral bahwa masa depan Indonesia berada di tangan generasi penerus bangsa.
Apabila tunas bangsa dijaga dengan baik, maka Indonesia akan tumbuh menjadi negara kuat dan berdaulat. Akan tetapi, apabila generasi mudanya kehilangan arah, maka bangsa ini akan menghadapi ancaman serius di masa depan.
Oleh sebab itu, Hari Kebangkitan Nasional ke-118 harus menjadi titik refleksi bersama. Sudah sejauh mana kita menjaga bangsa ini? Sudahkah kita menjadi bagian dari kebangkitan Indonesia?
Pertanyaan tersebut harus dijawab bukan dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan nyata demi Indonesia yang lebih maju, adil, dan bermartabat.
Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-118.
Mari menjaga tunas bangsa demi tegaknya kedaulatan negara.
Karena Indonesia yang besar tidak lahir dari generasi yang menyerah, melainkan dari generasi yang terus bangkit melawan segala keterbatasan demi masa depan bangsa.
SupersemarNewsTeam
