Dalam rapat penguatan industri pertahanan ini, kami menegaskan kembali bahwa kemandirian Alpalhankam hanya dapat dicapai melalui sinergi, riset berkelanjutan, dan tata kelola yang kuat,” ujar Kresno Pratowo saat menyampaikan paparannya dalam forum resmi tersebut.

SUPERSEMAR NEWS – Polkam, Jakarta — Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) melalui Kedeputian Bidang Koordinasi Pertahanan Negara dan Kesatuan Bangsa menggelar Rapat Koordinasi Optimalisasi Industri Pertahanan untuk memperkuat kemandirian pemenuhan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) secara nasional.

Rapat strategis ini dihadiri kementerian dan lembaga terkait yang memiliki kewenangan dalam pengembangan Industri Pertahanan, termasuk unsur pengguna dan pemasok Alpalhankam.

Arah Kebijakan: Bangun Industri Pertahanan Mandiri

Dalam paparannya, Brigjen TNI (Mar) Kresno Pratowo, Asisten Deputi Koordinasi Kekuatan, Kemampuan, dan Kerja Sama Pertahanan, menegaskan bahwa industri pertahanan nasional yang tangguh adalah bagian penting dari sasaran pembangunan nasional.

Ia menekankan bahwa terciptanya industri pertahanan yang mandiri, maju, sehat, dan berdaya saing merupakan target strategis dalam Program Prioritas Pembangunan dan Pengembangan Industri Pertahanan yang telah diamanatkan dalam RPJMN 2025–2029.

“Dengan komitmen semua pihak, kami optimis industri pertahanan mampu mendukung pemenuhan Alpalhankam yang mandiri untuk mewujudkan Postur Pertahanan Negara yang optimal,” tegas Brigjen Kresno.

Temuan Lapangan: Manajemen Lemah hingga Litbangyasa Terkendala

Rapat ini merupakan tindak lanjut hasil kunjungan lapangan Kemenko Polkam ke sejumlah BUMNIS Pertahanan dan industri swasta.
Tim menemukan beberapa masalah mendasar, antara lain:

  • manajemen internal belum optimal
  • keterbatasan penguatan Penelitian, Pengembangan, dan Rekayasa (Litbangyasa)
  • performa produksi yang belum konsisten
  • ketergantungan teknologi impor

Masalah tersebut berdampak langsung terhadap daya saing industri pertahanan nasional.

Roadmap Riset Jangka Panjang Jadi Kunci

Brigjen Kresno menegaskan bahwa penguasaan teknologi pertahanan membutuhkan roadmap riset jangka panjang.
Hal ini penting untuk percepatan:

  • modernisasi teknologi
  • produksi berbasis inovasi
  • pengurangan impor komponen strategis

Selain itu, permodalan jangka panjang menjadi faktor penentu keberlanjutan industri.

Dialog Industri: Hambatan Produksi hingga Perluasan Pasar

Perwakilan industri pertahanan yang hadir — baik BUMNIS maupun swasta — memaparkan kendala utama mereka, mulai dari riset produk, sertifikasi, bahan baku, hingga akses pasar.

Pengguna Alpalhankam dari berbagai Kementerian dan Lembaga turut memberikan masukan terkait pengalaman penggunaan produk dalam negeri.
Kolaborasi ini diharapkan mempercepat integrasi antara kebutuhan operasional dan kapasitas industri.

Enam Aspek Strategis Penguatan Industri Pertahanan

Kemenko Polkam menekankan bahwa optimalisasi industri pertahanan tidak hanya bergantung pada dukungan dana. Ada enam aspek strategis yang harus diperkuat:

  1. ketersediaan bahan baku
  2. kualitas dan kompetensi SDM
  3. peningkatan mutu produk
  4. perluasan pasar domestik dan ekspor
  5. tata kelola yang baik
  6. pelibatan ekosistem industri pertahanan swasta

Selain itu, penyusunan rencana kebutuhan (renbut) dan rencana induk industri pertahanan menjadi landasan penting untuk perencanaan jangka panjang.

Sinergi Nasional Menuju Kemandirian Alpalhankam

Melalui sinergi kementerian, lembaga, industri, dan pengguna, Kemenko Polkam optimistis bahwa Indonesia dapat membangun industri pertahanan yang:

  • berkualitas
  • mandiri
  • berdaya saing global
  • mendukung postur pertahanan negara yang modern dan responsif

Upaya ini sekaligus memperkuat kemandirian Alpalhankam dalam menghadapi tantangan keamanan masa depan.

SupersemarNewsTeam