
SUPERSEMAR NEWS – JAKARTA, 18 April 2026 — Nasruddin Tueka, alumni Lemhannas RI Angkatan 52 yang fokus pada studi ekonomi dan isu-isu strategis, menilai bahwa eskalasi konflik global antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah mengubah lanskap geopolitik dan geoekonomi dunia secara signifikan. Dampak dari dinamika ini tidak hanya bersifat global, tetapi juga langsung memengaruhi sektor energi nasional Indonesia, khususnya dalam menjaga stabilitas pasokan minyak dan gas bumi (migas).
Di tengah tekanan tersebut, Indonesia menghadapi tantangan besar untuk mencapai target lifting nasional sebesar 1 juta barel per hari. Hingga saat ini, realisasi lifting masih berada di kisaran 610.000 barel per hari, menunjukkan adanya gap signifikan yang membutuhkan strategi terukur dan akseleratif.
Dalam analisisnya, Nasruddin menekankan bahwa kunci utama terletak pada penguatan strategi sektor hulu migas, terutama melalui optimalisasi peran SKK Migas dan fungsi Deputi Eksploitasi sebagai penggerak utama produksi nasional.
TEKANAN GEOPOLITIK DAN DAMPAKNYA PADA MIGAS
Konflik Iran–AS–Israel telah memicu ketidakpastian global yang berdampak langsung pada fluktuasi harga minyak dunia, rantai pasok energi, serta arah investasi global.
Selain itu, ketegangan ini menciptakan beberapa implikasi strategis:
- Gangguan distribusi minyak global
- Lonjakan harga energi
- Ketidakpastian investasi sektor hulu migas
- Perubahan arah kebijakan energi negara-negara besar
Akibatnya, Indonesia harus bergerak lebih cepat untuk memperkuat ketahanan energi domestik.

GAP LIFTING NASIONAL: MASALAH STRUKTURAL
Saat ini, tantangan utama sektor hulu migas Indonesia bukan hanya soal target, tetapi juga persoalan struktural.
Sebagian besar lapangan migas nasional telah memasuki fase mature field atau sumur tua. Produksi alami mengalami penurunan, sementara investasi eksplorasi belum mampu mengimbangi laju penurunan tersebut.
Oleh karena itu, dibutuhkan strategi agresif berbasis:
- Reaktivasi sumur tua
- Enhanced Oil Recovery (EOR)
- Optimalisasi fasilitas produksi
- Efisiensi operasional
PERAN KRUSIAL DEPUTI EKSPLOITASI
Nasruddin menegaskan bahwa posisi Deputi Eksploitasi di SKK Migas merupakan titik sentral dalam menentukan keberhasilan target lifting nasional.
Ia menilai jabatan ini harus diisi oleh figur profesional yang memiliki:
- Kompetensi teknis tinggi di bidang migas
- Pengalaman lapangan yang kuat
- Integritas dan akuntabilitas tinggi
- Kemampuan manajerial strategis
“Optimalisasi produksi hanya bisa dicapai jika kepemimpinan teknis berada di tangan yang tepat,” tegasnya.
STRATEGI TEKNIS: REAKTIVASI DAN EFISIENSI
Dalam jangka pendek, strategi paling realistis adalah mengoptimalkan lapangan yang sudah ada.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan meliputi:
1. Reaktivasi Sumur Tua
Sumur-sumur yang tidak produktif harus dihidupkan kembali dengan teknologi baru.
2. Optimalisasi MRO
Maintenance, Repair, and Operation harus diperkuat untuk menjaga keandalan fasilitas produksi.
3. Penguatan PoD (Plan of Development)
Setiap wilayah kerja harus memiliki rencana pengembangan yang realistis dan terukur.
INVESTASI: MENUNGGU KEBIJAKAN PROGRESIF
Di sisi lain, investor migas global masih menahan diri. Mereka menunggu kepastian regulasi dari pemerintah, khususnya dari Kementerian ESDM dan SKK Migas.
Beberapa isu yang menjadi perhatian investor antara lain:
- Skema bagi hasil yang kompetitif
- Kepastian hukum kontrak
- Insentif fiskal
- Kemudahan perizinan
Tanpa perbaikan kebijakan, target lifting akan sulit tercapai.
7 STRATEGI KUNCI KEJAR TARGET 1 JUTA BAREL
Nasruddin mengusulkan tujuh langkah strategis untuk mendorong peningkatan produksi migas nasional:
- Insentif Produksi
- Optimalisasi Brown Field
- Eksplorasi Giant Discovery
- Sinergi Eksploitasi–Eksplorasi
- Skema Predefined Area
- Kemitraan Investasi
- Transformasi SDM dan Teknologi
SDM MIGAS: FAKTOR PENENTU
Selain teknologi, faktor manusia menjadi kunci utama.
Indonesia membutuhkan SDM migas yang:
- Berpengalaman internasional
- Adaptif terhadap teknologi baru
- Berintegritas tinggi
- Mampu bekerja dalam kultur multinasional
Nasruddin juga menekankan pentingnya penerapan merit system dalam pengisian jabatan strategis sektor energi.
TKDN DAN KEMANDIRIAN ENERGI
Dalam jangka panjang, pemerintah didorong meningkatkan TKDN hingga 80% guna:
- Mengurangi ketergantungan impor
- Meningkatkan industri nasional
- Menciptakan lapangan kerja
- Memperkuat kemandirian energi

SINERGI NASIONAL MENUJU KETAHANAN ENERGI
Target lifting 1 juta barel bukan sekadar angka, tetapi simbol kedaulatan energi Indonesia.
Keberhasilannya bergantung pada sinergi antara:
- Pemerintah
- SKK Migas
- Kontraktor
- Investor
- SDM nasional
MOMENTUM ATAU KRISIS?
Indonesia kini berada di titik krusial.
Apakah mampu memanfaatkan momentum geopolitik untuk memperkuat sektor energi, atau justru semakin bergantung pada impor?
Menurut Nasruddin Tueka, jawabannya terletak pada keberanian dalam mengambil kebijakan strategis berbasis kepentingan nasional.
Jika dijalankan secara konsisten, target 1 juta barel per hari bukan hal mustahil.***(SB)
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
