SupersemarNews – Badai inflasi yang melanda negara Mesir mengakibatkan tingkat kemiskinan tinggi dan daya beli masyarakat turun jatuh bebas sebebas- bebasnya.

Sehingga untuk sekedar makan enak seperti makan daging kambing, ayam , bebek, dan sebagainya, mereka tidak segan- segan dari kampung atau desa menuju kota untuk ikut berbuka puasa bersama (BUKBER) di kota.

“Sungguh ironis, slogan “Marhaban ya Ramadhan. Marhaban ya Ramadhan.” menunjukkan bahwa bulan Ramadan telah tiba, berbagai hiasan seperti lampu fanus turut mewarnai”Kata Vidi di Mesir, Minggu (23/3/2025).

Selain itu, kemeriahan Ramadhan di Mesir juga tak luput dari masyarakatnya, dimana mereka memiliki tradisi khas unik yang diperuntukkan sebagai wujud penyambutan bulan suci Ramadhan.

Salah satu tradisinya adalah, berlomba-lomba berbuat kebaikan, terutama dengan membagikan makanan untuk berbuka puasa.

Dalam berbuka, masyarakat di Negeri Piramida ini mengenal tradisi maidah rahman (hidangan kasih sayang atau hidangan Tuhan atau meja Al-Rahman), yakni hidangan yang dibagikan secara gratis untuk orang yang berpuasa, Ia sama seperti bagi-bagi takjil buka puasa jika kita bandingkan dengan di Indonesia.

Paket hidangan ini melambangkan rasa kasih di antara sesama muslim. Paket hidangan ini biasanya disediakan oleh masjid, rumah makan, hingga resto berbintang. Siapa pun yang berpuasa boleh mencicipinya, tanpa kecuali.

Menunya beragam, dari yang sederhana hingga makanan bercita rasa bintang lima. Dari hidangan manis hingga makanan utama yang terbuat dari daging sapi, daging kambing, ayam, hingga ikan, tersedia.

Sedangkan untuk minumannya, selalu tersedia susu, jus dan lainnya. Lantas, apa esensi adanya tradisi maidah rahman? serta bagaimana sejarah munculnya tradisi maidah rahman yang mulia ini hingga dapat terus berlanjut sampai saat ini.

Menurut pendapat warga lokal dikatakan, bahwa Maidatur Rahman bukan hanya ditujukan untuk orang miskin dan membutuhkan, akan tetapi juga untuk orang-orang yang dalam perjalanan seperti orang-orang yang pulang dari bekerja serta untuk para wafidin dan wafidat.

Maidah rahman atau meja makan Yang Maha Penyayang terus berlanjut diadakan pada masa Mamluk. Pada masa ini beberapa sultan mewakafkan harta bendanya untuk dibelanjakan segala keperluan meja makan tersebut.

Misalnya, Sultan Hassan bin Qalawun yang mewakafkan hartanya untuk membeli daging, sayur, beras, dan lain-lainnya.

Hal ini berlangsung sepanjang bulan, para penguasa setelahnya mencoba untuk tetap mempertahankan tradisi ini hingga tak hanya di halaman istana saja, melainkan di tempat-tempat umum juga, walaupun ukuran meja dan jumlah orang yang menghadirinya bervariasi dari satu periode ke periode lainnya.

Setelah revolusi tahun 1952, Dewan Redaksi organisasi politik yang didirikan oleh revolusi setelah pembubaran partai menyelenggarakan jamuan makan Al-Rahman di kegubernuran.

Pada tanggal 6 Juni 1953, bahwa adanya otoritas dari pemerintah untuk menyelenggarakan sarapan di kota Kafr Al-Dawwar.

Nampaknya, para pemegang otoritas ini berkerja sama dengan keluarga besarnya dalam mengatur meja- meja ini, sehingga berita tersebut mengindikasikan bahwa “wali” dalam keluarga harus menyiapkan meja makan Yang Maha Penyayang untuk dua malam.

Artinya, mengindikasikan bahwa telah disenggarakan jamuan buka puasa di lingkungan Kairo Lama (Old Cairo) yang dihadiri oleh banyak orang miskin, warga negara Kristen dan Yahudi guna untuk memperkuat hubungan antara anggota sekte ini. “Meja Yang Maha Penyayang” tidak terbatas di Kairo saja, tetapi juga meluas ke gubernuran dan wali kota yang berlangsung sepanjang bulan.

Contohnya, pada tahun 1960-an, Nasser Bank melakukan pendirian puluhan meja Al-Rahman sebagai salah satu aspek sosialnya.

Adapun meja-meja Al-Rahman yang paling terkenal sampai saat ini adalah hidangan di Masjid Al-Azhar, Al-Fath, dan Mustafa Mahmoud di Kairo, Masjid Al-Sayyid Al-Badawi di Tanta, dan Masjid Abdel Rahim Al-Qenawi di Qena.

Tak hanya itu, kadang-kadang pihak penyelenggara meja-meja ini mengirimkan makanan ke rumah-rumah para lansia dan orang-orang yang kondisinya tidak memungkinkan untuk hadir.

Akan tetapi, secara masifnya kita dapat menemukan meja Al-Rahman ini di sepanjang jalan perkotaan. Wal-akhir, Maidah Ar-Rahman di Mesir tetap menjadi tanda solidaritas sosial serta kasih sayang antar umat.(Abdulloh Hakim)