Puluhan aktivis pro-Palestina dari Global Sumud Flotilla dipaksa berlutut dengan tangan terikat saat ditahan pasukan Israel di pelabuhan Ashdod. Video perlakuan terhadap aktivis Gaza tersebut memicu kecaman dunia internasional terhadap Menteri Israel Itamar Ben-Gvir dan kebijakan blokade Gaza.

SUPERSEMAR NEWS – Pemerintah Israel kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video yang memperlihatkan para aktivis pro-Palestina dipaksa berlutut dengan tangan terikat di belakang punggung mereka di pelabuhan Ashdod. Video tersebut memicu gelombang kecaman global karena dianggap mempermalukan para aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam armada bantuan menuju Gaza.

Dalam video yang beredar luas di media sosial itu, Ben-Gvir terlihat mengibarkan bendera Israel sambil mengejek para aktivis yang baru saja ditangkap pasukan angkatan laut Israel di Laut Mediterania. Lagu kebangsaan Israel diputar melalui pengeras suara ketika puluhan aktivis dipaksa berlutut di dek kapal dan area penahanan.

Aksi tersebut langsung memantik kemarahan dunia internasional. Negara-negara Barat yang selama ini dikenal memiliki hubungan dekat dengan Israel, seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Kanada, Australia, hingga Austria, secara terbuka mengutuk perlakuan terhadap para aktivis armada bantuan kemanusiaan tersebut.

Armada Bantuan Gaza Dicegat di Laut Mediterania

Armada yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla diketahui berlayar dari Turki pada Kamis, 14 Mei 2026. Lebih dari 50 kapal kecil membawa ratusan aktivis dari lebih 40 negara dengan misi menembus blokade maritim Israel terhadap Gaza yang telah berlangsung hampir dua dekade.

Selain membawa aktivis kemanusiaan dan jurnalis internasional, armada tersebut juga mengangkut bantuan berupa makanan, susu formula bayi, obat-obatan, hingga perlengkapan medis untuk warga Palestina di Gaza.

Namun, ketika armada mendekati wilayah perairan sekitar Siprus pada Senin, 18 Mei 2026, pasukan komando angkatan laut Israel mulai melakukan pencegatan. Menurut penyelenggara Global Sumud Flotilla, sejumlah kapal ditembaki meriam air dan ditabrak secara sengaja.

Pihak penyelenggara menuding Israel melakukan “agresi ilegal di laut internasional”. Sebaliknya, Kementerian Luar Negeri Israel mengklaim pihaknya hanya menjalankan penegakan blokade laut yang disebut “sah secara hukum internasional”.

Israel juga menuduh armada bantuan tersebut hanya menjadi “aksi propaganda” untuk mendukung Hamas.

Video Ben-Gvir Picu Kemarahan Dunia

Kontroversi semakin membesar ketika Itamar Ben-Gvir mengunggah video penahanan para aktivis dengan narasi “Selamat datang di Israel”.

Video itu memperlihatkan para aktivis diperlakukan secara represif. Sebagian terlihat dipaksa berlutut di tanah dengan tangan diikat di belakang punggung. Dalam rekaman lainnya, seorang aktivis perempuan terdengar berteriak “Free Palestine” ketika didorong aparat keamanan.

Ben-Gvir bahkan terlihat berdiri di hadapan para tahanan sambil berkata dalam bahasa Ibrani:

Selamat datang di Israel. Kami adalah penguasanya.”

Pernyataan itu langsung memicu kritik keras dari berbagai negara dan organisasi hak asasi manusia internasional.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyebut perlakuan terhadap para aktivis sebagai tindakan yang merendahkan martabat manusia.

Perlakuan terhadap aktivis Global Sumud sangat memalukan dan tidak dapat diterima,” tegasnya.

Menurut Kallas, tindakan Ben-Gvir tidak mencerminkan perilaku seorang pejabat negara demokratis.

Netanyahu Ambil Jarak dari Ben-Gvir

Di tengah derasnya tekanan internasional, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akhirnya ikut bersuara. Dalam pernyataan resminya, Netanyahu mengakui Israel memiliki hak mencegah armada bantuan memasuki Gaza, namun ia menyebut tindakan Ben-Gvir tidak sesuai dengan norma Israel.

Cara Menteri Ben-Gvir menangani para aktivis tidak sejalan dengan nilai-nilai Israel,” kata Netanyahu.

Pernyataan itu dianggap sebagai kritik langka terhadap Ben-Gvir yang selama ini dikenal sebagai tokoh ultra-nasionalis paling kontroversial di kabinet pemerintahan Netanyahu.

Meski demikian, Netanyahu tetap menegaskan bahwa Israel akan segera mendeportasi seluruh aktivis asing yang ikut dalam armada bantuan tersebut.

Australia Murka, Duta Besar Israel Dipanggil

Kecaman paling keras datang dari pemerintah Australia karena sedikitnya 11 warga negaranya ikut ditahan.

Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menyebut video yang diunggah Ben-Gvir sebagai tindakan “mengejutkan dan tidak manusiawi”.

Australia langsung meminta Duta Besar Israel memberikan penjelasan resmi dan mendesak pembebasan seluruh warga Australia yang ditahan.

Israel wajib memastikan tidak ada perlakuan buruk terhadap para tahanan dan harus mematuhi kewajiban internasional,” tegas Penny Wong.

Sebelumnya, Australia juga telah menjatuhkan sanksi terhadap Ben-Gvir karena dianggap mendorong ekstremisme politik di kawasan Timur Tengah.

Austria dan Inggris Ikut Bereaksi

Pemerintah Austria juga mengecam keras video penahanan tersebut. Menteri Luar Negeri Austria, Beate Meinl-Reisinger, menyatakan perlakuan terhadap para aktivis “sama sekali tidak dapat diterima”.

Austria bahkan memanggil Kedutaan Besar Israel di Wina untuk menyampaikan protes resmi.

Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyebut video tersebut memperlihatkan “adegan yang benar-benar memalukan”.

Pemerintah Inggris mengaku tengah memberikan dukungan konsuler kepada sejumlah warga negaranya yang ikut ditahan dalam armada bantuan tersebut.

Kanada Sebut Perlakuan Israel “Mengerikan”

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, juga mengecam tindakan Israel.

Menurut Carney, penghormatan terhadap martabat manusia harus dijunjung tinggi dalam kondisi apa pun, termasuk di tengah konflik perang.

Kanada langsung memanggil duta besar Israel sebagai bentuk protes diplomatik atas insiden tersebut.

Selain Kanada, negara-negara seperti Belgia, Belanda, Italia, dan Spanyol juga menyatakan kecaman serupa.

Dugaan Pelanggaran Hukum Internasional

Kelompok hak asasi manusia di Israel menilai penangkapan para aktivis di laut internasional dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum internasional.

Menurut mereka, kapal-kapal bantuan tersebut dicegat jauh dari wilayah perairan Israel, tepatnya sekitar 250 mil laut dari pantai Gaza.

Tim hukum yang mewakili para aktivis kini tengah mengajukan gugatan atas legalitas penahanan tersebut.

Mereka juga menuntut pembebasan segera seluruh aktivis dan jurnalis internasional yang masih ditahan di pelabuhan Ashdod.

Para pengamat hubungan internasional menilai insiden ini berpotensi memperburuk citra Israel di tengah meningkatnya tekanan global terhadap operasi militernya di Gaza.

Gaza Masih Dilanda Krisis Kemanusiaan

Armada bantuan Global Sumud muncul di tengah memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza pasca perang panjang antara Israel dan Hamas.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagian besar warga Gaza masih hidup di pengungsian dengan akses terbatas terhadap air bersih, listrik, layanan kesehatan, dan sanitasi.

PBB menyebut banyak keluarga Palestina masih tinggal di tenda darurat atau bangunan rusak akibat perang.

Selain itu, distribusi bantuan kemanusiaan juga terus menghadapi hambatan akibat pembatasan impor dan pemeriksaan ketat oleh otoritas Israel.

Meski Israel mengklaim lebih dari 1,5 juta ton bantuan telah masuk ke Gaza selama tujuh bulan terakhir, organisasi kemanusiaan internasional menilai distribusi bantuan masih jauh dari kebutuhan riil masyarakat sipil.

Aktivis dan Jurnalis Jadi Sorotan Dunia

Penahanan para aktivis dan jurnalis internasional ini kini menjadi perhatian dunia karena dianggap menyangkut kebebasan sipil dan hak asasi manusia.

Sejumlah organisasi pers internasional mulai mendesak Israel memberikan akses hukum dan perlindungan terhadap jurnalis yang ikut dalam armada bantuan tersebut.

Para analis politik Timur Tengah menilai langkah represif Israel justru memperbesar simpati internasional terhadap perjuangan warga Palestina di Gaza.

Di media sosial, tagar seperti #FreeFlotilla, #FreePalestine, dan #GazaUnderSiege menjadi trending global setelah video Ben-Gvir tersebar luas.

Gelombang tekanan diplomatik terhadap Israel diperkirakan akan terus meningkat apabila para aktivis tidak segera dibebaskan.

Sementara itu, organisasi Global Sumud Flotilla menegaskan bahwa misi kemanusiaan untuk Gaza tidak akan berhenti meski armada mereka dicegat.

Kami akan terus melawan blokade dan menyuarakan penderitaan rakyat Palestina,” tegas perwakilan Global Sumud Flotilla dalam pernyataan resminy

SupersemarNewsTeam
Penulis : Rifay Marzuki