
Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Ketua Kwarnas pertama, tampil dengan seragam Pramuka dan tanda kehormatan, menjadi teladan rendah hati bagi Gerakan Pramuka Indonesia.
SUPERSEMAR NEWS – Sri Sultan Hamengkubuwono IX dikenal luas sebagai tokoh bangsa yang rendah hati. Selain menjadi Raja Yogyakarta, beliau juga tercatat sebagai Ketua pertama Kwarnas Gerakan Pramuka. Teladannya masih relevan hingga kini, terutama bagi para pembina Pramuka.
Seorang Raja Ikut Kursus Pembina
Kisah masyhur menceritakan Sri Sultan pernah mengikuti Kursus Mahir Pembina Pramuka. Padahal, beliau seorang raja sekaligus tokoh nasional. Namun, Sultan tetap patuh pada aturan kursus. Bahkan, ketika kelompoknya kalah dalam permainan, beliau bersedia menggendong peserta lain sebagai konsekuensi.
Cerita ini dituturkan oleh Kak Joko Mursitho, mantan Kapusdiklatnas, dan pernah ditulis di Majalah Kwarnas pada 1978. Kisah tersebut menggambarkan kerendahan hati seorang pemimpin yang tidak mencari keistimewaan.
Keteladanan yang Menginspirasi
Tindakan Sri Sultan bukanlah hal baru. Beliau dikenal sederhana, bahkan saat ditilang polisi lalu lintas, Sultan meminta agar diproses sebagaimana mestinya, tanpa perlakuan khusus. Hal ini menunjukkan sikap konsisten seorang pemimpin yang mengutamakan teladan.
Sikap seperti ini seharusnya menjadi cermin bagi para calon pembina. Sayangnya, masih ada peserta kursus yang meminta perlakuan istimewa karena jabatan atau status sosial. Padahal, semangat Pramuka menuntut semua anggota diperlakukan setara.
VIP Ikut Kursus Tanpa Keistimewaan
Belakangan, teladan serupa juga terlihat dari beberapa pejabat negara. Ada seorang wakil bupati yang mengikuti Kursus Pelatih Pembina Pramuka tanpa protokoler. Bahkan, seorang jenderal bintang tiga TNI pun rela mengikuti KMD di Lampung dengan disiplin penuh.
Kehadiran figur-figur ini membuktikan bahwa pendidikan orang dewasa dalam Gerakan Pramuka harus berjalan adil bagi semua peserta. Inilah esensi dari kawah candradimuka pembinaan generasi.
Pesan untuk Pembina Pramuka
Jika memutuskan mengikuti kursus, tinggalkan jabatan dan status sosial di luar arena. Masuklah dengan hati terbuka, jalani seluruh proses, lalu pulang dengan pengalaman baru untuk membina bangsa.
“Ikhlaskan baktimu selalu, sebagai putera pertiwi, binalah bangsa dan berbudi, bawa laksana.”
Baca juga:
SupersemarNewsTeam
SanggaBuana
