Dalam peta dunia versi Ptolemaeus, wilayah ‘Sunda’ dan ‘Sahul’ tercatat jelas sebagai bagian dari peradaban kuno yang dikenal sejak abad pertama Masehi. Ini mendukung pernyataan Budi Dalton bahwa istilah Sunda bukan sekadar etnis di Jawa Barat, melainkan identitas wilayah besar yang diakui secara geografis dan historis sebagai bagian dari Sundaland.

SUPERSEMAR NEWS BOGOR – BANDUNG – Musisi sekaligus akademisi asal Bandung, Budi Dalton, menyoroti hilangnya nama “Sunda” dalam peta dan narasi geografis modern. Ia menyebutkan bahwa nama Sunda seolah sengaja dihapus, padahal memiliki jejak sejarah dan ilmiah yang kuat.

Paparan Sunda dalam Peta Lama

Dalam diskusinya, Budi menyebut istilah seperti Sundaland atau Paparan Sunda masih tercatat di peta kuno sejak abad ke-17 hingga akhir abad ke-20. Ia merujuk peta tahun 1667, 1755, hingga 1988 yang masih menyebut “Sunda Besar” dan “Sunda Kecil”.

Undang-Undang Darurat No. 9 Tahun 1954 mengubah nama Provinsi Sunda Kecil menjadi Nusa Tenggara,” ungkapnya, menyayangkan perubahan itu sebagai awal penghilangan identitas wilayah Sunda.

Sunda dalam Istilah Ilmiah

Selain peta, Budi juga mengkritik penerjemahan istilah ilmiah. Contoh seperti Panthera tigris sundaicus (Harimau Jawa) dan Rhinoceros sundaicus (Badak Jawa) memperlihatkan bahwa istilah “Sunda” tergeser menjadi “Jawa”.

“Apakah ini kesalahan terjemahan atau memang disengaja?” tanya Budi, sambil mengajak generasi muda menggali kembali sejarah peradaban Sunda.

Refleksi Sejarah dan Identitas

Budi, yang kini menjabat sebagai Dekan Fakultas Seni Universitas Pasundan, menilai pentingnya menghidupkan kembali narasi besar peradaban Sunda. Ia mengingatkan bahwa Sunda bukan sekadar etnis di Jawa Barat, melainkan bagian penting dari sejarah Nusantara.

Sebagai penutup, Budi menyindir, “Orang Bugis ada Sulawesi, orang Batak ada Sumatera, orang Sunda? Pulau Sunda sudah tenggelam.”

SupersemarNewsTeam
SanggaBuana