
SUPERSEMAR NEWS – Jakarta – Penurunan potongan komisi ojek online (ojol) dari 20 persen menjadi 10 persen memicu perdebatan di kalangan pengemudi. Tidak semua komunitas menyambut baik kebijakan yang disetujui pemerintah dan DPR.
Komunitas Ojol Utara Tolak Komisi 10 Persen
Koordinator Wilayah Ojol Jakarta Utara, Mansyur, menegaskan bahwa sekitar 2.000 anggotanya tetap mendukung potongan 20 persen. Menurutnya, sistem lama justru memberikan perlindungan yang lebih nyata, seperti asuransi kecelakaan, bantuan kesehatan, hingga dukungan perawatan kendaraan.
“Kalau dipotong 10 persen, benefit-benefit itu hilang. Asuransi, ganti oli, ganti ban, semua pasti enggak ada. Jadi yang dirugikan justru kita sendiri,” ujarnya, Kamis (18/9/2025).
Dampak Negatif Bagi Driver
Mansyur menilai, pemangkasan komisi tidak otomatis meningkatkan penghasilan pengemudi. Sebaliknya, kebijakan itu dikhawatirkan mengurangi promo, orderan, dan perlindungan bagi mitra.
Selain itu, ia menyesalkan keputusan DPR RI yang dianggap terburu-buru tanpa melibatkan aspirasi komunitas ojol aktif di lapangan.
“Pemerintah harus turun. Maksudnya apa teriakan segelintir orang itu? Kita harus bicara terbuka dengan data, dengan driver-driver yang benar-benar narik,” tegasnya.
Fokus Kerja, Tolak Demo
Mansyur dan komunitasnya memilih tidak ikut aksi demonstrasi di depan DPR. Mereka lebih memilih tetap mencari order demi menafkahi keluarga.
“Tidak. Lebih baik tetap fokus on bid untuk keluarga,” ujarnya.
Usul Forum Diskusi Terbuka
Sebagai solusi, Mansyur mendorong agar pemerintah bersama DPR mengadakan Forum Group Discussion (FGD) dengan melibatkan komunitas ojol aktif. Tujuannya agar kebijakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
SupersemarNewsTeam
Reporter: R/Rifay Marzuki
