Penggunaan spacer inhaler membantu anak penderita asma menghirup obat lebih efektif, terutama saat gejala menyerang di rumah.

Penyakit Kronis yang Terabaikan
SUPERSEMAR NEWS BOGOR – Asma merupakan penyakit tidak menular (NCD) yang paling sering menyerang anak-anak. WHO mencatat, pada 2019, asma menginfeksi 262 juta orang dan menyebabkan 455 ribu kematian. Sayangnya, sebagian besar kematian terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah akibat kurangnya diagnosis dan pengobatan.

Gejala dan Penyebab
Gejala umum asma meliputi batuk, sesak napas, dada terasa berat, serta mengi. Penyakit ini makin parah saat malam atau saat berolahraga. Selain itu, faktor risiko seperti polusi udara, asap rokok, infeksi virus, serta faktor genetik turut meningkatkan kemungkinan seseorang menderita asma.

Penanganan dan Akses Terbatas
Asma memang tidak bisa disembuhkan, namun bisa dikendalikan dengan inhaler. Dua jenis inhaler yang umum adalah bronkodilator (misalnya salbutamol) dan steroid (misalnya beclometasone). Sayangnya, pada 2021, hanya setengah fasilitas kesehatan dasar di negara miskin yang menyediakan bronkodilator, dan hanya sepertiganya yang memiliki inhaler steroid.

Peran Edukasi dan Perawatan Mandiri
WHO menekankan pentingnya edukasi pasien tentang gejala, pemicu, serta cara merespons serangan asma. Dokter dapat memberikan rencana aksi asma untuk membantu penderita mengenali kondisi mereka dan menyesuaikan pengobatan secara mandiri.

Langkah WHO Tangani Asma
WHO telah mengintegrasikan asma dalam Global Action Plan NCDs dan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Melalui paket intervensi NCD (PEN), WHO mendukung layanan kesehatan primer dalam menangani penyakit pernapasan kronis. WHO juga memperkuat kampanye anti-rokok dan pelatihan tenaga medis terkait polusi udara.

Misi GARD: Bebas Napas untuk Semua
Inisiatif WHO juga didukung oleh GARD, aliansi global untuk penanggulangan penyakit pernapasan kronis. GARD bertujuan menciptakan dunia di mana semua orang bisa bernapas bebas.

SupersemarNewsTeam
Sumber:
WHO